Bahasa tubuhmu begitu puitik
Melahirkan imaji romantik
Desahmu adalah
lagu paling merdu
Aku ingin menyetubuhimu
Dengan puisi kangen
Kangen,
Aku tumpul untuk menulisakannya
Matamu terlalu tajam untuk berkedip
Mencumbuiku yang kangen padamu yang kangen
Maka, padamu kubacakan bait terakhir puisi
Salah satu sastrawan negeri ini
Rendra dengan “Kangen” –nya
:
…..
Engkau
telah menjadi racun bagi darahku
Apabila
aku dalam kangen dan sepi
Itulah
berarti aku tungku tanpa api
Jika aku tungku kau api
Tungku tak bertemu api
Berlumut atau merana?
Lekuk bibirmu
adalah kedahsyatan
Tiap jemariku menariknya, menelusurinya
Menelikung lalu membalutnya
Membentuk
puisi kangen
Tapi sekali lagi, aku tak bisa menuliskan
Kangenku pada binar kangenmu
Karena, aku kangen.
Ciputat, 17 Januari 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar