Translate

Selasa, 27 Maret 2012

10 November




Menarik asa pada dahulu penuh peluru
Darah segar tercecer asal merah putih berkibar
Berkibar sejati tak ada yang menurunkannya lagi
Lagi dan lagi pahlawan tak mengenal nyawanya
Nyawa dan nyawa di tepis begitu saja demi
Terikrar proklamasi 1945.

10 November…
Tumpah melebur kecintaanmu terhadap Negara.
Berkeping-keping luka fisik kau tak dirasa
Berkantong semangat kau setia pada barisan tombak merdeka
Merdeka adalah hasil dari berkas ksatriamu
Walau kematian rekanmu menabung kepiluan.

10 November…
Pahlawan di atas singgasana surga
Syahidmu terkenang dalam relungan penerusmu
Terekam penuh ambisiusmu mengusir penjajah.

10 November…
Bagaimana menurutmu Negaramu kini ?

Sebongkah Penyesalan Yang Terlambat




Ketika lentera berubah kelam
Dan langit pun kian tak bersahabat
Bumi seakan muak akan ulah makhluk biadab,
Manusia tak bertanggung jawab
Membuat dan merusak, mengabaikan nasib bumi nyaris memperihatinkan
Dimana akhlak pekerti manusia modern sekarang ?
Kian merosot merapat dengan kebengisan
Tak ada lagi ganjal secuil naluri untuk
Mempertahankan titipan Allah yang kuasa
Semua beranggap angin senja lewat tanpa permisi
Wahai mausia, insan berakal…
Ingatkah tentang karunia untukmu
Berada di sebuah ranah bernaung yaitu bumi
Bukankah itu suatu kenikmatan yang patut di syukuri
Duhai anak cucu adam...
Andai, dikau terlempar ke planet yang
Tak punyai titik kehidupan

Kau kan mati terbakar,
gosong berarang mengenaskan berabu.
Wahai manusia, belimpah ribuan akal…
Masih tersisipkah di relungmu
Tentang keadaan bumi
Sadarkah, Allah semakin murka!
Wahai manusia, tempatnya salah bersemayam khilaf…
Tersesal, kau menyesal di kemudian hari
Pasti kau lupa!
Tentang hutan yang semakin menghitam
Langksana malam di gelap gulita
Bumi pengap tak ada sulur cahaya keteduhan lagi
Dan lautan memuntahkan debit-debit memilukan
Sang surya seakan di ujung ubun-ubun
Membakar kerasnya hati
Sadarkah itu peringatan tuhan
dan kau masih menepisnya.
Kehendak dan perjanjian tuhan dngan jagat raya telah tiba
Dan hari penghabisan waktu telah usai
Kau masih betanya seakan belum mengerti
Akan hari demikian?
Ituah hari akhir, kelak pasti kan dating
Hari  yang kejam…
Kau kan terenyahkan bagai anai-anai betebaran menjadi setitk debu.
Ya Allah…
Hamba makhluk dha’if berdosa
Menyesal memaki diri menuai sedih berkesinambungan
Refleks jiwa meronta hati ‘’Ampuni aku’’
Ya Allah…
Aku menyesal , dalam penyesalan yang terlambat.

Kalimat Sendu dari Rakyat



Rakyat-rakyat bertaburan
Entah itu mereka berada di istana mewah, sederhana,
Gubuk atau lorong jembatan usang beralas kardus basah.
Membisikkan serangkai kata pilu tentang roda hidup.
Rakyat mewah berkata dengan senyum gagah
Sedang rakyat jelata berkata dengan air matanya...
Air mata-air mata luka,
Kalimat sendu-kalimat sendu mereka merana.
Tentang gubuk pesakitan
Ilmu yang karam
Tinggal buih kebodohan…
Tak upaya mereka mengadu pada pemerintah
Sedang pemerintah berkeliling atas meja bundar atau segi empat
Merumuskan teka-teki mempertahankan bangsa
Bangsa yang hampir ambruk terlindas miskin karena korupsi pihak bejad.
Hingga terus terdengar….
Kalimat sendu dari rakyat diantara keperihannya
Mencari sesuap nasi.