Translate

Minggu, 07 Februari 2016

Selaras Malam dan Air

SELARAS SEGALA SUASANA

Menggenangimu dengan air mata adalah
Pertanda, bahwa, kamu,
Candu

Menggenangimu dengan cinta adalah
Pertanda, bahwa, kamu,
Waktu

Menggenangimu dengan kecup adalah
Pertanda, bahwa, kamu,
Asu




MEMBENCI MALAM

Ini waktu berpejam mata bukan
Berpejam darah
Ada wajahmu di bantal tapi terberai:

Hidungmu di serpai
Matamu di selimut
Mulutmu di wajahku

Sampai pagi bergolak bermunculan
Kutu-kutu kenangan



 AIR MATAKU DIAM

Jika ada gerimis di lereng Salak itu, adakah rembulan di matamu
Nanti kubawa piringan hitam
Lekat aromamu diam tak mau beranjak. Tolong dirikan
Perkemahan di keningmu, biar kukecup

Dengan sari rindu, menekannya
Aku masih ingin dipelukmu
Menyiapkan ceplok telor dan air hangat
Memandikan mukamu dengan air mata.



-Aku sedang menjaga toko sambil mendengar lagu Ungu 'Luka di Sini', nangis dikit tapi bukan cengeng, Minggu malam Senin, 7 Februari 2015, lupa pukul berapa-

Selasa, 18 Agustus 2015

PERSEMBAHAN



Engkau tidak akan pernah mengetahui diriku
Jika tidak berusaha memahami aksara-aksaraku
                
Pelurumu menikam erat di deras darah aliran urat
Tulang-tulangku mulai berkarat
Oleh sebab, pemahaman yang tak pernah erat

Sumpah sewindu, hatiku masih bercucuk keparat delikanmu
Lenggok bibirmu mencibir sekian
Aksaraku
Sekian patahan
Sebanyak ludahmu, Cuk!

Kalau engkau jatuh pada segerat gigimu sendiri
Engkau pengkhianat ulung—kuberi tepuk tangan tak bertepuk
Kalau engkau laksana manut, habis sudah perawanmu tergadai

Engkau kepala—kepala ikan
Di sebuah lingkaran, becusmu berbisul
Mengapa tak mampu satukan berbagai kepala ikan lain?

Macam kepala tak becus
Tak bertulang, untuk apa masih berenang?

Persembahan taik kucing ini
Terakhir terukir di dalam cangkang
Terikat ADRT, terikat ketakutan leluhur,
Terbelenggu egoisme daging sapi

Aku ingin menikam delikan gigi itu yang masih perawan
Dan membungkusnya dengan tulang kepala ikan
Dan terludahi debu persembahan.
Taik!

Ciputat, 19 Agustus 2015. 

Selasa, 07 Juli 2015

'Bisul'nya Sudah Matang


Jangan salahkan waktu, bila terus berpacu 
Jangan salahkan jarak, bila terus berjarak 
Jangan salahkan siapa-siapa

Ssssstttt
Ini bukan bicara tentang cinta 'nyek-nyek', tapi ini bicara tentang 'bisul' yang sudah merah masak

Tinggal ditusuk jarum, maka pecah bahagia campur merana

Seharusnya kisah sunyi tak melulu melahirkan sepi dan kesepian, pantasnya menelurkan sikap ketidaknyerian

Seharusnya kau tak usah menyalahkan sunyi, sepi, kesepian
Sebab itu lahir dari dirimu sendiri, dari batokmu, dari cukmu sendiri, Cuk

Misalnya takdir ndak menerima inginmu, apakah engkau akan menghardik Tuhan? Menyalahkan nasibmu.
Lebih baik tertawa, walau acap kali di sudut matamu ada sedikit derai
Percaya saja, tertawa bisa menutupi kebodohanmu: menangis

Menangis itu tidak bodoh
Kau yang bodoh
Tapi manusia tidak ada yang bodoh

Jadi kau manusia jenis apa?

Begini, Cuk
Engkau harus tegas untuk bahagia, untuk meloncat, untuk berlari, untuk menari. Itu mudah.
Sedang untuk menjadi bego itu sulit, butuh perjuangan: misalnya menambah bisul lagi

Begini, Cuk
Engkau harus sebego-begonya bila ingin mengoleksi bisul
Entah itu kau pajang di tangan, kaki, pantat, rambut (bercampur kutu), di muka
Dengan syarat, jadilah orang sebego-begonya

Selamat menikmati suguhan bisul, moga nyeri yang kau rasa tak bersamaan
Dengan koreng di mulutmu

Berlatih menjadi orang yang merapat omong
Siap-siap pula menahan kentut
Nanti kau dioperasi, dibelek, dibedah
Rupiah macam apa yang mau membayari orang yang tak mau kentut?

Atau menjadi orang pusat yang terpinggirkan
Atau menjadi orang pinggiran yang makin terpinggirkan

Senyummu itu loh, Cuk
Menandakan engkau akan melamarku, menikahiku lalu mengawiniku
Lalu kita beranak-pinak melahirkan generasi-generasi yang berbisul juga maksudmu?
Oh tidak! Aku hendak menikahi dengan pilihan-pilihan yang merenda sederhana, mencinta dengan hati, mencumbu yang tak semata-mata dengan birahi

Bodohnya, Cuk
Aku masih mencintaimu ke'cucuk'anmu
Dengan segala tenaga ikhlas ridha
Padahal berulangkali bisul kau terapkan di sekujurku
Terus bercucu membangun struktur keluarga bisul

Orang gila yang saling bercinta 
Masih bego juga rupanya,
Berarti mereka tidak gila!
Pura-pura gila

Lantas apa bedanya engkau dengan bisul
Kami satu kesatuan

Kalau begitu, bagaimana cara bisul mengobati bisulnya
Tapi ingat! Jangan sampai membekas di kulitmu

Itu bodoh, Cuk
Sampai kapanpun akan tetap membekas meninggalkan bekas bisul

Bisul itu apa?



Rangkas Bitung, 07 Juli 2015
Ditulis sambil mengingat-ingat rasanya saat memiliki bisul.

Sabtu, 07 Februari 2015

Binar Mata ‘Puisi’






Berbinar-binar

Aku ditiduri rindu
Padamu, yang terlelap
Memeluk sukmaku, dalam semogamu

Pahitmu ada manis di asinnya
Ada asa, rasa mengaku di hati
Yang tertinggal
Jadi anugerah

Tinggallah lama di akhirku
Jadi dermaga
Tak melulu menunggangi kapal-kapal
Karam. Terbenam.
Aku tak mau

Kecuali, menetap di dalam mataku

Lalu malam semakin temaram
Tapi tidak kelam
Sebab, rindu dan air mata mencinta
Makin menyinar binar matamu
Jika ia, bermata biru itu mengisi
Tulisan-tulisan
Lantas dirimu;
Adalah puisi. Sebenar-benarnya puisi

Menungguimu, mencumbumu, dan
Menangisimu
Apalagi, selain kebinaran matamu
Menembus batas
Menyatu; di rindu yang makin menjadi.

Sebelumnya aku tidak pernah mengalami hal serumit ini:
Mecintai begitu dalam,tebal dan kental. Lama.



Rangkasbitung, 07 Februari 2015.
Slawi-Tegal.

455 (Hari) Layu








Acap kali sapa tanpa tegur, temu
Antara kau-ku
Akan lahir ribuan kata. Terlantun
Sendiri.

Alam menyatukan denyut warna kita.
Sepasang bola mata biru (masih) bersinar,
Sedikit redup

Memilikimu adalah omong kosong abadi
Kau tetap tulisan:
Mengisi kertas, hardisk, dan toko buku
Apalagi?

Inspirator  tak lekang oleh waktu

Pahit lidah asam langkah untuk sekedar
Memanggilmu
Menyebutmu
Sementara kebisingan, menyenggol hati kita

Objek abadi dalam tulisan

Ada puisi padamu
Dalam 455 hari
Kubuat; dengan air mata dan keringat

Namamu masih sama
Lakonmu masih diam
Di depanku
Tapi sekali lagi, selalu ada tulisan
Acap kali sapa tanpa tegur, temu
Antara kita.

Sepasang mata birumu
Mengalahkan layu bunga
Di pagar-pagar yang tak sampai langit
Tak sampai. 


Rangkasbitung, 07 Februari 2015.
MAN Rangkasbitung.

Jumat, 16 Januari 2015

Pelajaran dari Pemilik Mata Berabjad*



Oleh Aryanis S    


Oleh Ajeng Restiyani
Aku bukan petugas pemerintahan, wakil rakyat, atau pengamat selayaknya manusia. Barangkali  aku hanya semut, padi, ikan salmon, yang mengenakan almamaternya sendiri—diciptakan Tuhan untuk meneliti kehidupan di kota Zamrud Khatulistiwa.  
Ikuti kisahnya, jangan kisahku. Puluhan tahun silam, kota ini berkabut. Kota Senja namanya. Itu perumpamaan. Aslinya bernama kota Zamrud Khatulistiwa, kota di tepi Asia. Hutan heterogen, ribuan bakal lauk berserakan, apa pun tumbuh subur di kota ini. Termasuk para manusia berkepala bulan, berkepala matahari, berkepala tumbuhan, bahkan berkepala binatang. Aku bergidik mendengar cerita ini. sekali lagi, ikuti kisahnya, jangan kisahku. Kisah kota ini masih berlanjut hingga kini, kini yang mulai bersaing dengan kota tetangga di Asia. Berlomba, berpeluh keringat, saling menyikut demi eksistensi, katanya. Demi menyambung napas, nyatanya. Perdagangan bebas dan profesi digadang-gadang jadi tujuan buah bertemu akar.
Barangkali aku semut, padi, ikan salmon yang mengenakan almamaternya sendiri, akan berkelana mengelilingi bilah-bilah kota Zamrud Khatulistiwa. Kota ini maha luas, maha kaya, maha hijau dan maha atas segala Maha Penciptaan-Nya. Aku tersungkur juga di sebuah desa, yang entah ribuan kilometer dari pusat bumi kota Zamrud Khatulistiwa. Desa Pesisir Selatan, namanya. Aku menyelinap di sela-sela bambu rumah milik seorang ibu tua—kurasa dia sudah menjadi nenek. Rumahnya terbuat dari bambu yang apakah ini rumah?
Ibu tua itu—kurasa dia sudah menjadi nenek, bernama Kenanga. Sewaktu muda ia pasti cantik seperti namanya, pikirku sembari mencatat hasil temuanku itu di binder—untuk laporan ujian semester di almamaterku. Sekali lagi, ikuti kisahnya, jangan kisahku. Kisahnya bisa terlihat dari kacamatanya yang begitu tebal, boleh jadi sejumput saja terlihat tikaman mata yang tertancap duri-duri, ibu tua itu menebasnya dengan abjad yang lahir dari buih-buih mulut tuanya. Aku menerka-nerka, pekerjaan apa yang selama ini ia lakukan, hingga terlihat binar matanya yang penuh dengan abjad dan angka.
“Pagi….. Ibu Kenanga….!!”teriak anak-anak yang entah dari mana asalnya tiba-tiba mengerumuni rumah ibu tua itu. Aku penasaran, maka aku mendekat memasuki rumah itu melalui celah-celah yang tak terlihat. Ibu tua itu tersenyum,”pagi anak-anakku”suara seraknya terdengar berat dan berwibawa.
“Ibu, ajari kami membaca dan berhitung!”teriak salah satu anak yang kutahu namanya Otong. Teriakan Otong langsung disetujui oleh anak-anak lain, yang jumlahnya sembilan orang itu.
“Di sekolah tak ada guru, Bu! Mereka Cuma datang mengisi daftar hadir lalu memberi tugas kepada kami. Kami tidak mengerti tugas ini, ajari kami, Bu!”protes Amelia, gadis berambut panjang itu dengan pipi yang bergelembung menahan kesal.
Ibu tua itu terlihat bingung, namun ia menyembunyikan kebingungan itu dengan senyuman, “pasti tugasnya pelajaran membuat pantun yah?”tanya ibu tua itu sedikit berseloroh. Anak-anak itu menggelang, “membuat cerita tentang keindahan kota kita, Bu”jawab anak-anak dengan bersemangat. Mendengar jawaban anak-anak itu, seketika ibu tua tertegun. Aku semakin penasaran, siapa sebenarnya ibu tua yang bernama Kenanga ini. Ya, untuk permulaan aku tahu, ia adalah seorang guru. Guru? Apakah semua guru memiliki rumah yang sama. Terbuat dari bambu? Apakah ibu tua yang bernama Kenanga ini adalah guru yang terjamin hidupnya, seperti yang sering diteriakkan Raja dari kota ini. Aku terus mencatat apa pun yang kudapat dari kisah ibu tua ini. Demi nilai laporanku lolos. Sekali lagi, ikuti kisahnya, jangan kisahku.
Ibu tua itu memandang anak-anak di sekelilingnya seraya berkata, “kalian persis seperti ibu dan bapak kalian, murid-muridku dulu yang begitu bersemangat untuk bersekolah”ucapnya lembut, “orangtua kalian adalah murid-muridku yang cerdas, namun sayang keinginannya untuk melanjutkan sekolah terpotong karena alasan biaya”lanjutnya menahan air mata. “Tapi tidak untuk kalian, anak-anakku. Kalian harus bersekolah setinggi mungkin”kata ibu tua sambil mengusap kepala anak-anak itu. Mata ibu tua itu terlihat berair. Aku tahu, ia mati-matian menahan air matanya agar tak jatuh.
“Sekarang, kalian tulis apa yang ingin kalian tulis tentang kota ini. Apa pun”ucap ibu tua itu. Semua anak menurut,mereka bergegas mengerjakan apa yang diperintahkan ibu tua itu. anak-anak itu terlihat serius, mata-mata biru mereka menerawang membayangkan seandainya kotanya menjelma jadi kota yang menakjubkan seperti di Istanbul, Paris, dan yang paling penting seperti di Mekah, kota suci atau Madinah.kota para nabi. Khayalan anak-anak itu menembus pandangan nyata, mereka memainkan imajinasi anak-anaknya. Aku bisa merasakan itu.
Sementara itu, ibu tua bernama Kenanga itu terlihat menembus kenyataan hidup, masa lalunya, masa kekiniannya, dan masa depannya. Ia memandangi rumah tua atau bisa kubilang ini gubug, aku tak tega menyebutnya, karena sepertinya ibu tua itu adalah seorang yang dihormati. Ia memandangi buku-buku miliknya, arsip-arsip saat ia mengajar, amplop-amplop kosong dan seragam yang tak pernah berganti menjadi ‘seragam negeri’. Ibu tua itu tersenyum dan tak pernah meminta haknya, karena ia tak pernah merasakan melaksanakan kewajibannya. Baginya,menjadi seorang pengajar adalah pengabdian. Pengabdian pada diri, agama dan kotanya. Aku menggeleng-gelengkan kepala, berdecak kagum atas jiwa ksatrianya. Ibu tua itu tahu, para guru di kotanya yang “belum resmi” seragamnya bukan tidak mau mengajar, mereka hanya meminta hak-hak pada Dinasti Pemerintahan Kerajaan Kota Zamrud Khatulistiwa, mereka turun ke jalanan, berteriak meminta keadilan. Sedangkan untuk guru yang telah resmi memiliki ‘seragam’juga bukan tidak mau mengajar, mereka hanya terlena untuk sesaat pada pundi-pundi yang kini begitu menjamin. Ibu tua itu berdiri, tegap walau kutahu punggungnya sudah bongkok. Teramat bongkok. Dia meyakinkan hatinya, bahwa masih ada pemilik para mata berabjad yang bekerja di bawah rasa tulus dan abdi pada sesama dan semesta. Ibu tua itu tersenyum, binar matanya kembali nyala. Melihat anak-anak di sekelilingnya begitu bersemangat menuliskan tantang kota ini. Kota Zamrud Khatulistiwa.
Tidak terasa laporanku sudah cukup penuh oleh tulisan-tulisan bermakna tentang ibu tua bernama Kenanga itu yang juga hidupnya bermakna sebagai salah satu pemilik mata berabjad.
Aku hanya semut, padi, ikan salmon, yang mengenakan almamaternya sendiri—diciptakan Tuhan untuk meneliti kehidupan di kota Zamrud Khatulistiwa.
Saatnya pulang. []

*Sebagai Juara III Lomba Menulis Cerpen yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Kampus UIN Jakarta (KOMDA FITK).