Adalah
cerita. Seperti disengaja oleh suratan, barangkali ini tentang sajak yang telah
menjelma menjadi wajah-wajah yang berseliweran bagai lalat hijau ‘mencari’.
Aku
terbiasa dan tak pernah takut untuk memulai, semua memulai tanpa syarat dan
ketentuan. Sebab, kisah ini selalu beruntun lalu bertumpuk mengeluh kala senja
berpijar. Kuat!
Tatkala
rindu mengepul di beranda, apa yang bisa kulalui selain membunuh paksa,
berkata, “Aku lupa kapan aku mengenal kata yang berdiksi”
Berbicara
diksi, aku ingat kapan kau meminta diksi padaku. Saat itu, hujan usai, Kau bawa
seikat bunga mawar putih dan es krim cokelat. Dingin yang semakin dingin. Aku
kaku melihat kukumu yang membiru dan bibimu yang bergetar. Bajumu basah,
kulemparkan handuk. Kau menerimanya, tertawa.
Itu setahun yang lalu.
Hari ini, aku akan
menggambarkannya lewat puisi di bawah ini.
“Melesap”
Ada
‘tiitk’ kau buat bercak
Biar
semesta bersajak lirih
Mendendangkan
Mengelus
Lesung
yang berderai
Liar!
Menelikung
Rampas!
Bergelinjur
Terkotak
Kembalikan
‘titik’ itu
Biar
kukecup, takkan kusetubuhi
Ada
‘titik’ kau buat hilang
Hilang
Bila saja, aku bisa
mendikte waktu, aku meminta; jangan menghilang.
Sebenarnya cerita di
atas adalah fase ke dua usai aku merasa tersayat yang berlebih pada fase
pertama.
Kisah fase ke dua,
setahun yang lalu. Berlalu.
Kisah fase pertama,
terjadi empat tahun lalu. Berjejak.
Ini bulan Juli bukan?
Aku tak suka keju, aku
tak suka kue keju.
Tapi empat tahun yang
lalu aku merasa menyatu dengan ‘keju’
‘Keju’
Aku tak perlu menjelaskannya
siapa ‘keju’ itu bukan?
“Sajak Bulan Juli”
Juli,
senja menantimu selalu dalamnya matahari
Hanya
kau menanti temaram yang aku jerih padanya
Katanya,
bagimu waktu selalu pagi
Saat
janji kehidupan tertawa mengajak
Kau
lupa Juli, ada senja yang menelisik kealpaanmu
Matamu
terbenam di raut yang membunuh rindu
Berkelindan,
riak syahdu berasyik masyuk menyatu
Andai,
ada sajak yang tercipta di bulan ini
Berarti
keajaiban itu telah menepi
Aku
tak takut lagi pada rindu yang menceracau
Empat
tahun kepedihan
Terima kasih ‘keju’
Ciputat, 16 Juli 2014
Aryanis Pena