Berbinar-binar
Aku ditiduri rindu
Padamu, yang terlelap
Memeluk sukmaku, dalam semogamu
Pahitmu ada manis di asinnya
Ada asa, rasa mengaku di hati
Yang tertinggal
Jadi anugerah
Tinggallah lama di akhirku
Jadi dermaga
Tak melulu menunggangi kapal-kapal
Karam. Terbenam.
Aku tak mau
Kecuali,
menetap di dalam mataku
Lalu malam semakin temaram
Tapi tidak kelam
Sebab, rindu dan air mata mencinta
Makin menyinar binar matamu
Jika ia, bermata biru itu mengisi
Tulisan-tulisan
Lantas dirimu;
Adalah puisi. Sebenar-benarnya puisi
Menungguimu, mencumbumu, dan
Menangisimu
Apalagi, selain kebinaran matamu
Menembus batas
Menyatu; di rindu yang makin menjadi.
Sebelumnya
aku tidak pernah mengalami hal serumit ini:
Mecintai
begitu dalam,tebal dan kental. Lama.
Rangkasbitung, 07 Februari 2015.
Slawi-Tegal.

