Translate

Jumat, 13 Juni 2014

Mengeja Malam


Oleh : Ajeng Restiyani*

Malam-malam kelam menyelam dalam
Mata, milik kau  perlahan tak berkalam
Sebab sajak kosong dari  bibir ungumu, kini legam
Meniduri tinta bercampur napas jadi nafsu berpeluh hitam

Kau bermain dengan para laknat mencipta delima, akhirnya nanar
Sendi dan darahmu menari di gelombang jiwa yang lapar
Meracuni kemegahan subuh yang bersua di telinga yang bercadar

Abadilah hidup; setan kecil melengking
Menciumi kau yang mulai padam
Sebab terlalu banyak cairan penusuk jasad menelikung

Gula dan gula, melesat!
Mengutuk sendi dan belulang yang tak berdaging
Sakau engkau merintih, memanggil namamu sendiri

Kemari  anakku, air susuku lebih manis dari gulamu
Jeruji itu lebih panas dari rumahmu

Baca!
Jangan kau eja (lagi) malam-malammu
Kembali pada kehidupan atau tertikam hancur
Sebab kau harus terus berjalan
Membaca urat hidup yang bergelinjur
Menemu pijar yang berpetuah
Menelisik cahaya bait-bait sajak Tuhan

Masih ada pagi, anakku
Untuk kau dekap kebesaran-Nya

Ganja mendustaimu, anakku
Sebab kau jatuh dan liar karenanya
Hanya Dia, anakku
Kemuliaan sepanjang abad

Tempat kau berkeluh, menghapus lara
Dan kembali menjadi hamba.


Ciputat, 13 Juni 2014

Minggu, 08 Juni 2014

Sekotak rindu



Bukankah harapan akan muncul ketika kedekatan itu begitu menggetarkan
Tak ada harga yang sesuai untuk membayar sebuah kenyamanan
Bahwasannya aku di sini; berpijak menekuri perjalanan yang bergelinjur ini
Bersamamu, aku menekan lelah menjadi ketidaklelahan  untuk terus mencintai
Sedang di matamu, tak ada ‘titik’kesungguhan
Akhirnya, meragu adalah ‘hantu’ hari
Kepadamu, kujadikan engkau tempat bercerita setia bukan bermanja
Sebab, ini bukan waktunya
Ada hal yang ingin kutanyakan padamu; adakah nama lain dihatimu selainku?

Jika tak ada rindu, biar.
Cinta selalu ada kepastian. Jika tidak, itu bukan cinta, sayangku.
Adakah yang kau miliki sajak? 
Aku punya, tapi hancur
Maafkan.