Translate

Jumat, 16 Januari 2015

Kangen




Bahasa tubuhmu begitu puitik
Melahirkan imaji romantik
Desahmu adalah  lagu paling merdu

Aku ingin menyetubuhimu
Dengan puisi kangen

Kangen,
Aku tumpul untuk menulisakannya
Matamu terlalu tajam untuk berkedip
Mencumbuiku yang kangen padamu yang kangen

Maka, padamu kubacakan bait terakhir puisi
Salah satu sastrawan negeri ini
Rendra dengan “Kangen” –nya
:
…..
Engkau telah menjadi racun bagi darahku
Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti aku tungku tanpa api


Jika aku tungku kau api
Tungku tak bertemu api
Berlumut atau merana?

Lekuk bibirmu  adalah kedahsyatan
Tiap jemariku menariknya, menelusurinya
Menelikung lalu membalutnya
Membentuk  puisi kangen

Tapi sekali lagi, aku tak bisa menuliskan
Kangenku pada binar kangenmu

Karena, aku kangen.


Ciputat, 17 Januari 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar