Laut
mengabarkan derunya, tapi engkau anggap itu sebatas desiran.
Tabah hujan membasahi
puisi
Meniduri jalanan sepi
Tak ada diksi
Juli dua ribu empat
belas
Kau memelas
Meminta balas
Aku bersikeras
Melengos
Dua puluh tiga
Di tahun yang sama
Bulannya berbeda
Kau serupa rupa
Mengecup berucap
tentang usia
Di penghujung Desember
Puisiku mulai berdebar
Wajah berlibur
Dari kasih yang mulai
liar
Harus kusalahkan
Desember?
Puisi
masih muda tapi diksinya menua, tertawa saja biar laut semakin kencang derunya.
Dua ribu lima belas di
bulan pertama
Seumpama kumbang bukan
aroma (lagi)
Retak tulang terlihat
bersahaja
Apa masih ada cinta?
Biar
laut kembali tidur dan tak mengusikmu lagi.
Kerajaan Aryanis, 17 Januari
2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar