Selamat
merasa,
Pagi
telah menjelang; meninggalkan shubuh merdu. Mengikhlaskan semua yang lalu.
Menata
keringkihan yang katanya menjatuhkan. Sudah berapa waktukah kau berlalu?
Dipandangan
yang hanya tertuju pada satu titik, bukan titik-titik.
Aroma
kopi mengepul mendirikan dinding hati yang gulana. Tentang kesaksian yang tak
bisa dibanding, dengan apapun.
Puncak
gunung melambai menaungi barisan daun teh yang melintang. Adakah kau ingat?
Tentang Edelweiss yang kau gapai hari itu. Tentang kisah yang membutuhkan tuan
untuk memilikinya atau menyelesaikannya.
Bunyi
rinduku berdentang saat kau merangkak meninggalkan sepotong hati yang belum kau
selesaikan perkaranya. Adakah tersirat namaku diantara perjalananmu menuntut
ilmu di kota nan jauh dari jangakauan.
Boleh
jadi, kau kembali bercumbu dengan rayu dan kisah dengannya, pun diantara kita;
tak pernah usai.
Puisi-puisi
sebegitu tebalnya, masih bercerita. Bukan tentang kerinduan lagi, bukan. Penaku
mulai tawar.
Selamat
merasa,
Tiga
tahun lamanya, kita ‘hidup’ amat dekat namun tersekat, sebab kita
memenjarakannya. Pun tak ada yang mengaku siapa yang memulai.
Labirin-labirin
telah membungkusnya. Jadi simpanan yang mencungkil tiap kali kita temu walau
tak bercakap.
Dingin,
seperti pagi ini. Pahit seperti kopi ini yang kusesap, ampasnya.
Selamat
meneguk rasa.
Ciputat, 27 April 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar