Engkau
tidak akan pernah mengetahui diriku
Jika
tidak berusaha memahami aksara-aksaraku
Pelurumu menikam erat di deras darah aliran urat
Tulang-tulangku mulai berkarat
Oleh sebab, pemahaman yang tak pernah erat
Sumpah sewindu, hatiku masih bercucuk keparat
delikanmu
Lenggok bibirmu mencibir sekian
Aksaraku
Sekian patahan
Sebanyak ludahmu, Cuk!
Kalau engkau jatuh pada segerat gigimu sendiri
Engkau pengkhianat ulung—kuberi tepuk tangan tak
bertepuk
Kalau engkau laksana manut, habis sudah perawanmu
tergadai
Engkau kepala—kepala ikan
Di sebuah lingkaran, becusmu berbisul
Mengapa tak mampu satukan berbagai kepala ikan lain?
Macam
kepala tak becus
Tak
bertulang, untuk apa masih berenang?
Persembahan taik kucing ini
Terakhir terukir di dalam cangkang
Terikat ADRT, terikat ketakutan leluhur,
Terbelenggu egoisme daging sapi
Aku ingin menikam delikan gigi itu yang masih
perawan
Dan membungkusnya dengan tulang kepala ikan
Dan terludahi debu persembahan.
Taik!
Ciputat, 19 Agustus 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar