Senyum kecut itu membingkai
Lalui sisa hari, apabila senja berganti temaram
Bersua, aku ingin walau sua duka buat padam
Tari jemari ini menghapus kisah buram
Legam, lebam, tenggelam dalam-dalam
Pada malam merintih sajak rindu, tak bertuan
Untuk kau yang tak bernama
Mengapa masih kau merenggut diksi
Mekar, mengalir dalam sajak putih
Tak, tak, takkan anak air mata air dari mata
Menodai
Mendusta
Mendendam
Aku dan puisi
Merindu
Kembali; rindu mekar di beranda
Rumah kita
Anak-anak
Cerita lama.
Cerita lama, yang kau lupa
Ada rahim melahirkan sajak
Tentang kau, aku dan waktu
Hujan deras menelikung bumi
Hujan kemarin yang menyisa pedih
Tanganmu tak ada dalam jemariku
Kau berpaut pada jari yang telah bercincin
Andai kata, itu dusta
Kau, lihat aku
Tatapku lamat-lamat
Apa yang telah kau lakukan, sayangku?
Memintaku tidur lebih cepat
Menungguku setiap malam
Atau berkata mesra setiap pagi
Itu cerita lama, sayangku
Kau telah raib dan tak berjejak
Sebab tulang-tulang itu
Kau tinggal di beranda
Sedang sajak, masih putih
Takkan ternoda.
Rangkasbitung, 3 Agustus 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar