Puisi
Sayang untuk Sahabat Sayang
Oleh
: Ajeng Restiyani
‘’Dor..!’’Bintan
sahabatku menepuk pundakku mencoba mengagetkan aku yang sedang duduk termenung
di pinggir lapangan sekolah.
‘’Eh’’aku
tersenyum tipis. Bintan membalas senyumanku sambil menaikan alis kanannya,
‘’kenapa sob? Kok ngelamun?’’tanyanya seraya duduk di sampingku.
Aku
hanya menatap ke atas, memandang langit senja ini. ‘’hm, kok di tanya malah
diem’’kata bintan penuh selidik.
Aku
memandangnya lekat, ‘’bentar lagi kita lulus tan, pasti kita bakal
pisah’’jawabku datar. Bintan tersenyum
lembut, ‘’oh.. kamu mikirin itu toh’’katanya santai. Aku menghela naPas panjang, ‘’kita kan gak
bakal satu sekolah lagi!’’tambahku masih datar.
‘’Tenang
aja sob, aku akan selalu kasih kabar ke kamu,’’jawaban bintan masih membuatku
tersenyum tipis, ‘’tapi kamu sekolah di luar kota ini, kamu mau ke serang
sob’’kataku sedih.
Bintan
hanya terdiam. ‘’kenapa sih kamu gak sekolah di rangkasbitung aja!’’aku dengan
nada tinggi.
‘’Aku…’’belum
sempat bintan menuntaskan ucapannya, aku memotongnya ‘’aku pengin cari
pengalaman sob’’kataku dengan meniru gayanya yang serius.
‘’Itu
kamu tahu!’’bintan tersenyum lagi.
‘’Jelas
aku tahu,’’kataku nada tinggi,lalu aku meneruskan ucapanku, ‘’itu jawaban kamu,
setiap aku tanya hal yang sama!’’kataku sambil melangkah meninggalkan bintan
yang terbengong sendiri. Dalam hati keciku berkata aku tak bermaksud
menyakitimu sobat.
….
Di kelas pelajaran
terakhir…
‘’BUK!’’aku mengeluarkan buku dari dalam tasku ke
atas meja dengan keras, hingga membuat bintan yang kebetulan juga teman
sebangkuku melonjak kaget.
‘’Kamu
masih marah ras?’’tanyanya. aku menggelang, ‘’siapa yang marah? Aku gak pernah
marah!’’kataku ketus sambil membuka kasar buku.
‘’Hem,
kalo aku punya salah, aku minta maaf yah’’pintanya lembut. Aku hanya diam saja acuh tak acuh.
Jam
pelajaran terakhir habis, bel berdering. Aku segera membereskan buku dan
memasukkannya ke dalam tas. Sedang kulirik bintan dia asik menulis, padahal bel
sudah berdering. Tapi ia enggan mmbereskan bukunya.
‘’Aku
duluan tan, Assalamualaikum’’kataku masih cemberut. Kudengar bintan menjawab
salamku sekenanya. Aku segera bergegas meninggalkan kelas namun belum sempat
kakiku menginjak ke luar kelas, bintan memanggilku…. ‘’Rasti, tunggu!’’
Aku
membalikan tubuhku, ‘’ada apa?’’tanyaku ketus. Bintan tersenyum lalu memberikan
secarik kertas yang dari tadi ia tulis, ‘’ini buat kamu’’katanya. Aku mengambilnya dan berlalu. Kudengar samar
ia mendesah.
…
Malam ini, aku hanya
duduk-duduk di teras rumah Sambil menikmati sepotong kue dan segelas teh hangat
untuk merilekskan pikiran. Huft.. otakku penuh rumus selama seminggu terakhir
ini belum hapalan dan tugas-tugas menumpuk. Beginilah anak sekolah yang akan menghadapi
UN dan UAS. Harus kuat mental dan fisik. Tapi jika semuanya di jalani dengan
ikhlas, tawakal dan penuh keyakinan, InsyaAllah bisa. Itu kata-kata bintan, ah,
aku jadi ingat dia, tapi kertas itu. oh ya aku ingat kertas yang ia berikan
tadi sore. Lantas aku segera masuk rumah mengambil kertas itu lalu kembali lagi
ke teras. Secarik kertas itu berisi seikat puisi yang senada dengan
pertengkaran kecil kami tadi siang :
Rastiku, jangan marah sayang
Aku
ini gadis lugu terlempar di kota ini.
Menggapai
segala mimpi atas asa yang kian
Merundung
duka dalam hari.
Lalu
aku melangkah pelan atas koridor sekolah kita.
Jantungku
berdetak, cemas peluh keringat harap-harap
Aku
tak temui setengah jiwa disini yaitu sahabat.
Sedang
dalam pergulatan hati, kau melangkah ceria mendekati
Aku
tengah kebingungan. Mengulur tangan sendu.
Lalu
aku menangkapnya dan kuyakin kau adalah sahabat.
Lihat!
Hingga kini kau setia dalam keluh kesah aku gadis masih lugu ini.
Namun,
air mataku meleleh di penghujung september ini.
Aku
akan pergi tinggalkan segala gelak tawa perih dan kenangan.
Tak
akan pernah kuenyahkan kau dalam simponi waktuku.
Jangan
kau imbas aku kini, aku bagai mengukir di atas air .
Saat
kau lepas pertengkaran kecil kita.
Maafkan
aku, aku menyayangimu.
Hingga
satu kalimat mengakhiri puisiku :
‘’Rastiku,
jangan marah sayang’’
Dari : Bintan Pradita
Aku
membaca puisi itu berulang-ulang, lantas pipiku basah menahan sesal. Kuraih
hape di dalam kantung bajuku untuk menelpon penulis puisi ini, sahabatku.
‘’Tuutt.’’terdengar
menuggu, aku pun mulai risau. Tak lama kemudian di seberang sana terdengar,
‘’Assalamualaikum’’katanya.
Aku
tersenyum lega,’’waalaikumsalam bintan’’kataku senang.
‘’Ras,
ada apa?’’tanyanya lembut. Aku menarik
nafas panjang, ‘’hm, aku Cuma mau minta maaf sama kamu tan, atas kelakuan aku
tadi siang’’jelasku menyesal.
‘’Oh
gak apa-apa kok sob, maafin aku juga yah udah bikin kamu kesal’’bintan balik
minta maaf padaku.
‘’Iya,
itu pasti’’kataku akhirnya.
‘’Hmm,
jadi udah gak marahan lagi kan?’’tanyanya mencoba meyakinkan dirinya.
‘’Iya,
udah ngga sayong, hehehe’’candaku. Kudengarbia tertawa kecil di seberang sana, ‘’oh
iya’’kataku melanjutkan pembicaraan, ‘’Tan, puisi kamu bagus!’’pujiku.
‘’Ih
Rasti jangan ngeledek deh, aku kan
baru belajar kemarin bikin puisi ke kamu. Mana mungkinlah bagus. Kayanya masih
jauuuuuuh banget di antara puisi-puisi kamu itu. hehe’’
‘’Bisa
aja,’’kataku singkat, aku mendesah,’’walaupun belum begitu mahir bikin puisi
atau menciptakan kreativitas kalo di landasi dengan hati pasti
memuaskan’’kataku kemudian.
‘’Iya
sih, soalnya aku nulisnya pakai hati
bukan pakai pulpen’’lawakan bintan kembali berkobar.
‘’Dih,
kamu tuh, coba yah ntar buktiin. Emang bisa nulis pake hati?’’tanyaku lugu.
‘’Bhahahaha’’bintan
tertawa benar-benar tawa sesungguhnya bukan hanya sekedar tawa cekikikan.
‘’Kenapa?’’tanyaku
bingung.
‘’Rasti,
Rasti, pasti semua di anggap serius. Ya enggalah nulisnya pakai pulpen warna
item yang di jual di koperasi sekolah itu lho’’katanya menjelaskan.
‘’Hehehehe’’aku
tertawa malu.
Malam
minggu ini, aku habiskan dengan canda dan tawa bersama sahabat walau via
telpon.
….
Tidak terasa waktu
berlalu begitu cepat, dan perpisahan pun datang juga.
Hari ini sekolahku di
padati orangtua murid mupun tamu undangan ke acara purna siswa atau perpisahan
dan kenaikan kelas di sekolahku. Kami siswa-siswi kelas IX telah melewati
berbagai tantangan diantaranya UAS dan UAN juga berbagai praktik lainnya, di
tambah harus mengikuti bimbel (bimbingan belajar) selama tiga bulan. Meleahkan
bukan? Tapi, kelelahan itu di bayar
dengan senyum dan bangga, kami mendapatkan nilai yang cukup baik dan memuaskan.
Tinggal aku sendiri yang bingung mau melanjutkan sekolah kemana, sementara
teman-temanku sudah punya pilihan semua. hm..aku menghela nafas sebelum
akhirnya ada seseorang yang memanggilku, ‘’Ras..Ras, bisa bantu ibu?’’suara Ibu
Nanda terdengar terburu.
‘’Mm,
bantu apa Bu? Kalo Rasti bisa pasti Rasti bantu’’kataku.
‘’Syukurlah,
kamu pasti bisa karena ini memang hobi kamu!’’jelas bu nanda tersenyum. Aku
yang belum mengerti, ‘’maksudnya bu? rasti gak ngerti’’kataku lugu.
‘’Ayo
ikut ibu!’’bu nanda menarik tanganku dan membawaku ke ruangannya.
‘’Tunggu
sebentar ya.’’pinta bu nanda setelah mempersilahkan aku duduk di ruang
kerjanya. Sementara itu bu nanda mencari sesuatu di laci mejanya. Beberapa
menit kemudian senyumnya mengembang dan menghampiriku, ‘’nah, ini dia
ketemu’’katanya girang sambil menyerahkan secarik kertas padaku dan sepertinya
aku knal dngan tulisan di kertas itu. aku meraihnya dengan alis terangkat, bu
nanda yang melihat kebingunganku berkata dengan santai. ‘’itu tugas puisi dua
minggu yang lalu. Ibu masih menyimpan puisi kamu!’’kata bu nanda seraya duduk
di sampingku. ‘’kamu bisa kan mmbacakan puisi itu sekarang?’’ aku kontan
tersentak kaget, ‘’hah? Maksud ibu di baca di panggung itu?’’tanyaku sambil
menunjuk panggung yang kini sedang di isi dengan sambutan kepala sekolah.
Ibu
Nanda mengangguk pasti, ‘’iya, kamu mau kan?’’tanyanya memastikan. Aku masih
sedikit kaget, ‘’looh, tapi kenapa harus rasti yang baca, terus kenapa harus
pakai puisi ini?’’tanyaku.
Dengan
tenang Ibu Nanda menjawab, ‘’Rasti pasti bisa, karena puisi yang kamu buat itu
cocok buat acara perpisahan kalian sekarang.’’
‘’Nah
coba lihat judulnya’’ujar bu nanda sambil menunjuk kertas puisiku.
‘’MEMORY
PUTIH BIRU!’’kataku spontan.
‘’Ya,
cocokkan.’’kata bu nanda tersenyum.
Aku
masih berpikir, ‘’tapi menurut ibu puisinya bagus gak?’’tanyaku masih belum PD.
‘’Bagus
sekali,’’jawaban bu nanda membuat hidungku kembang-kempis.
‘’Tapi
kok ngedadak ya bu?’’tanyaku lagi.
‘’Ini
permintaan kepala sekolah, beliau meminta ada yang lain di acara perpisahan
ini, ibu langsung berpikir tentang puisi kamu. Ibu langsung meminta persetujuan
beliau. Beliau pun menyetujuinya’’urai bu nanda.
Aku
hanya mengangguk-angguk.
‘’Sebelumnya
Ibu minta maaf, mungkin ini mendadak sekali tapi ibu yakin kamu pasti
bisa’’semangatnya.
‘’Iya,
Insya Allah Bu. Tapi Rasti minta waktu dulu buat mempersiapkan
semuanya’’pintaku.
‘’Oh
iya, kamu akan tampil setelah acara pembagian hadiah bagi siswa yang
berprestasi, tenang kamu tampil tidak sendiri kok,’’ucapan bu nanda membuat
tanda tanya besar di otakku.
‘’Maksud
Ibu? Sama Ibu gitu tampilnya?’’tanyaku asal ceplos.
‘’Tidak,
Ibu hanya mengiringi. Kamu akan tampil bersama Bintan sahabat kamu’’sekali lagi
bu nanda buat aku terkejut.
‘’Looh?
Kok Ibu gak bilang dari tadi?’’
‘’Kan
surprise, hehe..’’ bu nanda memang guruku yang paling gaul.
‘’Ih
Ibu, terus Bintan udah tahu?’’tanyaku memastikan.
‘’Udah,
tadi ibu suruh dia buat nyari kamu, eh kamunya gak ketemu-ketemu. Yaudah ibu
bantu cari akhirnya ketemu di tempat yang sepi. Lagi menyendiri yah?’’tanyanya.
Aku
memang tidak bergabung dengan teman-temanku, Menyendiri di taman sekolah.
‘’Rasti
aneh, orang mah pada seneng-seneng
tuh. Kamu malah menyendiri.hehehe’’sekali lagi bu nanda buat aku tersenyum.
‘’Ibu
tahu, kamu sedih yah?’’
‘’Ah ngga kok
bu!’’
Tiba-tiba ada
seseorang yang mengetuk pintu.
‘’Assalamualaikum’’salam
seseorang dari balik pintu.
‘’Waalaikumsalam,
eh bintan ayo masuk’’kata bu nanda.
Bintan
mendengus, ‘’Ibu, Bintan udah cari Rasti hampir satu keliling tapi…’’Bintan tak
meneruskan kalimatnya ketika melihat aku.
‘’Looh, ini Rasti,
huh aku tuh udah cari kamu kemana-mana tau liat keringetan make up aku luntus ajalah’’cerocos Bintan khas.
‘’Hehehe,
kasian’’kataku menjulukan lidah.
‘’Huh’’bintan
menyubitku pelan.
‘’Iya bintan,
rasti lagi pengin jadi makhluk penyendiri ni’’canda bu nanda.
Aku hanya
nyengir.
‘’Nah berhubung
kalian udah kumpul ni, ayo kita mulai
latihan kilatnya’’ajak bu nanda.
‘’Sssiiiaaap’’ucap
kami semangat.
…
Aku, Bintan dan Ibu Nanda sudah berada di
dekat panggung. ‘’nah tinggal lima menit lagi kalian akan tampil, kalian tidak
hanya melantunkan tapi juga Puisi Musikal’’jelas bu nanda.
“Puisi
Musikal?’’tanyaku memastikan.
“Siapa
yang nyanyi bu?’’yanya bintan.
‘’Teman-teman
sekelas kalian.’’jawab bu nanda santai, sekali lagi bu nanda buat aku terkejut.
Ni hobi kali yee?
Aku
dan bintan saling berpandangan.
‘’Nah
coba lihat itu’’tunjuk bu nanda pada segerombol orang yang juga lagi
melambaikan kearah kami.
‘’Looh,
kok ibu gak bilang lagi sih?’’aku merajuk.
“Kan
surprise lagi. Hehehe’’
‘’Ih
ibu,’’kataku sambil tertawa.
‘’Yaudah,
rasti bintan, ibu tau kalian punya ikatan batin yang kuat. Tolong
penghayatannya ya’’pinta bu nanda,
‘’Siip
bu’’ucap bintan sambil mengangkat jempolnya.
Aku
hanya geleng-geleng kepala, kupegang
omongan kau Bintan, bukannya tadi ketika latihan kilat kau tertawa saja :D
Semua sudah siap,
‘’KITA PANGGILKAN PUISI MUSIKAL PERSEMBAHAN KELAS IX A’’koar MC penuh semangat.
Suara tepuk membahana dari para penonton.
Tim obade penyanyi,
teman-temanku memasuki panggung. Sedangkan aku dan bintan menelusup di
tengah-tengah mereka dan bu nanda berada di belakang.
Pak reza mulai
memainkan keyboardnya, lagu pun mulai di mainkan penuh haru. Lagu yang di bawakan
adalah lagu dari Band Stinky- Mungkinkah band yang terkenal pada eranya.
Terdengar reffnya yang membuat aku menitikkan air mata…
Mungkinkah
kita kan selalu bersama
Walau
terbentang jarak antara kita
Biarkan
kupeluk erat bayangmu
Tuk
melepaskan semua kerinduanku…
Kulihat bintan pun
menitikkan air matanya dan menggenggam erat tanganku seakan tak mau berpisah.
Dan tibalah di
pertengahan lagu aku dan bintan bergerak kedepan untuk melantunkan sebuah
puisi, puisi di iringi alunan nada yang menggetarkan jiwa tapi aku harus kuat…
Bintan menarik napas,
dan mulai melantunkan sebait puisi..
Kuputar
ingatan dua tahun silam…
Merebahkan
kisah masa lalu kumpulan kenangan lama.
Merenda
hari baru di sekolah penuh cinta.
Kulihat
bintan menitikan air matanya, ini bukan sekedar penghayatan tapi ini perhelatan
batinnya. Lalu aku melangkah ke depan,
giliran aku yang melantunkan.
Cinta persahabatan suci…
Menabung hari ceria dalam dekap
angin senja.
Masa indah tiada pernah terlupa.
Memandang kelasku kini sendu.
Meraba sekolahku kini aku kan
melangkah….
Mataku
berkaca, tak kuasa menahan sedih, kini bintan melangkah lagi…
Melangkah dengan segudang ilmu
Yang aku timba dari derit-derit
Bangku tua…
Gorden yang lusuh,
Rumus yang membosankan, kini aku
rindukan.
Hafalan, kini aku nantikan…
Lalu tibalah aku akan pergi.
Aku
kembali melangkah melantunkan puisi terakhir…
Pergi membawa sejuta mimpi.
Kawan, kita takkan pernah berpisah.
Kita akan selalu bersama.
Bersama dalam hati.
Tiba saatnya kita akan bertemu.
Membicarakan hasil yang telah
diraih dengan peluh.
Kawan,
Bintan
menarik tanganku, dan kami sama-sama melantunkan satu kalimat :
Karena Perpisahan bukan akhir dari
segalanya.
Kata-kata
yang di tujukan kepada semua orang namun sebenarnya ini salah satu petuah
bintan untukku.
Lagu
kembali bergaung sampai akhirnya selesai dan kami pun member salam penutup.
Bu
nanda menyambutku dan bintan di bawah panggung dan mengucapkan terimakasih
serta pujian. Kami hanya tersenyum.
Dan
setelah serangkaian acara selesai tibalah saatnya pembagian piagam, para siswa
kelas IX berarak naik ke atas panggung untuk bersalaman pada para guru sebagai
salam perpisahan.
Aku
tak kuasa menahan air mata, air mataku jatuh di pelukan beberapa guru yang aku
hormati. Berat memang meninggalkan semua ini. kenangan yang melekat dan
terpatri di lubuk.
Setelah
acara ini selesai, tibalah hiburan penutup.
Di
tengah keramaian riuh suara penonton yang menyaksikan band, mataku mengedar
mencari bintan. Tapi diman dia? Semenjak acara pembagian piagam dia tiba-tiba
ilang.
‘’Ras, nyari siapa?’’tanya datin
temanku.
‘’Nyari bintan. Kamu liat
gak?’’jawab dan tanyaku.
‘’Itu bukan!’’tunjuk datin pada
seseorang yang sedang dudukk sendiri di pojok barisan bangku.
‘’Oh iya, aku kesana dulu ya
tin’’kataku sambil melambaikan tangan.
‘’Iya ras’’
‘’Lagi apa sob?’’tanyaku seraya duduk
di sampingnya. Bintan menjawab
pertanyaanku hanya dengan gelangan kepala. Kulihat dia mengusap air matanya
berusaha menutupinya agar tidak terlihat olehku. Aku merangkulnya dan bintan pun menangis di
pundakku.
‘’Aku juga sama ras, gak mau pisah. Bukan
kamu a ja’’suara bintan terdengar
tersndat-sendat.
Aku pun haru di dalamnya. Aku
melepaskan rangkulanku, ‘’aku baru sadar sekarang, setiap pertemuan pasti ada
perpisahan dan perpisahan tidak mengakhiri segala apa yang telah kita rajut
dahulu’’uraiku sambil menggenggam tangan bintan. ‘’secara fisik kita memang
terpisah tapi hati kita insyaAllah selalu bersama asal ada komunikasinya gak
putus’’lanjutku. Perlahan kutangkap senyum bintan mengembang.
‘’Lihat mereka..’’kataku sambil menunjuk
teman-temanku yang sedang tertawa dan foto-foto. ‘’mereka terlihat ceria dan
penuh semangatkan? Tapi aku tahu hati mereka pun sedih karena akan berpisah
dengan sahabatnya tapi kamu tau tan, Mereka gak mau nampakin kasedihan itu
mereka Cuma mau seneng-seneng karena hari ini adalah hari terakhir kebersamaan
di sekolah ini’’jelasku panjang lebar.
Bintan menarik nafas panjang, ‘’ok! Ayo
kita gabung’’tarik bintan tiba-tiba penuh semangat. Aku hanya tersenyum
bahagia.
Pokoknya hari ini tuh hari campur sari,
seneng, sedih, haru, de el el.
Acara pun selesai pukul 15.00 WIB.
….
Satu
minggu, dua minggu, satu bulan, dua bulan, tiga bulan menjelang….
Aku
dan bintan sama-sama sibuk di sekolah baru masing-masing, aku masuk ke sekolah
Madrasah aliyah negeri di kotaku sama seperti bintan hanya bintan tetep sekolah
di luar kota.
Aku
merasa kehilangan di hari-hariku, dan sering menulis puisi untuknya. Rencananya
puisi ini akan aku berikan ketika ulang tahunnya.
…
11
OKOBER… (Rumah bintan)
‘’Teh bintan, ada kado ni dari
dari teh rasti’’kata deva ketika bintan baru saja pulang ke rumahnya di
rangkasbitung.
‘’Kado?’’tanya bintan memastikan.
‘’Iya, hari ini kan ulang tahunnya
teteh, emang lupa?’’
‘’Heheh, nggak kok, sekarang teh
rastinya mana de?’’tanya bintan.
‘’Ya gak ada, kadonya di titipin ke
teh pia temen satu sekolahnya, katanya maaf teh rastinya gak bisa ke rumah di
kira teh bintannya gak pulang hari ini’’urai deva.
‘’Hem, padahal teteh pengin ketmu. Tapi
gak apa-apalah’’kcewa bintan.
‘’Ini teh kadonya’’serah deva.
Bintan lalu membukanya, hal pertama
yang buat dia tertarik sekumpulan kertas yang bertuliskan ‘’PUISI SAYANG UNTUK
SAHABAT SAYANG’’. Yah, ternyata rasti benar-benar menyerahkan puisinya yang dia
tulis selama ini.
Bintan
tersenyum dan membacanya…
Setangkai
melati putih untuk kau sahabatku
Melati
berwarna putih ini
Kupetik
dari kebun kakekku
Kupersembahkan
untuk kau sahabatku
Sahabat
terkasih yang sangat aku sayangi
Mlati
putih ini harum, coba kau cium….
Seprti
namamu yang selalu harum di helaan nafas
Wajahmu
seperti melati putih ini
Damai,
merona, seperti bidadai
Menawan
bak sinar mentari
Beri
aku semangat.
Kau
tangkap aku saat aku terjatuh
Sulur
cahayam membangkitkanku
Seulas
senyum menegarkan
Kau
memang seperti melati putih Yang kini kugenggam
Kuberikan
untukmu sahabatku.
Rindu
Sahabat
Aku terpekur sendiri, bayangku melayang pada
Sosok sahabat setia disana…
Jiwaku rapuh, asa melemah, ragu tercabik
Saat tesadar kau tak lagi di sisiku sobat.
Terkatup mataku, hati meregang, pikir tak pasti
Sebuah lentera kegelapan telah kau gores dalam hidup
Sebuah pengorbanan telah kau tanamkan dalam raga
Optimisme hidup telah kau hentakkan dalam jiwa
Bercak-bercak nasihat masih terlukis jelas di benakku
Alunan penamu masih menjadi referensi perubahanku
Masih terlintas jelas di memory…
Saat aku berleha kau bimbing aku menuju surau kecil
sana
Bersujud padanya
hingga raga ini tentram
Kau percikan desiran air wudhu di aliran darahku
Membuat jiwa tenang terbalut senyuman
Kau seperti bintang, yang selalu terang menghiasi malam di
jagat raya.
Meski cahayamu redup..
Tapi kau selalu ada.
Kau seperti bulan, yang memeluk gelap, Menyinari
tiraiku
Kau seperti mentari,
yang selalu setia membahana
Di siangnya…
Kau seperti pelangi,
memberi warna-warni di kehidupan
Menemani hari-hari pekik ku…
Walau ku tahu!
Kau tak lagi di sampingku,
Rinduku membelah luasnya samudra
Betapa hati ingin berjumpa dengan sosok setiamu sobat…
Dalam sajadah aku terpekur, berdo’a kepadanya
Semoga kesehatan selalu bersamamu
Dalam angan, aku bermimpi dengan mu
Menjadi sosok yang bermanfaat bagi hidup.
Sobat
Sobat,
Apa
kabar kau disana?
Bagaimana
dengan mimpimu di kota orang
Seperti
yang pernah kau lontarkan semasa dulu
Sobat,
Aku
merindu sosok anggunmu
Kapan
kau kembali ?
Petuah-petuahmu
aku dambakan
Di
setiap keheningan.
Sobat,
Aku
rapuh, aku kehilangan makna-makna hidup
Aku
tak mampu, ulasan cahayamu kuimpikan
Sobat,
Lihat
aku disini meratapi aral
Tak
sanggup kulawan eorang diri. Aku lemah….
Sobat,
Yang
ingin kudengar, kau segra kembali
Bawa
serta cita-citamu juga
Segenggam
kta-kata bijak untuk
Serat
konsusmsi jiwa yang semakin redup.
Akhirnya, Aku tertatih
Lama tak berjumpa
Apa kau tak merindu? Aku merindu
Dikau tahu? Hariku tertatih
melawan asa
Problema hinggap tak ada
penyokong Agar tetap tegar…
Aku seorang diri disini…
Tertatih dan tertatih.
Lantas
dimanakah dirimu berpijak?
Kala
malam aku mendengar keluhmu
Keluh
dengan hidupmu yang baru disana
Plih,
pahit, pelit dunia.
Aku
mengerti kau bersedih.
Tapi
faktanya kau masih bisa bergurau bukan?
Kau
memang gadis tegar sobat?
Kapan
aku sepertimu.
Merangkai
senja sendiri .
Menanam
ceria selalu.
Kini
aku bertanya dengan pilu bersarang.
Dimana
kini kau berada?
Karena
itu aku rindu
Puisi
perindu entah episode keberapa
Semakin
bersarang membuat serat-serat rindu.
Hati
membeku bagai es.
Dan
kegelisahan menggerogoti sebagian relung.
Dimana
akan kutanam lagi diriku.
Tak
ada yang bisa aku tuai…
Aku
ini seorang perindu.
Entah
episode keberapa.
Seperti
takkan pernah berakhir.
Nyatanya,
kau tetap Sahabatku
Hari
pelik berliku telah terlewati
Nyatanya
kau selalu subur dengan petuahmu
Kisahku
yang baru penuh kepedasan
Barlama
mungkin aku bisa gila karena cinta
Itu
ceritaku, bagaimana kau disana?
Apa
kau telah melupakan kisah cintamu di masa lalu?
Atau
telah berjumpa dengan kisah yang baru.
Ayo
kisahkan padaku….
Cukup
aral melintang,
Nyatanya
ada pemotivator.
Cukup
kesedihan.
Nyatanya
pati ada bahagia
Cukup
kumerindu,
Nyatanya
kau tetap sahabatku.
Bintan
mnghela napas panjang, dia melipat kertas-kertas puisi itu masih banyak lagi
puisi yang belum ia baca tapi kalau dia mneruskan baca puisi dari sohibnya itu
bisa-bisa air matanya berlinang terlalu banyak.
Bitan
lalu membuka kado dari rasti lagi, dia menemukan dua bunhkus kecil lalu
membukanya, disana ada surat tersempil :
Sepucuk
surat 11 oktober…
Assalamualaikum
wr.wb
Apa
kabar sayang? Jika kau tanya balik keadaanku, aku akan menjawab ‘’aku baik
sob’’ itulah jawaban yang aku damba dari anggunmu sobat.
Selamat ulang tahun
Yang ke-16 ya sob…
Semoga menjadi lebih,
lebih baik lagi, tumbuh menjadi wanita dewasa dan shalehah. Amin… J
Teriring kau yang berada
di kota orang sana, aku menitipkan sepucuk surat kerinduanku. Aku persembahkan
puisi-puisi sayang untuk sahabat sayangku. Boneka lampu warna putih ini akan
terang menemani kamarmu, supaya saat boneka itu berkedip kau selalu ingat aku
sahabatmu. *maaf yah gak ada warna bitu tapi lampunya warna biu kok. Aku juga
punya warna pink *jadi kita samaan. :D dan ini si kecil pengingat waktu, agar
kamu tetap ingat waktu dan kesehatan inget aku jua hehhehe :D
Cuma itu yang bisa aku
kasih, boneka lampu untuk selalu terangi malammu dan jam waktu untuk menemani
harimu juga puisi agar kau tahu betapa aku ingin bersama-sama denganmu
sahabatku J
Miss you yong…
Wassalam
Rasti Bintang
‘’Ya ampun Rasti, kamu
tuh’’bintan tak bisa berkata apa-apalagi selain tersenyum dan terharu.
…
Rumah Rasti pukul 20.00
WIB..
‘’Semoga bintan senang dengan bingkisan
kado ulang tahunnya’’gumamku sambil bersantai di paviliun rumah.
Tiba-tiba, ‘’Assalamualaikum’’sapa
seseorang di balik pintu, sepertinya aku mengenal suara itu.
‘’waalaikumsalam’’jawabku seraya melihat siapa orang yang datang itu.
Mulutku ternganga saat melihat siapa yang
datang, ‘’sob….’’jeritku tertahan, ternyata bintan sahabatku. Bintan langsung
merangkulku, ‘’aku gak mimpi kan?’’tanyaku di gendangnya.
‘’Nggak ras, ini aku bintan!’’jawab
bintan sambil melepaskan rangkulannya.
‘’Lihat’’kata bintan sambil menunjuk
wajahnya yang kini semakin cubby.
‘’Kamu kok nambah ndut tan?’’tanyaku
memperhatikan postur tubuh bintan.
‘’Eits,, ngeledek? Kamu juga kok tambah
kurus ras? Aduh…’’canda bintan
‘’Iih,, kamu’’aku mencubit pipi bintan
seperti dulu.
Malam ini pun aku habiskan dengan
curhat-curhat dan melepas kerinduan,
Puiih, Persahabatan itu memang Sangat
indah kawan. Jarak bukan penghalang tapi keyakinanlah yang akhirnya
mempersatukan sebuah kekuatan persahabatan suci.
Ditulis
buat Rodlita bintana. J
Selamat
ulang tahun sahabatku.
Penulis
Ajeng
Restiyani ( Bintang C-Pena )
@081011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar