Translate

Jumat, 16 Januari 2015

Seumpama - Sajak Aryanis VIII




Seumpama bunga, engkau adalah bunga layu di beranda rindu
Seumpama kaktus, engkau adalah duri di setiap himpitan hari, terasa amat sesak
Seumpama puisi, engkau adalah tema yang tak hentinya memancar, air mata air sebiru luka meluka
Seumpama bunga, engkau tak mungkin mekar (lagi)
Kecuali, engkau adalah Edelweiss
Seumpama Edelweiss, engkau adalah langkah legam
Seumpama jumpa, engkau memalingkan
Seumpama pertanyaan, engkau pergi mendaki ke pucuk-pucuk puisi
Seumpama janji, tentang janji engkau ‘kan bawakan Edelweiss
Seumpama-seumpama mimpi, kita tak akan kembali
Kecuali, engkau Edelweiss
Seumpama tekad, engkau enggan memetik Edelweiss untukku, barang setangkai
Seumpama air, engkau adalah air mata yang tak pernah habis kutangisi
Seumpama kesempatan, engkau tak mampu melihat kesempatan
Seumpama bunga, engkau adalah bunga paling merana
Kecuali, engkau Edelweiss
Seumpama rindu.
Titik.

24 September 2014

Melesap




Ada tiitk kau buat bercak
Biar semesta bersajak lirih

Mendendangkan
Mengelus
Lesung yang  berderai

Liar! Menelikung
Rampas! Bergelinjur
Terkotak

Kembalikan titik itu
Biar kukecup, takkan kusetubuhi
Ada titik  kau buat hilang
Di gelap yang lama

Hilang


Sekali lagi, Aku adalah Wanitanya





Maka kau tidak berhak ‘kepo’

Aku mengenalmu lewat kekasihku
Tapi semestinya itu tak

Rasa ingin tahumu padaku-kekasihku
Melebihi anak esde yang bertanya ini itu
Anak esde bertanya dengan kepolosan
Kau bertanya dengan rasa tidak punya kemaluan



Ingin kekasihku?
Makan saja, tapi muntahkan lagi
Lalu kau kusebut jalang!
Mengapa sinis?

Sila cipta sajak-sajak pesakitan
Agar tak menghakimiku dengan
Bacot aksaramu
Apa?

Adukan pada kekasihku
Dekap kekasihku
Menangis dipeluknya
Tapi sekali lagi, aku wanitanya

Bahasaku sudah sangat rendah
jika berbicara tentangmu,

Mantan ‘gebetan’ kekasihku. Katanya.


Ciputat, 17 Januari 2015

Kangen




Bahasa tubuhmu begitu puitik
Melahirkan imaji romantik
Desahmu adalah  lagu paling merdu

Aku ingin menyetubuhimu
Dengan puisi kangen

Kangen,
Aku tumpul untuk menulisakannya
Matamu terlalu tajam untuk berkedip
Mencumbuiku yang kangen padamu yang kangen

Maka, padamu kubacakan bait terakhir puisi
Salah satu sastrawan negeri ini
Rendra dengan “Kangen” –nya
:
…..
Engkau telah menjadi racun bagi darahku
Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti aku tungku tanpa api


Jika aku tungku kau api
Tungku tak bertemu api
Berlumut atau merana?

Lekuk bibirmu  adalah kedahsyatan
Tiap jemariku menariknya, menelusurinya
Menelikung lalu membalutnya
Membentuk  puisi kangen

Tapi sekali lagi, aku tak bisa menuliskan
Kangenku pada binar kangenmu

Karena, aku kangen.


Ciputat, 17 Januari 2015


Puisi di Bulan Januari




Laut mengabarkan derunya, tapi engkau anggap itu sebatas desiran.

Tabah hujan membasahi puisi
Meniduri jalanan sepi
Tak ada diksi

Juli dua ribu empat belas
Kau memelas
Meminta balas
Aku bersikeras
Melengos

Dua puluh tiga
Di tahun yang sama
Bulannya berbeda
Kau serupa rupa
Mengecup berucap tentang usia

Di penghujung Desember
Puisiku mulai berdebar
Wajah berlibur
Dari kasih yang mulai liar
Harus kusalahkan Desember?

Puisi masih muda tapi diksinya menua, tertawa saja biar laut semakin kencang derunya.

Dua ribu lima belas di bulan pertama
Seumpama kumbang bukan aroma (lagi)
Retak tulang terlihat bersahaja
Apa masih ada cinta?

Biar laut kembali tidur dan tak mengusikmu lagi.

Kerajaan Aryanis, 17 Januari 2015