Oleh Aryanis S
Oleh
Ajeng Restiyani
Aku
bukan petugas pemerintahan, wakil rakyat, atau pengamat selayaknya manusia.
Barangkali aku hanya semut, padi, ikan
salmon, yang mengenakan almamaternya sendiri—diciptakan Tuhan untuk meneliti
kehidupan di kota Zamrud Khatulistiwa.
Ikuti
kisahnya, jangan kisahku. Puluhan tahun silam, kota ini berkabut. Kota Senja
namanya. Itu perumpamaan. Aslinya bernama kota Zamrud Khatulistiwa, kota di
tepi Asia. Hutan heterogen, ribuan bakal lauk berserakan, apa pun tumbuh subur
di kota ini. Termasuk para manusia berkepala bulan, berkepala matahari,
berkepala tumbuhan, bahkan berkepala binatang. Aku bergidik mendengar cerita
ini. sekali lagi, ikuti kisahnya, jangan kisahku. Kisah kota ini masih
berlanjut hingga kini, kini yang mulai bersaing dengan kota tetangga di Asia.
Berlomba, berpeluh keringat, saling menyikut demi eksistensi, katanya. Demi
menyambung napas, nyatanya. Perdagangan bebas dan profesi digadang-gadang jadi
tujuan buah bertemu akar.
Barangkali
aku semut, padi, ikan salmon yang mengenakan almamaternya sendiri, akan
berkelana mengelilingi bilah-bilah kota Zamrud Khatulistiwa. Kota ini maha
luas, maha kaya, maha hijau dan maha atas segala Maha Penciptaan-Nya. Aku
tersungkur juga di sebuah desa, yang entah ribuan kilometer dari pusat bumi
kota Zamrud Khatulistiwa. Desa Pesisir Selatan, namanya. Aku menyelinap di
sela-sela bambu rumah milik seorang ibu tua—kurasa dia sudah menjadi nenek.
Rumahnya terbuat dari bambu yang apakah ini rumah?
Ibu
tua itu—kurasa dia sudah menjadi nenek, bernama Kenanga. Sewaktu muda ia pasti
cantik seperti namanya, pikirku sembari mencatat hasil temuanku itu di
binder—untuk laporan ujian semester di almamaterku. Sekali lagi, ikuti
kisahnya, jangan kisahku. Kisahnya bisa terlihat dari kacamatanya yang begitu
tebal, boleh jadi sejumput saja terlihat tikaman mata yang tertancap duri-duri,
ibu tua itu menebasnya dengan abjad yang lahir dari buih-buih mulut tuanya. Aku
menerka-nerka, pekerjaan apa yang selama ini ia lakukan, hingga terlihat binar
matanya yang penuh dengan abjad dan angka.
“Pagi…..
Ibu Kenanga….!!”teriak anak-anak yang entah dari mana asalnya tiba-tiba
mengerumuni rumah ibu tua itu. Aku penasaran, maka aku mendekat memasuki rumah itu
melalui celah-celah yang tak terlihat. Ibu tua itu tersenyum,”pagi anak-anakku”suara
seraknya terdengar berat dan berwibawa.
“Ibu,
ajari kami membaca dan berhitung!”teriak salah satu anak yang kutahu namanya
Otong. Teriakan Otong langsung disetujui oleh anak-anak lain, yang jumlahnya
sembilan orang itu.
“Di
sekolah tak ada guru, Bu! Mereka Cuma datang mengisi daftar hadir lalu memberi
tugas kepada kami. Kami tidak mengerti tugas ini, ajari kami, Bu!”protes
Amelia, gadis berambut panjang itu dengan pipi yang bergelembung menahan kesal.
Ibu
tua itu terlihat bingung, namun ia menyembunyikan kebingungan itu dengan
senyuman, “pasti tugasnya pelajaran membuat pantun yah?”tanya ibu tua itu
sedikit berseloroh. Anak-anak itu menggelang, “membuat cerita tentang keindahan
kota kita, Bu”jawab anak-anak dengan bersemangat. Mendengar jawaban anak-anak
itu, seketika ibu tua tertegun. Aku semakin penasaran, siapa sebenarnya ibu tua
yang bernama Kenanga ini. Ya, untuk permulaan aku tahu, ia adalah seorang guru.
Guru? Apakah semua guru memiliki rumah yang sama. Terbuat dari bambu? Apakah
ibu tua yang bernama Kenanga ini adalah guru yang terjamin hidupnya, seperti
yang sering diteriakkan Raja dari kota ini. Aku terus mencatat apa pun yang
kudapat dari kisah ibu tua ini. Demi nilai laporanku lolos. Sekali lagi, ikuti
kisahnya, jangan kisahku.
Ibu
tua itu memandang anak-anak di sekelilingnya seraya berkata, “kalian persis
seperti ibu dan bapak kalian, murid-muridku dulu yang begitu bersemangat untuk
bersekolah”ucapnya lembut, “orangtua kalian adalah murid-muridku yang cerdas,
namun sayang keinginannya untuk melanjutkan sekolah terpotong karena alasan
biaya”lanjutnya menahan air mata. “Tapi tidak untuk kalian, anak-anakku. Kalian
harus bersekolah setinggi mungkin”kata ibu tua sambil mengusap kepala anak-anak
itu. Mata ibu tua itu terlihat berair. Aku tahu, ia mati-matian menahan air
matanya agar tak jatuh.
“Sekarang,
kalian tulis apa yang ingin kalian tulis tentang kota ini. Apa pun”ucap ibu tua
itu. Semua anak menurut,mereka bergegas mengerjakan apa yang diperintahkan ibu
tua itu. anak-anak itu terlihat serius, mata-mata biru mereka menerawang
membayangkan seandainya kotanya menjelma jadi kota yang menakjubkan seperti di
Istanbul, Paris, dan yang paling penting seperti di Mekah, kota suci atau
Madinah.kota para nabi. Khayalan anak-anak itu menembus pandangan nyata, mereka
memainkan imajinasi anak-anaknya. Aku bisa merasakan itu.
Sementara
itu, ibu tua bernama Kenanga itu terlihat menembus kenyataan hidup, masa
lalunya, masa kekiniannya, dan masa depannya. Ia memandangi rumah tua atau bisa
kubilang ini gubug, aku tak tega menyebutnya, karena sepertinya ibu tua itu
adalah seorang yang dihormati. Ia memandangi buku-buku miliknya, arsip-arsip
saat ia mengajar, amplop-amplop kosong dan seragam yang tak pernah berganti
menjadi ‘seragam negeri’. Ibu tua itu tersenyum dan tak pernah meminta haknya,
karena ia tak pernah merasakan melaksanakan kewajibannya. Baginya,menjadi
seorang pengajar adalah pengabdian. Pengabdian pada diri, agama dan kotanya.
Aku menggeleng-gelengkan kepala, berdecak kagum atas jiwa ksatrianya. Ibu tua
itu tahu, para guru di kotanya yang “belum resmi” seragamnya bukan tidak mau
mengajar, mereka hanya meminta hak-hak pada Dinasti Pemerintahan Kerajaan Kota
Zamrud Khatulistiwa, mereka turun ke jalanan, berteriak meminta keadilan.
Sedangkan untuk guru yang telah resmi memiliki ‘seragam’juga bukan tidak mau
mengajar, mereka hanya terlena untuk sesaat pada pundi-pundi yang kini begitu
menjamin. Ibu tua itu berdiri, tegap walau kutahu punggungnya sudah bongkok.
Teramat bongkok. Dia meyakinkan hatinya, bahwa masih ada pemilik para mata
berabjad yang bekerja di bawah rasa tulus dan abdi pada sesama dan semesta. Ibu
tua itu tersenyum, binar matanya kembali nyala. Melihat anak-anak di
sekelilingnya begitu bersemangat menuliskan tantang kota ini. Kota Zamrud
Khatulistiwa.
Tidak
terasa laporanku sudah cukup penuh oleh tulisan-tulisan bermakna tentang ibu
tua bernama Kenanga itu yang juga hidupnya bermakna sebagai salah satu pemilik
mata berabjad.
Aku
hanya semut, padi, ikan salmon, yang mengenakan almamaternya sendiri—diciptakan
Tuhan untuk meneliti kehidupan di kota Zamrud Khatulistiwa.
Saatnya
pulang. []
*Sebagai
Juara III Lomba Menulis Cerpen yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Kampus UIN
Jakarta (KOMDA FITK).