Oleh : Ajeng Restiyani*
Malam-malam kelam
menyelam dalam
Mata, milik kau perlahan tak berkalam
Sebab sajak kosong
dari bibir ungumu, kini legam
Meniduri tinta
bercampur napas jadi nafsu berpeluh hitam
Kau bermain dengan para
laknat mencipta delima, akhirnya nanar
Sendi dan darahmu
menari di gelombang jiwa yang lapar
Meracuni kemegahan
subuh yang bersua di telinga yang bercadar
Abadilah hidup; setan
kecil melengking
Menciumi kau yang mulai
padam
Sebab terlalu banyak
cairan penusuk jasad menelikung
Gula dan gula, melesat!
Mengutuk sendi dan
belulang yang tak berdaging
Sakau engkau merintih,
memanggil namamu sendiri
Kemari anakku, air susuku lebih manis dari gulamu
Jeruji itu lebih panas
dari rumahmu
Baca!
Jangan kau eja (lagi)
malam-malammu
Kembali pada kehidupan
atau tertikam hancur
Sebab kau harus terus
berjalan
Membaca urat hidup yang
bergelinjur
Menemu pijar yang
berpetuah
Menelisik cahaya
bait-bait sajak Tuhan
Masih ada pagi, anakku
Untuk kau dekap
kebesaran-Nya
Ganja mendustaimu,
anakku
Sebab kau jatuh dan
liar karenanya
Hanya Dia, anakku
Kemuliaan sepanjang
abad
Tempat kau berkeluh,
menghapus lara
Dan kembali menjadi hamba.
Ciputat, 13 Juni 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar