Translate

Rabu, 16 Juli 2014

Sajak Bulan Juli - Sajak Aryanis III



Adalah cerita. Seperti disengaja oleh suratan, barangkali ini tentang sajak yang telah menjelma menjadi wajah-wajah yang berseliweran bagai lalat hijau ‘mencari’.
Aku terbiasa dan tak pernah takut untuk memulai, semua memulai tanpa syarat dan ketentuan. Sebab, kisah ini selalu beruntun lalu bertumpuk mengeluh kala senja berpijar. Kuat!
Tatkala rindu mengepul di beranda, apa yang bisa kulalui selain membunuh paksa, berkata, “Aku lupa kapan aku mengenal kata yang berdiksi”
Berbicara diksi, aku ingat kapan kau meminta diksi padaku. Saat itu, hujan usai, Kau bawa seikat bunga mawar putih dan es krim cokelat. Dingin yang semakin dingin. Aku kaku melihat kukumu yang membiru dan bibimu yang bergetar. Bajumu basah, kulemparkan handuk. Kau menerimanya, tertawa.
Itu setahun yang lalu.
Hari ini, aku akan menggambarkannya lewat puisi di bawah ini.
“Melesap”
Ada ‘tiitk’ kau buat bercak
Biar semesta bersajak lirih
Mendendangkan
Mengelus
Lesung yang  berderai
Liar! Menelikung
Rampas! Bergelinjur
Terkotak
Kembalikan ‘titik’ itu
Biar kukecup, takkan kusetubuhi
Ada ‘titik’ kau buat hilang
Hilang

Bila saja, aku bisa mendikte waktu, aku meminta; jangan menghilang.
Sebenarnya cerita di atas adalah fase ke dua usai aku merasa tersayat yang berlebih pada fase pertama.
Kisah fase ke dua, setahun yang lalu. Berlalu.
Kisah fase pertama, terjadi empat tahun lalu. Berjejak.

Ini bulan Juli bukan?
Aku tak suka keju, aku tak suka kue keju.
Tapi empat tahun yang lalu aku merasa menyatu dengan ‘keju’
‘Keju’
Aku tak perlu menjelaskannya siapa ‘keju’ itu bukan?

“Sajak Bulan Juli”
Juli, senja menantimu selalu dalamnya matahari
Hanya kau menanti temaram yang aku jerih padanya
Katanya, bagimu waktu selalu pagi
Saat janji kehidupan tertawa mengajak
Kau lupa Juli, ada senja yang menelisik kealpaanmu
Matamu terbenam di raut yang membunuh rindu
Berkelindan, riak syahdu berasyik masyuk menyatu
Andai, ada sajak yang tercipta di bulan ini
Berarti keajaiban itu telah menepi
Aku tak takut lagi pada rindu yang menceracau
Empat tahun kepedihan

Terima kasih ‘keju’
Ciputat, 16 Juli 2014
Aryanis Pena

Tidak ada komentar:

Posting Komentar