Kepada
masa lalu yang dalamnya hingga mengusik pintu-pintu senja
Semacam tulisan kering,
Pada rumput terbabat
Bercecer, memercik aspal
Barangkali kau masih terjebak
Pada suara-suara senja, mengalun menyanyi denting
Lalu yang lalu, milik kau-ku , milikmu-ku, memukau
Aku, adalah ketiadaan pada lalumu
Boleh jadi kau tak ingat, ada gelembung sesaat
Berpacu riak seperti nyanyian rumput
Dingin menikam tulang, saat kau pulang
Jejak-jejak di pematang
Menciumi rumput bertuliskan; biar lebur
Kau mungkin kembali berdebar
Tapi, senja kali ini kau tak boleh merana
Sebab ada puisi-puisi kehidupan
Tancap-tancap
duri di matamu
Luka-lukamu meluka-luka deret
Air mata air pada mata
Selenggang kau bersitatap
Bersitahan berlarian dengan pedih peri
Rindu gadismu,
Rindu arjunaku.
Rindu
kita mengalirkan delir dan getir
Tak berbahasa, aku tahu; kau berandai
Sejenak melepasku; bercerita tentang pagi ke pagi
Menuliskan tentang gadismu pada langit –langit sepi
Menuliskan tentang arjunaku pada layung
Menangis
tanpa air mata, menebak langit abu-abu
Itu masa lalumu
Ini masa laluku
Biar luka menganga
Biar semua menyetubuhi hari
Kita di sini untuk saling menatap
Depan
Kemilau
Sembuh dan menyembuhkan
Aku
tak lagi mengeja, aku sudah bisa membaca
Bersamamu;
tulisan pada rumput
Ciputat, 19 Agustus 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar