Translate

Rabu, 30 April 2014

Sajak-sajak Aryanis I




Selamat merasa,
Pagi telah menjelang; meninggalkan shubuh merdu. Mengikhlaskan semua yang lalu.
Menata keringkihan yang katanya menjatuhkan. Sudah berapa waktukah kau berlalu?
Dipandangan yang hanya tertuju pada satu titik, bukan titik-titik.
Aroma kopi mengepul mendirikan dinding hati yang gulana. Tentang kesaksian yang tak bisa dibanding, dengan apapun.
Puncak gunung melambai menaungi barisan daun teh yang melintang. Adakah kau ingat? Tentang Edelweiss yang kau gapai hari itu. Tentang kisah yang membutuhkan tuan untuk memilikinya atau menyelesaikannya.
Bunyi rinduku berdentang saat kau merangkak meninggalkan sepotong hati yang belum kau selesaikan perkaranya. Adakah tersirat namaku diantara perjalananmu menuntut ilmu di kota nan jauh dari jangakauan.
Boleh jadi, kau kembali bercumbu dengan rayu dan kisah dengannya, pun diantara kita; tak pernah usai.
Puisi-puisi sebegitu tebalnya, masih bercerita. Bukan tentang kerinduan lagi, bukan. Penaku mulai tawar.
Selamat merasa,
Tiga tahun lamanya, kita ‘hidup’ amat dekat namun tersekat, sebab kita memenjarakannya. Pun tak ada yang mengaku siapa yang memulai.
Labirin-labirin telah membungkusnya. Jadi simpanan yang mencungkil tiap kali kita temu walau tak bercakap.
Dingin, seperti pagi ini. Pahit seperti kopi ini yang kusesap, ampasnya. 

Selamat meneguk rasa. 
 Ciputat, 27 April 2014