Translate

Selasa, 21 Januari 2014

Ceritanya ini hadiah untuk Sobat; Rodlita Bintana





Puisi Sayang untuk Sahabat Sayang
Oleh : Ajeng Restiyani

‘’Dor..!’’Bintan sahabatku menepuk pundakku mencoba mengagetkan aku yang sedang duduk termenung di pinggir lapangan sekolah.
‘’Eh’’aku tersenyum tipis. Bintan membalas senyumanku sambil menaikan alis kanannya, ‘’kenapa sob? Kok ngelamun?’’tanyanya seraya duduk di sampingku.
Aku hanya menatap ke atas, memandang langit senja ini. ‘’hm, kok di tanya malah diem’’kata bintan penuh selidik.
Aku memandangnya lekat, ‘’bentar lagi kita lulus tan, pasti kita bakal pisah’’jawabku datar.  Bintan tersenyum lembut, ‘’oh.. kamu mikirin itu toh’’katanya santai.  Aku menghela naPas panjang, ‘’kita kan gak bakal satu sekolah lagi!’’tambahku masih datar.
‘’Tenang aja sob, aku akan selalu kasih kabar ke kamu,’’jawaban bintan masih membuatku tersenyum tipis, ‘’tapi kamu sekolah di luar kota ini, kamu mau ke serang sob’’kataku sedih.
Bintan hanya terdiam. ‘’kenapa sih kamu gak sekolah di rangkasbitung aja!’’aku dengan nada tinggi.
‘’Aku…’’belum sempat bintan menuntaskan ucapannya, aku memotongnya ‘’aku pengin cari pengalaman sob’’kataku dengan meniru gayanya yang serius.
‘’Itu kamu tahu!’’bintan tersenyum lagi.
‘’Jelas aku tahu,’’kataku nada tinggi,lalu aku meneruskan ucapanku, ‘’itu jawaban kamu, setiap aku tanya hal yang sama!’’kataku sambil melangkah meninggalkan bintan yang terbengong sendiri. Dalam hati keciku berkata aku tak bermaksud menyakitimu sobat.
….


Di kelas pelajaran terakhir…
‘’BUK!’’aku mengeluarkan buku dari dalam tasku ke atas meja dengan keras, hingga membuat bintan yang kebetulan juga teman sebangkuku melonjak kaget.
‘’Kamu masih marah ras?’’tanyanya. aku menggelang, ‘’siapa yang marah? Aku gak pernah marah!’’kataku ketus sambil membuka kasar buku.
‘’Hem, kalo aku punya salah, aku minta maaf yah’’pintanya lembut.  Aku hanya diam saja acuh tak acuh.
Jam pelajaran terakhir habis, bel berdering. Aku segera membereskan buku dan memasukkannya ke dalam tas. Sedang kulirik bintan dia asik menulis, padahal bel sudah berdering. Tapi ia enggan mmbereskan bukunya.
‘’Aku duluan tan, Assalamualaikum’’kataku masih cemberut. Kudengar bintan menjawab salamku sekenanya. Aku segera bergegas meninggalkan kelas namun belum sempat kakiku menginjak ke luar kelas, bintan memanggilku…. ‘’Rasti, tunggu!’’
Aku membalikan tubuhku, ‘’ada apa?’’tanyaku ketus. Bintan tersenyum lalu memberikan secarik kertas yang dari tadi ia tulis, ‘’ini buat kamu’’katanya.  Aku mengambilnya dan berlalu. Kudengar samar ia mendesah.
Malam ini, aku hanya duduk-duduk di teras rumah Sambil menikmati sepotong kue dan segelas teh hangat untuk merilekskan pikiran. Huft.. otakku penuh rumus selama seminggu terakhir ini belum hapalan dan tugas-tugas menumpuk. Beginilah anak sekolah yang akan menghadapi UN dan UAS. Harus kuat mental dan fisik. Tapi jika semuanya di jalani dengan ikhlas, tawakal dan penuh keyakinan, InsyaAllah bisa. Itu kata-kata bintan, ah, aku jadi ingat dia, tapi kertas itu. oh ya aku ingat kertas yang ia berikan tadi sore. Lantas aku segera masuk rumah mengambil kertas itu lalu kembali lagi ke teras. Secarik kertas itu berisi seikat puisi yang senada dengan pertengkaran kecil kami tadi siang :
Rastiku, jangan marah sayang
Aku ini gadis lugu terlempar di kota ini.
Menggapai segala mimpi atas asa yang kian  
Merundung duka dalam hari.
Lalu aku melangkah pelan atas koridor sekolah kita.
Jantungku berdetak, cemas peluh keringat harap-harap
Aku tak temui setengah jiwa disini yaitu sahabat.
Sedang dalam pergulatan hati, kau melangkah ceria mendekati
Aku tengah kebingungan. Mengulur tangan sendu.
Lalu aku menangkapnya dan kuyakin kau adalah sahabat.
Lihat! Hingga kini kau setia dalam keluh kesah aku gadis masih lugu ini.
Namun, air mataku meleleh di penghujung september ini.
Aku akan pergi tinggalkan segala gelak tawa perih dan kenangan.
Tak akan pernah kuenyahkan kau dalam simponi waktuku.
Jangan kau imbas aku kini, aku bagai mengukir di atas air .
Saat kau lepas pertengkaran kecil kita.
Maafkan aku, aku menyayangimu.
Hingga satu kalimat mengakhiri puisiku :
‘’Rastiku, jangan marah sayang’’
Dari : Bintan Pradita

Aku membaca puisi itu berulang-ulang, lantas pipiku basah menahan sesal. Kuraih hape di dalam kantung bajuku untuk menelpon penulis puisi ini, sahabatku.
‘’Tuutt.’’terdengar menuggu, aku pun mulai risau. Tak lama kemudian di seberang sana terdengar, ‘’Assalamualaikum’’katanya.
Aku tersenyum lega,’’waalaikumsalam bintan’’kataku senang.
‘’Ras, ada apa?’’tanyanya lembut.  Aku menarik nafas panjang, ‘’hm, aku Cuma mau minta maaf sama kamu tan, atas kelakuan aku tadi siang’’jelasku menyesal.
‘’Oh gak apa-apa kok sob, maafin aku juga yah udah bikin kamu kesal’’bintan balik minta maaf padaku.
‘’Iya, itu pasti’’kataku akhirnya.
‘’Hmm, jadi udah gak marahan lagi kan?’’tanyanya mencoba meyakinkan dirinya.
‘’Iya, udah ngga sayong, hehehe’’candaku. Kudengarbia tertawa kecil di seberang sana, ‘’oh iya’’kataku melanjutkan pembicaraan, ‘’Tan, puisi kamu bagus!’’pujiku.
‘’Ih Rasti jangan ngeledek deh, aku kan baru belajar kemarin bikin puisi ke kamu. Mana mungkinlah bagus. Kayanya masih jauuuuuuh banget di antara puisi-puisi kamu itu. hehe’’
‘’Bisa aja,’’kataku singkat, aku mendesah,’’walaupun belum begitu mahir bikin puisi atau menciptakan kreativitas kalo di landasi dengan hati pasti memuaskan’’kataku kemudian.
‘’Iya sih, soalnya aku nulisnya pakai hati bukan pakai pulpen’’lawakan bintan kembali berkobar.
‘’Dih, kamu tuh, coba yah ntar buktiin. Emang bisa nulis pake hati?’’tanyaku lugu.
‘’Bhahahaha’’bintan tertawa benar-benar tawa sesungguhnya bukan hanya sekedar tawa cekikikan.
‘’Kenapa?’’tanyaku bingung.
‘’Rasti, Rasti, pasti semua di anggap serius. Ya enggalah nulisnya pakai pulpen warna item yang di jual di koperasi sekolah itu lho’’katanya menjelaskan.
‘’Hehehehe’’aku tertawa malu.
Malam minggu ini, aku habiskan dengan canda dan tawa bersama sahabat walau via telpon.
….
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, dan perpisahan pun datang juga.
Hari ini sekolahku di padati orangtua murid mupun tamu undangan ke acara purna siswa atau perpisahan dan kenaikan kelas di sekolahku. Kami siswa-siswi kelas IX telah melewati berbagai tantangan diantaranya UAS dan UAN juga berbagai praktik lainnya, di tambah harus mengikuti bimbel (bimbingan belajar) selama tiga bulan. Meleahkan bukan?  Tapi, kelelahan itu di bayar dengan senyum dan bangga, kami mendapatkan nilai yang cukup baik dan memuaskan. Tinggal aku sendiri yang bingung mau melanjutkan sekolah kemana, sementara teman-temanku sudah punya pilihan semua. hm..aku menghela nafas sebelum akhirnya ada seseorang yang memanggilku, ‘’Ras..Ras, bisa bantu ibu?’’suara Ibu Nanda terdengar terburu. 
‘’Mm, bantu apa Bu? Kalo Rasti bisa pasti Rasti bantu’’kataku.
‘’Syukurlah, kamu pasti bisa karena ini memang hobi kamu!’’jelas bu nanda tersenyum. Aku yang belum mengerti, ‘’maksudnya bu? rasti gak ngerti’’kataku lugu.
‘’Ayo ikut ibu!’’bu nanda menarik tanganku dan membawaku ke ruangannya.
‘’Tunggu sebentar ya.’’pinta bu nanda setelah mempersilahkan aku duduk di ruang kerjanya. Sementara itu bu nanda mencari sesuatu di laci mejanya. Beberapa menit kemudian senyumnya mengembang dan menghampiriku, ‘’nah, ini dia ketemu’’katanya girang sambil menyerahkan secarik kertas padaku dan sepertinya aku knal dngan tulisan di kertas itu. aku meraihnya dengan alis terangkat, bu nanda yang melihat kebingunganku berkata dengan santai. ‘’itu tugas puisi dua minggu yang lalu. Ibu masih menyimpan puisi kamu!’’kata bu nanda seraya duduk di sampingku. ‘’kamu bisa kan mmbacakan puisi itu sekarang?’’ aku kontan tersentak kaget, ‘’hah? Maksud ibu di baca di panggung itu?’’tanyaku sambil menunjuk panggung yang kini sedang di isi dengan sambutan kepala sekolah.
Ibu Nanda mengangguk pasti, ‘’iya, kamu mau kan?’’tanyanya memastikan. Aku masih sedikit kaget, ‘’looh, tapi kenapa harus rasti yang baca, terus kenapa harus pakai puisi ini?’’tanyaku.
Dengan tenang Ibu Nanda menjawab, ‘’Rasti pasti bisa, karena puisi yang kamu buat itu cocok buat acara perpisahan kalian sekarang.’’
‘’Nah coba lihat judulnya’’ujar bu nanda sambil menunjuk kertas puisiku.
‘’MEMORY PUTIH BIRU!’’kataku spontan.
‘’Ya, cocokkan.’’kata bu nanda tersenyum.
Aku masih berpikir, ‘’tapi menurut ibu puisinya bagus gak?’’tanyaku masih belum PD.
‘’Bagus sekali,’’jawaban bu nanda membuat hidungku kembang-kempis.
‘’Tapi kok ngedadak ya bu?’’tanyaku lagi.
‘’Ini permintaan kepala sekolah, beliau meminta ada yang lain di acara perpisahan ini, ibu langsung berpikir tentang puisi kamu. Ibu langsung meminta persetujuan beliau. Beliau pun menyetujuinya’’urai bu nanda.
Aku hanya mengangguk-angguk.
‘’Sebelumnya Ibu minta maaf, mungkin ini mendadak sekali tapi ibu yakin kamu pasti bisa’’semangatnya.
‘’Iya, Insya Allah Bu. Tapi Rasti minta waktu dulu buat mempersiapkan semuanya’’pintaku.
‘’Oh iya, kamu akan tampil setelah acara pembagian hadiah bagi siswa yang berprestasi, tenang kamu tampil tidak sendiri kok,’’ucapan bu nanda membuat tanda tanya besar di otakku.
‘’Maksud Ibu? Sama Ibu gitu tampilnya?’’tanyaku asal ceplos.
‘’Tidak, Ibu hanya mengiringi. Kamu akan tampil bersama Bintan sahabat kamu’’sekali lagi bu nanda buat aku terkejut.
‘’Looh? Kok Ibu gak bilang dari tadi?’’
‘’Kan surprise, hehe..’’ bu nanda memang guruku yang paling gaul.
‘’Ih Ibu, terus Bintan udah tahu?’’tanyaku memastikan.
‘’Udah, tadi ibu suruh dia buat nyari kamu, eh kamunya gak ketemu-ketemu. Yaudah ibu bantu cari akhirnya ketemu di tempat yang sepi. Lagi menyendiri yah?’’tanyanya.
Aku memang tidak bergabung dengan teman-temanku, Menyendiri di taman sekolah.
‘’Rasti aneh, orang mah pada seneng-seneng tuh. Kamu malah menyendiri.hehehe’’sekali lagi bu nanda buat aku tersenyum.
‘’Ibu tahu, kamu sedih yah?’’
‘’Ah ngga kok bu!’’
Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu.
‘’Assalamualaikum’’salam seseorang dari balik pintu.
‘’Waalaikumsalam, eh bintan ayo masuk’’kata bu nanda.
Bintan mendengus, ‘’Ibu, Bintan udah cari Rasti hampir satu keliling tapi…’’Bintan tak meneruskan kalimatnya ketika melihat aku.
‘’Looh, ini Rasti, huh aku tuh udah cari kamu kemana-mana tau liat keringetan make up aku luntus ajalah’’cerocos Bintan khas.
‘’Hehehe, kasian’’kataku menjulukan lidah.
‘’Huh’’bintan menyubitku pelan.
‘’Iya bintan, rasti lagi pengin jadi makhluk penyendiri ni’’canda bu nanda.
Aku hanya nyengir.
‘’Nah berhubung kalian udah kumpul ni, ayo kita mulai latihan kilatnya’’ajak bu nanda.
‘’Sssiiiaaap’’ucap kami semangat.

 Aku, Bintan dan Ibu Nanda sudah berada di dekat panggung. ‘’nah tinggal lima menit lagi kalian akan tampil, kalian tidak hanya melantunkan tapi juga Puisi Musikal’’jelas bu nanda.
“Puisi Musikal?’’tanyaku memastikan.
“Siapa yang nyanyi bu?’’yanya bintan.
‘’Teman-teman sekelas kalian.’’jawab bu nanda santai, sekali lagi bu nanda buat aku terkejut. Ni hobi kali yee?
Aku dan bintan saling berpandangan.
‘’Nah coba lihat itu’’tunjuk bu nanda pada segerombol orang yang juga lagi melambaikan  kearah kami.
‘’Looh, kok ibu gak bilang lagi sih?’’aku merajuk.
“Kan surprise lagi. Hehehe’’
‘’Ih ibu,’’kataku sambil tertawa.
‘’Yaudah, rasti bintan, ibu tau kalian punya ikatan batin yang kuat. Tolong penghayatannya ya’’pinta bu nanda,
‘’Siip bu’’ucap bintan sambil mengangkat jempolnya.
Aku hanya geleng-geleng kepala, kupegang omongan kau Bintan, bukannya tadi ketika latihan kilat kau tertawa saja :D

Semua sudah siap, ‘’KITA PANGGILKAN PUISI MUSIKAL PERSEMBAHAN KELAS IX A’’koar MC penuh semangat. Suara tepuk membahana dari para penonton.
Tim obade penyanyi, teman-temanku memasuki panggung. Sedangkan aku dan bintan menelusup di tengah-tengah mereka dan bu nanda berada di belakang.
Pak reza mulai memainkan keyboardnya, lagu pun mulai di mainkan penuh haru. Lagu yang di bawakan adalah lagu dari Band Stinky- Mungkinkah band yang terkenal pada eranya. Terdengar reffnya yang membuat aku menitikkan air mata…
 Mungkinkah kita kan selalu bersama
Walau terbentang jarak antara kita
Biarkan kupeluk erat bayangmu
Tuk melepaskan semua kerinduanku
Kulihat bintan pun menitikkan air matanya dan menggenggam erat tanganku seakan tak mau berpisah.
Dan tibalah di pertengahan lagu aku dan bintan bergerak kedepan untuk melantunkan sebuah puisi, puisi di iringi alunan nada yang menggetarkan jiwa tapi aku harus kuat…
Bintan menarik napas, dan mulai melantunkan sebait puisi..
Kuputar ingatan dua tahun silam…
Merebahkan kisah masa lalu kumpulan kenangan lama.
Merenda hari baru di sekolah penuh cinta.
Kulihat bintan menitikan air matanya, ini bukan sekedar penghayatan tapi ini perhelatan batinnya.  Lalu aku melangkah ke depan, giliran aku yang melantunkan.
Cinta persahabatan suci…
Menabung hari ceria dalam dekap angin senja.
Masa indah tiada pernah terlupa.
Memandang kelasku kini sendu.
Meraba sekolahku kini aku kan melangkah….
Mataku berkaca, tak kuasa menahan sedih, kini bintan melangkah lagi…
Melangkah dengan segudang ilmu
Yang aku timba dari derit-derit
Bangku tua…
Gorden yang lusuh,
Rumus yang membosankan, kini aku rindukan.
Hafalan, kini aku nantikan…
Lalu tibalah aku akan pergi.
Aku kembali melangkah melantunkan puisi terakhir…
Pergi membawa sejuta mimpi.
Kawan, kita takkan pernah berpisah.
Kita akan selalu bersama.
Bersama dalam hati.
Tiba saatnya kita akan bertemu.
Membicarakan hasil yang telah diraih dengan peluh.
Kawan,
Bintan menarik tanganku, dan kami sama-sama melantunkan satu kalimat :
Karena Perpisahan bukan akhir dari segalanya.
Kata-kata yang di tujukan kepada semua orang namun sebenarnya ini salah satu petuah bintan untukku.
Lagu kembali bergaung sampai akhirnya selesai dan kami pun member salam penutup.
Bu nanda menyambutku dan bintan di bawah panggung dan mengucapkan terimakasih serta pujian. Kami hanya tersenyum.
Dan setelah serangkaian acara selesai tibalah saatnya pembagian piagam, para siswa kelas IX berarak naik ke atas panggung untuk bersalaman pada para guru sebagai salam perpisahan.
Aku tak kuasa menahan air mata, air mataku jatuh di pelukan beberapa guru yang aku hormati. Berat memang meninggalkan semua ini. kenangan yang melekat dan terpatri di lubuk.
Setelah acara ini selesai, tibalah hiburan penutup.
Di tengah keramaian riuh suara penonton yang menyaksikan band, mataku mengedar mencari bintan. Tapi diman dia? Semenjak acara pembagian piagam dia tiba-tiba ilang.
           ‘’Ras, nyari siapa?’’tanya datin temanku.
           ‘’Nyari bintan. Kamu liat gak?’’jawab dan tanyaku.
           ‘’Itu bukan!’’tunjuk datin pada seseorang yang sedang dudukk sendiri di pojok barisan bangku.
        ‘’Oh iya, aku kesana dulu ya tin’’kataku sambil melambaikan tangan.
        ‘’Iya ras’’

         ‘’Lagi apa sob?’’tanyaku seraya duduk di sampingnya.  Bintan menjawab pertanyaanku hanya dengan gelangan kepala. Kulihat dia mengusap air matanya berusaha menutupinya agar tidak terlihat olehku.  Aku merangkulnya dan bintan pun menangis di pundakku.
      ‘’Aku juga sama ras, gak mau pisah. Bukan kamu a  ja’’suara bintan terdengar tersndat-sendat.
        Aku pun haru di dalamnya. Aku melepaskan rangkulanku, ‘’aku baru sadar sekarang, setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan perpisahan tidak mengakhiri segala apa yang telah kita rajut dahulu’’uraiku sambil menggenggam tangan bintan. ‘’secara fisik kita memang terpisah tapi hati kita insyaAllah selalu bersama asal ada komunikasinya gak putus’’lanjutku. Perlahan kutangkap senyum bintan mengembang.
       ‘’Lihat mereka..’’kataku sambil menunjuk teman-temanku yang sedang tertawa dan foto-foto. ‘’mereka terlihat ceria dan penuh semangatkan? Tapi aku tahu hati mereka pun sedih karena akan berpisah dengan sahabatnya tapi kamu tau tan, Mereka gak mau nampakin kasedihan itu mereka Cuma mau seneng-seneng karena hari ini adalah hari terakhir kebersamaan di sekolah ini’’jelasku panjang lebar.
        Bintan menarik nafas panjang, ‘’ok! Ayo kita gabung’’tarik bintan tiba-tiba penuh semangat. Aku hanya tersenyum bahagia.
      Pokoknya hari ini tuh hari campur sari, seneng, sedih, haru, de el el.
      Acara pun selesai pukul 15.00 WIB.
….
Satu minggu, dua minggu, satu bulan, dua bulan, tiga bulan menjelang….
Aku dan bintan sama-sama sibuk di sekolah baru masing-masing, aku masuk ke sekolah Madrasah aliyah negeri di kotaku sama seperti bintan hanya bintan tetep sekolah di luar kota.
Aku merasa kehilangan di hari-hariku, dan sering menulis puisi untuknya. Rencananya puisi ini akan aku berikan ketika ulang tahunnya.
11 OKOBER… (Rumah bintan)
             ‘’Teh bintan, ada kado ni dari dari teh rasti’’kata deva ketika bintan baru saja pulang ke rumahnya di rangkasbitung.
           ‘’Kado?’’tanya bintan memastikan.
          ‘’Iya, hari ini kan ulang tahunnya teteh, emang lupa?’’
          ‘’Heheh, nggak kok, sekarang teh rastinya mana de?’’tanya bintan.
         ‘’Ya gak ada, kadonya di titipin ke teh pia temen satu sekolahnya, katanya maaf teh rastinya gak bisa ke rumah di kira teh bintannya gak pulang hari ini’’urai deva.
        ‘’Hem, padahal teteh pengin ketmu. Tapi gak apa-apalah’’kcewa bintan.
         ‘’Ini teh kadonya’’serah deva.
          Bintan lalu membukanya, hal pertama yang buat dia tertarik sekumpulan kertas yang bertuliskan ‘’PUISI SAYANG UNTUK SAHABAT SAYANG’’. Yah, ternyata rasti benar-benar menyerahkan puisinya yang dia tulis selama ini.
Bintan tersenyum dan membacanya…
Setangkai melati putih untuk kau sahabatku
Melati berwarna putih ini
Kupetik dari kebun kakekku
Kupersembahkan untuk kau sahabatku
Sahabat terkasih yang sangat aku sayangi
Mlati putih ini harum, coba kau cium….
Seprti namamu yang selalu harum di helaan nafas
Wajahmu seperti melati putih ini
Damai, merona, seperti bidadai
Menawan bak sinar mentari
Beri aku semangat.
Kau tangkap aku saat aku terjatuh
Sulur cahayam membangkitkanku
Seulas senyum menegarkan
Kau memang seperti melati putih Yang kini kugenggam
Kuberikan untukmu sahabatku.
                                 
 Rindu Sahabat

Aku terpekur sendiri, bayangku melayang pada                             
Sosok sahabat setia disana…
Jiwaku rapuh, asa melemah, ragu tercabik
Saat tesadar kau tak lagi di sisiku sobat.
Terkatup mataku, hati meregang, pikir tak pasti                              
Sebuah lentera kegelapan telah kau gores dalam hidup                                  
Sebuah pengorbanan telah kau tanamkan dalam raga                                
Optimisme hidup telah kau hentakkan dalam jiwa                         
Bercak-bercak nasihat masih terlukis jelas di benakku
Alunan penamu masih menjadi referensi perubahanku                               
Masih terlintas jelas di memory…
Saat aku berleha kau bimbing aku menuju surau kecil sana                    
 Bersujud padanya hingga raga ini tentram
Kau percikan desiran air wudhu di aliran darahku                                         
Membuat jiwa tenang terbalut senyuman    
Kau seperti bintang, yang selalu terang menghiasi malam di jagat raya.
Meski cahayamu redup..
Tapi kau selalu ada.
Kau seperti bulan, yang memeluk gelap, Menyinari tiraiku                    
 Kau seperti mentari, yang selalu setia membahana                                
Di siangnya…                                                                                                    
 Kau seperti pelangi, memberi warna-warni di kehidupan                               

Menemani hari-hari pekik ku…                                                                   
 Walau ku tahu!                                                                                           
Kau tak lagi di sampingku,
Rinduku membelah luasnya samudra                                              
Betapa hati ingin berjumpa dengan sosok setiamu sobat…                          
Dalam sajadah aku terpekur, berdo’a kepadanya                                                
Semoga kesehatan selalu bersamamu
Dalam angan, aku bermimpi dengan mu                                                                        
Menjadi sosok yang bermanfaat bagi hidup.

Sobat
Sobat,
Apa kabar kau disana?
Bagaimana dengan mimpimu di kota orang
Seperti yang pernah  kau lontarkan semasa dulu
Sobat,
Aku merindu sosok anggunmu
Kapan kau kembali ?
Petuah-petuahmu aku dambakan
Di setiap keheningan.
Sobat,
Aku rapuh, aku kehilangan makna-makna hidup

Aku tak mampu, ulasan cahayamu kuimpikan
Sobat,
Lihat aku disini meratapi aral
Tak sanggup kulawan eorang diri. Aku lemah….
Sobat,
Yang ingin kudengar, kau segra kembali
Bawa serta cita-citamu juga
Segenggam kta-kata bijak untuk
Serat konsusmsi jiwa yang semakin redup.

Akhirnya, Aku tertatih
Lama tak berjumpa
Apa kau tak merindu? Aku merindu
Dikau tahu? Hariku tertatih melawan asa
Problema hinggap tak ada penyokong Agar tetap tegar…
Aku seorang diri disini…
Tertatih dan tertatih.





Lantas dimanakah dirimu berpijak?
Kala malam aku mendengar keluhmu
Keluh dengan hidupmu yang baru disana
Plih, pahit, pelit dunia.
Aku mengerti kau bersedih.
Tapi faktanya kau masih bisa bergurau bukan?
Kau memang gadis tegar sobat?
Kapan aku sepertimu.
Merangkai senja sendiri .
Menanam ceria selalu.
Kini aku bertanya dengan pilu bersarang.
Dimana kini kau berada?
Karena itu aku rindu
Puisi perindu entah episode keberapa
Semakin bersarang membuat serat-serat rindu.
Hati membeku bagai es.
Dan kegelisahan menggerogoti sebagian relung.
Dimana akan kutanam lagi diriku.
Tak ada yang bisa aku tuai…
Aku ini seorang perindu.
Entah episode keberapa.
Seperti takkan pernah berakhir.

Nyatanya, kau tetap Sahabatku

Hari pelik berliku telah terlewati
Nyatanya kau selalu subur dengan petuahmu
Kisahku yang baru penuh kepedasan
Barlama mungkin aku bisa gila karena cinta
Itu ceritaku, bagaimana kau disana?
Apa kau telah melupakan kisah cintamu di masa lalu?
Atau telah berjumpa dengan kisah yang baru.
Ayo kisahkan padaku….
Cukup aral melintang,
Nyatanya ada pemotivator.
Cukup kesedihan.
Nyatanya pati ada bahagia
Cukup kumerindu,
Nyatanya kau tetap sahabatku.

Bintan mnghela napas panjang, dia melipat kertas-kertas puisi itu masih banyak lagi puisi yang belum ia baca tapi kalau dia mneruskan baca puisi dari sohibnya itu bisa-bisa air matanya berlinang terlalu banyak.
Bitan lalu membuka kado dari rasti lagi, dia menemukan dua bunhkus kecil lalu membukanya, disana ada surat tersempil :
Sepucuk surat 11 oktober…
Assalamualaikum wr.wb
Apa kabar sayang? Jika kau tanya balik keadaanku, aku akan menjawab ‘’aku baik sob’’ itulah jawaban yang aku damba dari anggunmu sobat.
Selamat ulang tahun
Yang ke-16 ya sob…
Semoga menjadi lebih, lebih baik lagi, tumbuh menjadi wanita dewasa dan shalehah. Amin… J
Teriring kau yang berada di kota orang sana, aku menitipkan sepucuk surat kerinduanku. Aku persembahkan puisi-puisi sayang untuk sahabat sayangku. Boneka lampu warna putih ini akan terang menemani kamarmu, supaya saat boneka itu berkedip kau selalu ingat aku sahabatmu. *maaf yah gak ada warna bitu tapi lampunya warna biu kok. Aku juga punya warna pink *jadi kita samaan. :D dan ini si kecil pengingat waktu, agar kamu tetap ingat waktu dan kesehatan inget aku jua hehhehe :D
Cuma itu yang bisa aku kasih, boneka lampu untuk selalu terangi malammu dan jam waktu untuk menemani harimu juga puisi agar kau tahu betapa aku ingin bersama-sama denganmu sahabatku J
Miss you yong…
Wassalam
Rasti Bintang

‘’Ya ampun Rasti, kamu tuh’’bintan tak bisa berkata apa-apalagi selain tersenyum dan terharu.
Rumah Rasti pukul 20.00 WIB..
        ‘’Semoga bintan senang dengan bingkisan kado ulang tahunnya’’gumamku sambil bersantai di paviliun rumah.
         Tiba-tiba, ‘’Assalamualaikum’’sapa seseorang di balik pintu, sepertinya aku mengenal suara itu. ‘’waalaikumsalam’’jawabku seraya melihat siapa orang yang datang itu.

      Mulutku ternganga saat melihat siapa yang datang, ‘’sob….’’jeritku tertahan, ternyata bintan sahabatku. Bintan langsung merangkulku, ‘’aku gak mimpi kan?’’tanyaku di gendangnya.
      ‘’Nggak ras, ini aku bintan!’’jawab bintan sambil melepaskan rangkulannya.
     ‘’Lihat’’kata bintan sambil menunjuk wajahnya yang kini semakin cubby.
    ‘’Kamu kok nambah ndut tan?’’tanyaku memperhatikan postur tubuh bintan.
    ‘’Eits,, ngeledek? Kamu juga kok tambah kurus ras? Aduh…’’canda bintan
    ‘’Iih,, kamu’’aku mencubit pipi bintan seperti dulu.
     Malam ini pun aku habiskan dengan curhat-curhat dan melepas kerinduan,
     Puiih, Persahabatan itu memang Sangat indah kawan. Jarak bukan penghalang tapi keyakinanlah yang akhirnya mempersatukan sebuah kekuatan persahabatan suci.



Ditulis buat Rodlita bintana. J
Selamat ulang tahun sahabatku.


                                                                                                 Penulis
Ajeng Restiyani ( Bintang C-Pena )
@081011