Tak
lekang—tak lekang pada ilalang masa lalu yang lalu milik waktu berlalu
-Untuk kau, yang mengenang kehidupan silam dalam
semesta yang bertirai; Anisa Yuni Pertiwi-
Sewaktu berkaca pada jernih mata air mata
Delir gelisah sendu berdenting rawan
Gerimis
Tirus
Menganga
Tentang beranda yang masih mekar
Kau tulis sajak-sajak purnama
Diksi-diksi dari rahimmu menelikung
Mengeja harapan menyebut nama-nama
Memintas janji, melenakan sungai waktu
Ada
kisah yang kau tulis pada tembok
Seperti menyesap sari senja
Menutup temaram dengan lampu
Meniduri bulir-bulir berduri
Lenguhan lonceng kemilau
Memanggil; kau tertidur pulas dalam pundakku
Apabila kau terbangun, jangan cari aku di beranda
Sebab, aku telah menyusup dalam darahmu yang
bergaram
Aku; bingkisan kalbu serupa cerita lalu
Dendam
dilema dan warna delima berpacu pada suara ilusi
Kau pernah menyesap embun nanar
Pernah jua mencumbui mawar putih
Dari kumbang
Dari pangeran bercadar
Dari kulit-kulit yang menjadi candumu
Sesaat
Dari
mereka yang menawarkan kebahagiaan
Kau melenggang mencari bukit-bukit
Sembunyi
Kau mengendap mencari keramaian
Tertawa
Lalu
kembali memeluk diri mencari sesosok jingga
Memaknai kehidupan sederhana
Pada malam-malam kelam
Temaram legam buram
Pada pagi bergigi
Menguar jalan bergerigi
Atau suara
senja
Yang bersahaja
Kau ingat masa dimana
Tentang jalanan bergelinjur
Malam-malam sesak
Pagi tak lagi sejuk
Senja tak lagi jingga
Menelikung
Itu
pada masa lalu, ketika kau memerih merintih dalam kepekaan
Tapi
dia tidak melihat namamu
Tentang pengkhianatan
Harapan-harapan palsu
Merah jambu yang memukau
Kau rangkum dalam sajak sunyi
Kau limbung, kini tak
Sebab, kemilau di hadapan
Kan temukan
Sajak-sajak sebenarnya
Menggenggam
Mengejar matahari
Bersama; daun-daun kering
Berguguran
Lalu kembali hijau
Telah
kau siram pepohonan di beranda
Biarkan
subur dan meneduhi semesta
Ciputat, 20 Agustus 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar