Translate

Selasa, 19 Agustus 2014

Daun-daun Kering - Sajak Aryanis VII (I)



Tak lekang—tak lekang pada ilalang masa lalu yang lalu milik waktu berlalu

-Untuk kau, yang mengenang kehidupan silam dalam semesta yang bertirai; Anisa Yuni Pertiwi-

Sewaktu berkaca pada jernih mata air mata
Delir gelisah sendu berdenting rawan
Gerimis
Tirus
Menganga
Tentang beranda yang masih mekar

Kau tulis sajak-sajak purnama
Diksi-diksi dari rahimmu menelikung
Mengeja harapan menyebut nama-nama
Memintas janji, melenakan sungai waktu

Ada kisah yang kau tulis pada tembok

Seperti menyesap sari senja
Menutup temaram dengan lampu
Meniduri bulir-bulir berduri
Lenguhan lonceng kemilau
Memanggil; kau tertidur pulas dalam pundakku
Apabila kau terbangun, jangan cari aku di beranda
Sebab, aku telah menyusup dalam darahmu yang bergaram
Aku; bingkisan kalbu serupa cerita lalu

Dendam dilema dan warna delima berpacu pada suara ilusi

Kau pernah menyesap embun nanar
Pernah jua mencumbui mawar  putih
Dari kumbang
Dari pangeran bercadar
Dari kulit-kulit yang menjadi candumu
Sesaat

Dari mereka yang menawarkan kebahagiaan

Kau melenggang mencari bukit-bukit
Sembunyi

Kau mengendap mencari keramaian
Tertawa

Lalu kembali memeluk diri mencari sesosok jingga

Memaknai kehidupan sederhana
Pada malam-malam kelam
Temaram legam buram
Pada pagi bergigi
Menguar jalan bergerigi
Atau suara  senja
Yang bersahaja

Kau ingat masa dimana
Tentang jalanan bergelinjur
Malam-malam sesak
Pagi tak lagi sejuk
Senja tak lagi jingga
Menelikung

Itu pada masa lalu, ketika kau memerih merintih dalam kepekaan
Tapi dia tidak melihat namamu

Tentang pengkhianatan
Harapan-harapan palsu
Merah jambu yang memukau
Kau rangkum dalam sajak sunyi

Kau limbung, kini tak
Sebab, kemilau di hadapan
Kan temukan
Sajak-sajak sebenarnya
Menggenggam
Mengejar matahari
Bersama; daun-daun kering
Berguguran
Lalu kembali hijau

Telah kau siram pepohonan di beranda
Biarkan subur dan meneduhi semesta


Ciputat, 20 Agustus 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar