Tak
lekang—tak lekang pada ilalang masa lalu yang lalu milik waktu berlalu
-Mengenang kehidupan silam dalam semesta yang
bertirai-
Sewaktu berkaca pada jernih mata air mata
Delir gelisah sendu berdenting rawan
Gerimis
Tirus
Menganga
Tentang beranda yang masih mekar
Aku tulis sajak-sajak purnama
Diksi-diksi dari rahim menelikung
Mengeja harapan menyebut nama-nama
Memintas janji, melenakan sungai waktu
Ada
kisah yang tertulis pada tembok
Seperti menyesap sari senja
Menutup temaram dengan lampu
Meniduri bulir-bulir berduri
Lenguhan lonceng kemilau
Memanggil; aku tertidur pulas dalam pundakmu
Apabila aku terbangun, aku takkan mencarimu di
beranda
Sebab, kau telah menyusup dalam darahku yang
bergaram
Kau; bingkisan kalbu serupa cerita lalu
Dendam
dilema dan warna delima berpacu pada suara ilusi
Aku pernah menyesap embun nanar
Pernah jua mencumbui mawar putih
Dari kumbang
Dari pangeran bercadar
Dari kulit-kulit yang menjadi canduku
Sesaat
Dari
mereka yang menawarkan kebahagiaan
Aku melenggang mencari bukit-bukit
Sembunyi
Aku mengendap mencari keramaian
Tertawa
Lalu
kembali memeluk diri mencari sesosok jingga
Memaknai kehidupan sederhana
Pada malam-malam kelam
Temaram legam buram
Pada pagi bergigi
Menguar jalan bergerigi
Atau suara
senja
Yang bersahaja
Aku ingat masa dimana
Tentang jalanan bergelinjur
Malam-malam sesak
Pagi tak lagi sejuk
Senja tak lagi jingga
Menelikung
Itu
pada masa lalu, ketika aku memerih merintih dalam kepekaan
Tapi
kau tidak melihat namaku
Tentang pengkhianatan
Harapan-harapan palsu
Merah jambu yang memukau
Aku rangkum dalam sajak sunyi
Aku limbung, kini tak
Sebab, kemilau di hadapan
Kan temukan
Sajak-sajak sebenarnya
Menggenggam
Mengejar matahari
Bersama; daun-daun kering
Berguguran
Lalu kembali hijau
Telah
Aku siram pepohonan di beranda
Biarkan
subur dan meneduhi semesta
Ciputat, 20 Agustus 2014