Puisi
dalam 455 hari sendu
Oleh :
Ajeng Restiyani
Aku
menarik napas panjang, sesak di dada begitu terasa. Untuk menghilangkan
kegundahan aku segera meraih diary berwarna pink kesayanganku juga bolpoin dan
segera menulis puisi disana entah puisi keberapa. Hampir semua halaman diary
itu berisi puisi-puisi tentang seseorang yang dari dulu mengisi relungku.
Perih-perih
harapan…
Aku mengadu pada
bintang malam
Tentangnya tak
mau menoleh sekejap
Memegang erat
emosi jendela kamar
Sedang pipi penuh
oleh si bening nanar
Aku menghakimi
malam semakin temaram
Rahang cintaku
hampir ambruk sedikit lagi
Lalu perih
menetas meremas jiwa
Harapan sesak
dalam ruang segi empat
Tinggal sisa
sedikit lagi ketabahan dekap
Lantas harapan
semakin menipis
Tersayat sembilu,
perih berasa
Dalam raga kian
hancur perlahan
Senada dengan
perihku akan harap
Sedang tubuhku
menyisa ringkih
Bersama
perih-perih harapan…
@Rangkasbitung, 2
oktober 2011
Setelah
menulis puisi,kututup diaryku dengan desahan kecewa dan meletakkannya kembali
ke laci meja belajar. Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang dan sejenak
menutup mata memutar ingatan ketika aku mengenal dia :
Dia yang
kini mematahkan harapanku atau mungkin sekalian mematahkan hatiku.
Dia?
Sebut saja namanya Tian. Nama lengkapnya Tian Ezula Mahendra. Aku mengenalnya
ketika pertama kali aku memasuki sekolah menengah atas. kebetulan saat itu aku
mendaftar di sekolah yang bernuansa agama atau di bawah naungan kementerian
agama, Madrasah Aliyah negeri 1 (MAN 1).
Aku mulai mengikuti MABIS (Masa bimbingan siswa) atau MOS (Masa
orientasi siswa) di sekolah itu dengan sepenuh hati.
Mabis di
isi dengan materi-materi dan pengenalan sekolah, ketika itu Pak rafi salah satu
guru MAN 1 menyampaikan materi yang berhubungan tentang keorganisasian. Kami
larut di dalam materi yang di sampaikan. Ketika pada suatu ketika pak rafi membuka
season tanya jawab untuk kami, ‘’silahkan ada yang di tanyakan?’’pak rafi
menatap kami tersenyum. Saat itu Ruangan aula tempat kami hening sesaat sebelum
akhirnya ada seseorang yang mengangkat tanganya hendak menanyakan.
‘’Ya silahkan’’ucap pak rafi
ramah. Aku segera melihat siapa orang yang berani itu.
‘’Perkenalkan nama saya Tian
Ezula Mahendra dari SMP.N 17, ijin bertanya’’ucap orang itu dengan lantang. Aku
terbengong di buatnya, ‘’heh, kenapa?’’tegur aliza teman baruku.
‘’Eh, nggak kok, hehehe’’kataku
gelagapan. Lalu orang yang bernama tian itu bertanya dengan pertanyaan yang
sangat mengagumkan, aku merasa ada hal aneh dalam diriku, ‘’Alfi….’’syifa teman
baruku yang duduk di bangku belakang memukulku pelan. ‘’apa?’’kataku sambil membalikan badan
kebelakang.
‘’Ganteng yah?’’tanyanya terenyum
centil.
‘’Siapa?’’tanyaku pura-pura tidak
tahu.
‘’Tian!’’jawab Aliza spontan
sambil membalikan tubuhnya kebelakang.
‘’Iya tian, kata kamu ganteng
gak?’’syifa sekali lagi bertanya.
Aku mengedarkan pandanganku dan
memperhatikan sosok tian, ‘’lumayan’’jawabku jujur.
‘’Ada feeling?’’syifa tersenyum genit.
‘’Ih Syifa, kamu tuh aneh-aneh
aja. Kenal juga nggak’’cerocosku sambil kembali menghadapkan tubuhku ke depan.
‘’Cciiie..’’syifa dan aliza
menggodaku.
Kali ini aku tersenyum mengingat
tingkah kedua teman baruku itu, atau sebut saja sahabat baruku karena memang
merekalah yang selanjutnya menjadi sahabatku lalu di susul dengan beberapa
sahabat lainnya atau kusebut dengan Bintang
kejora.
Aku
menarik napas panjang, pikiranku malam ini sepertinya di penuhi oleh kisah itu,
yang pahit untuk di kenang. Pangeranku ‘’Tian Ezula Mahendra,’’ Pangeran? Ya,
memang dahulu kusebut dia sebagai pangeran.
Kuharap dia Cinta sejati yang di kirim Tuhan untukku. Ah! pendek sekali
jalan pikiran ini. bukannya cinta sejati itu nanti, nanti setelah jodoh itu
datang. Entahlah, yang kutahu aku begitu mengagumi sosok Tian. Entah atas dasar
dan alasan apa aku masih mengharapkan cintanya yang jelas bukan untukku. Namun,
dahulu aku beropini bahwa dia pun menaruh rasa yang sama pada diriku. Nyatanya kini,
opini dalam otakku itu berbalik seratus delapan puluh derajat. Faktanya, dia
memilih gadis itu. sebut saja namanya Lana. Lana ? argumen yang seperti apa
lagi yang harus aku lontarkan mengenai gadis itu, gadis yang beru saja aku dan
tian kenal. Hey kalian tahu gadis itu adik kelasku di sekolah. Tapi dia hebat sangat
hebat atau SUPER WOMAN, SUPER JUNIOR, SUPER GIRL de el el. mudah sekali
mengalihkan perhatian Tian, tapi aku tak bisa menyalahkan gadis itu kalau dia
pun terhipnotis oleh karismatiknya seorang Tian yang kutahu belakangan ini
ternyata Tian seorang yang katanya Egois dan terlalu otoriter, entah itu benar
atau tidaknya. Itu bukan urusanku lagi, pikirku
dalam hati.
Dengan
datangnya gadis itu atau Lana yang cantik jelita berakhir juga penantianku yang
berakhir pada sepotong patah hati. Penantian satu tahun tiga bulan atau empat
ratus lima puluh lima hari penuh dengan puisi-puisi hampir empat buku tulis.
Kusebut sebagai ‘’PUISI DALAM 455 HARI SENDU’’. Dramatis sekali bukan? Atau
malah mengenaskan. Dan puisi itu masih terpajang rapi dalam buku lusuh itu.
bagaimana lagi harus kukatakan tentang puisi-puisi kesayanganku itu, sedang
semua berobjek satu kajian yaitu TIAN. Jujur kukatakan pada semua yang
mengagumi puisi-puisiku saat ini, puisi itu berawal dari sebuah nama dari sebuah tema berakar pemilik warna
biru. Ya biru adalah warna kesukaan Tian. Hadirnya tian membuatku selalu
berimajinasi menumpahkan semua rasa dalam bentuk tulisan hingga sampai saat ini
menulis puisi dan cerpen dan lain-lain adalah hobiku, walaupun sebenarnya itu
hobi lama yang sempat tertunda.
Yang menjadi
pertanyaanku kala malam, adalah dimana lagi aku harus mendapat insfirasi untuk
puisi-puisi terbaruku sedang insfirasi yang bernaluri adalah sosok Tian.
Tertatih, aku tak berhak menjadikan dia makhluk abstrak lagi dalam
puisi-puisiku selanjutnya, sedangkan dia telah termiliki.
‘’huh’’aku
menggerutu mengingat kekonyolanku itu, mengingat saat kuikuti tian kemana pun
dia pergi, aku ingin tahu. Itu saja. Tapi semua kekonyolan itu tak berlaku lagi
saat ini. dia bukan urusanku lagi!
Dan aku
harus membohongi diriku, hatiku, orang lain, terlebih para sahabat. Mulut ini
berkata dengan angkuhnya, ‘’aku udah lupain dia kok,udah gak inget lagi’’ucapku
penuh kebohongan. teman-teman hanya menatapku datar entah apa yang ada di benak
mereka setelah kuucapakan kata-kata tadi. Hanya aliza, sahabat terdekatku
menodongku dengan berbagai pertanyaan yang menohok ulu hati.
Dia
menggenggam tanganku,’’al, boleh kamu ngebohongin temen-temen yang lain. Tapi
kamu gak bisa berbohong sama aku”ucap aliza suatu hari setelah aku
memproklamirkan bahwa aku telah melupakan tian.
Aku
mengerutkan kening, ‘’maksud kamu?’’
Dia
tersenyum, ‘’kamu belum bisa ngelupain Tian kan? Kamu belum ikhlas kan dia udah
di miliki gadis lain? Kamu belum rela kan dia udah jadian sama lana?’’aliza
menghela nafas, ‘’jujur sama aku al!’’
Aku
tertegun mendengar beberapa pertanyaan itu, aku harus jawab apa?! Ya memang faktanya itu aku belum bisa
melupakan tian, aku belum ikhlas. Batinku semeraut.
‘’Kenapa kamu diem?’’
‘’Aku gak tau liz’’jawabku bebohong lagi.
…
Bulan
oktober 2011, sepertinya bulan kehancuranku dalam masalah cinta. Bagaimana
tidak, Tian yang kukira cinta sejatiku itu tepat bulan oktober itu meresmikan
cintanya dengan lana, gadis yang sangat kubenci. Ingat! Aku takkan membencinya
jika ia tak memulai. Sepertinya lana tahu kalau aku dahulu mencintai Tian. Lana
menatapku penuh dengan tatapan yang menurutku pantas aku ludahi. Sadis!
Ini bukan
sekedar masalah pribadi lagi, ini membawa kepada etika seorang adik tingkat
kepada kakak tingkat. Walaupun adik tingkatlah yang memenangkan hatinya. Tapi
ini bukan akhir segalanya aku masih menyediakan tempat untuk pangeranku yang
baru.
Oktober,
November, desember, adalah tiga bulan terakhir di tahun 2011. Dan tiga bulan
itulah aku merasa tertatih. Terlebih bulan oktober. Tapi kuharap oktober tahun
depan aku akan mendapatkan antonim dari oktober 2011. Artinya, aku ingin
mendapatkan kebahagiaan.
Kau tahu?
Oktober 2011 berlalu, kulalui dengan sejuta kehancuran dan kegalauan mendera
menyisakan semua pekerjaanku terbengkalai. Terlebih nilai-nilaiku menurun
drastis dari semestinya. Itulah akibat dari sebuah ketidak ikhlasan merelakan
seseorang yang di cintai. Padahal, masih ada sepotong cinta di bulan November
2011. Tapi, tentu itu tidak membuatku merasa bahagia sekali.
Namanya Zafa,
sebut saja dia sahabatku dari kelas X sampai sekarang ini kelas XI. Kami tidak
pernah satu kelas. Sekarang aku kelas XI IPA dan dia kelas XI IPS.
Tapi yang
namanya sahabat tak terpisah oleh jarak, waktu, kota, Negara, bahkan benua
sekali pun. Kalau kita tetap menjaga komunikasi dan silahturahmi yang baik.
Apalagi ini hanya terpisah kelas toh masih satu sekolah.
Aku dan
zafa sering sekali bertukar pikiran atau sekedar curhat. Dan dia tahu keadaan
hatiku yang saat ini sedang tidak beres. Dia hanya mencoba tersenyum. Tapi
senyuman itu berbeda sekali. Bukan sekedar senyum dari sang sahabat tapi senyum
dari orang yang menyimpan rasa padaku sedari dulu.
Suatu
ketika zafa menatapku lekat, ada kedamaian disana namun ada juga sebersit
kalimat yang menjadi bebannya selama ini yang ingin dia ucapkan padaku.
‘’Hm, Alfi senyum dong, jangan
cemberut aja. Jelek tahu!’’zafa mengagetkanku saat aku sedang duduk sendiri di
depan kelasku, memang saat itu aku hanya merengut. Zafa menghampiriku.
‘’Eh’’aku tersenyum spontan. Zafa
kembali tersenyum, ‘’nah gitu dong, kalau gitu kan tambah manis’’. Aku hanya
menanggapinya dengan senyum dikulum.
Kulihat air muka Zafa yang tadi
tersenyum kini berubah serius. ‘’al, aku tahu kamu masih sangat sedih’’ucapnya
sambil duduk di samping kananku. Aku hanya diam.
‘’Aku juga sedih lihat kamu kaya
gini, ayolah bangkit! Jangan kalah sama perasaan kamu itu atau mungkin kamu mau
di perdaya oleh cinta. Cinta itu bukan hanya Tian al. alfi…’’dia tersenyum,
lalu melanjutkan ucapannya. ‘’lihat aku’’pintanya lembut.
Aku menoleh sejenak, aku
menangkap ada yang aneh dari zafa. Dia hanya sahabatku tapi kini, mengapa dia
sangat care lebih dari seorang
sahabat, apa ada sesuatu lain?! Entahlah.
‘’Kamu gak pantes di giniin sama
tian, emang apa sempurnanya dia sih, kamu udah tau kan sifat dia yang
sebenarnya?’’zafa berusaha mempengaruhiku, tapi memang itu kenyataannya tian
tidak sesempurna yang aku bayangkan, tapi kenapa hati ini selalu tertuju
padanya. Atau memang hatiku yang mempermainkan semuanya? Aku tidak tahu.
Aku menarik nafas panjang, ‘’iya
tahu’’
‘’Terus kenapa kamu masih aja
ngarepin dia, orang yang udah jelas-jelas gak ngarepin kamu!’’suara zafa mulai meninggi.
‘’Apa peduli kamu sih!’’jawabku
ketus.
‘’Lho aku sangat peduli sama kamu
al’’
‘’Tapi, peduli kamu itu terlalu
berlebihan za!’’aku melontarkan unek-unekku selama ini.
‘’Aku pikir itu gak berlebihan ,
peduli terhadap orang yang kita sayangi’’jawaban zafa membuatku menoleh
padanya,’’maksud kamu apa?’’
‘’Aku sayang sama kamu’’suara
zafa merendah. Sontak aku keget, ‘’Sayang?’’. Zafa hanya mengangguk kecil dan
menatap nanar taman yang ada di depan kelasku.
Namun tiba-tiba aku tersadar
dengan kata sayang itu, ‘’hm, iya sayang sebagai sahabat kan?’’aku yakin dengan
ucapan zafa, dia hanya sayang sebagai sahabat.
Zafa menggelang, dia kembali
menatapku, ‘’Aku sayang sama kamu sebagai sahabatku juga sayang kamu sebagai orang yang aku cintai.’’
Aku terkesiap mendengar pengakuan
zafa yang kuharap itu bohong.
‘’Kenapa? Kamu gak
percaya?’’tanya zafa penuh selidik.
‘’Iya aku gak percaya, bagaimana
bisa kamu sayang sama aku lebih dari seorang sahabat. Dan sejak kapan kamu
punya perasaan itu?’’jawab dan tanyaku sekaligus.
‘’Sejak aku kenal kamu, sejak
pertama aku masuk sekolah ini!’’
Mataku
terbelalak, ‘’selama itu?’’tanyaku tak percaya.
‘’Iya, sama kan kaya sayang kamu
ke tian selama itu juga’’zafa mendengus.
‘’Kenapa kamu gak jujur?’’aku
menyesalkan.
‘’Untuk apa aku jujur, sedangkan
saat itu kamu mencintai tian’’urainya.
Aku hanya diam terpaku mencoba
mencerna ucapan zafa yang kurasa aku tak bisa menerima kenyataan bahwa
sahabatku sendiri yang mencintaiku dengan tulus.
‘’Tapi…’’belum selesai aku
mengutarakan maksud dari hatiku, zafa sudah memotongnya,’’iya, aku tahu kamu
gak punya perasaan lebih, dan aku memaklumi itu. kamu terlalu sempurna
untukku’’katanya merendah.
‘’Bukan, maksud aku. Kenapa kamu
berikan cinta itu buat aku, kenapa gak ke orang lain’’kataku kemudian.
‘’Kamu gak akan ngerti al,
sekarang aku mau tanya Apa kamu juga sayang sama aku lebih dari
sahabat?’’pertanyaan yang dari tadi sebenarnya ingin aku hindari.
‘’Maaf, untuk saat ini aku
menutup hatiku untuk siapa pun!’’
‘’Kamu belum jawab pertanyaan aku
Al?’’zafa medesak
‘’Oke, aku memang suka sama kamu.
Tapi Cuma suka gak lebih za, Maafin aku’’jawabku jujur, aku memang menyukainya
tapi tak untuk menyayanginya lebih dari sahabat.
‘’Iya gak
apa-apa, aku udah cukup tenang udah ngungkapin semuanya”’katanya bijak sambil
tersenyum. Lalu dia meneruskan ucapannya, ‘’dan aku yakin suatu saat kamu akan
menaruh rasa yang sama’’ katanya kemudian dengan pasti.
Aku hanya diam dan membiarkan dia
terus berargumen tentang diriku nanti.
‘’Yaudah, aku balik dulu ke kelas
ya, inget alfi jangan lupa makan ntar kamu sakit’’zafa berkata lembut sambil
berlalu menyisakan aku yang hanya mengangguk kecil sekaligus di gelayuti
beberapa kenyataan bahwa sahabatku telah membuka rahasia hatinya dan itu
tentang diriku.
…
Semenjak
zafa mengungkapkan perkara hatinya, dia seperti menghilang di telan bumi. Tak
pernah kutemu lagi dia mengunjungi kelasku untuk sekedar ngobrol ngalor ngidul
atau sekedar menyapa. Semua berbeda dia berubah dingin padaku. Dan inilah yang
kubenci. Benci cinta!
Hanya di
lain kesempatan kudapati dia sedang menatapku dari jauh lalu langsung
memalingkan muka setelah tahu aku melihatnya. Ah entahlah aku benci dengan
keadaan seperti ini. aku semakin benci dengan yang namanya cinta! Jatuh cinta!
Aku tak hanya kehilangan cinta tapi aku juga kehilangan sahabatku. Mati rasa! Huh..aku
Cuma bisa bersabar. Semoga ada balasan indah dari-Nya untuk kesabaranku ini.
…
Tak
terasa kini tepat tanggal 1 januari 2012, itu artinya oktober, November dan
desember 2011 telah berlalu. Bulan-bulan dimana penuh cobaan yang menguras
emosi dan air mata. Dan sampai sekarang pun zafa seakan tak pernah terlihat
lagi, satu pesan singkat pun tak kutemu lagi dari handphoneku. Atau mungkin dia telah melupakanku? Tak mengapa memang
itu yang kuharapkan tapi ada satu yang tak ingin terjadi yaitu melupakan
persahabatan kita. Aku tak ingin itu terjadi. Dan lagi-lagi aku menyalahkan
gara-gara cinta! Ah picik memang diri ini selalu menyalahkan cinta, yang
jelas-jelas cinta adalah anugrah dari Tuhan yang patut kita syukuri. Tapi,
bagaimana jika cinta itu selalu membuat kita kecewa ? KECEWA!
Lelah
memaknai semua itu, akhirnya aku menyadari bahwa selama ini aku salah. Aku
salah dan sangat salah. Perasaan hati tak dapat di dustai kawan, siapa sangka
jika orang yang kita duga mencintai kita tapi ternyata kenyataannya tidak,
sebaliknya orang yang kita duga dia tidak mencintai kita tapi teryata ia sangat mencintai kita. Itulah
uniknya sebuah rasa, tak terjamah denhan jemari tapi dengan kata hati yang
bernaluri. Ya itulah kisahku, Tian adalah tokoh yang begitu aku kagumi hingga
seluruh hatiku begitu tertuju padanya namun nyatanya dia mematahkan hatiku. Itu angin lalu, karena saat ini aku tak tertarik
lagi padanya. Sulit memang melupakan segala tentang dirinya yang begitu
berkarisma tapi, dengan keyakinan aku rasa kita mampu. Jangan menyiksa diri dan
jangan memaksa orang lain tuk mencitai kita karena itu kan berdampak pada
ketidakbahagiaan dalam hidup. Aku yakin Tian memang baik untukku tapi dia bukan yang terbaik untukku. Aku mencoba mengikhlakannya dan akhirnya aku bisa!
Dan
tentang Zafa, aku harap dia kan berubah seperti dulu. Zafa yang periang dan
selalu tersenyum. Dan kurasa aku mulai menyukainya, tapi tak untuk
menyayanginya lebih dari sahabat.
Kurasa
keputusanku bijak, takkan kubuka dulu hati ini untuk siapa pun. Mengapa? Karena
aku tak mau kecewa lagi. Tibalah nanti kutemu yang terbaik atau jodohku,
pangeran pilihan yang telah Allah kirimkan untukku. Karena kuyakin cinta sejati
itu nanti.
…
Dalam hentakan waktu, hidupku
seperti tercatat dalam puisi-puisi itu. keluh kesah atau galau semua terekam di
balik kata- kata yang mungkin sampai berdarah-darah. Kau tahu? ada satu objek yang
membuat puisi itu hidup, namun tidak dengan dunia nyata di kehidupanku.Objek
itu seakan mati dalam hidupku. Bahkan, dalam mimpi pun tak kutemu lagi. Dan
objek itu adalah seseorang yang dahulu sempat aku kagumi. Ia pemilik warna
Biru. Sudahlah, itu masa yang amat kubenci. Kini aku kan melangkah meraih
Bintang impianku.
Dan
inilah tiga puisi dari sekian banyak
puisi yang kutulis dalam 455 hari sendu, yang kurasa puisi ini adalah saksi
dimana saat aku tertatih dan batinku memar.
‘’455 hari sampai oktober sendu’’
Kala itu aku dan kau terpisah dalam ruang
sendu, berakaslantai kaku.
Memandang lewat jendela terpisah gorden
gelap.
Kau sedang menulis disana , mendengar
setiap petuah.
Sedang aku memandangmu di balik tirai
berdebu.
Kadang kutanya kawanmu lewat sejenak
singgah di ruang senduku.
Tenang gendangku menyimak setiap kata
tentangmu, bagai sajak indah aku tersenyum.
Lantas kusibak lembaran, menulis pergulatan
aku dan dunia
Lalu kusimpan dibawah bantal senduku kala
malam menyapa
Bintang-gemintang bercahaya, seolah beri
harapan darimu
Malam temalam berlalu bertemu fajar dalam
kabut pagi.
Hatiku penuh sapaan senyum dan tatapan,
entah untuk siapa..
Lalu sekedar sepatah kata dari aku dank au,
lewat saja..
Berhari, berbulan, bertahun..
Sepenggal masa dalam lingkup kekaguman
terpendam
Terhitung hentakan waktu, penuh senang,
tangis, biasa saja..
Waktu kaku bertemu sekarana dalam sama-sama
ruang sendu kita tempati
Dilemma sungguh menabung di kantung akhir
keperihan
Akhir keperihanku saat kudengar kau bergamot
dengannya
Dengannya, gadis baik, cantik dan menarik
hatimu..
Sedang aku hanyadiam terpaku meratapi
segala yang terjadi
tentang patahnya hati yang Selalu kujaga
untuknya.
Membenamkan segala waktu penantian yang
akan kuakhiri.
455 hari sampai oktober sendu.
@oktober
‘’Puisi penantian, semakin menua’’
Juli Agustus…
September oktober…
November desember …
Januari februari…
Maret april…
Mei juni…
Dan Juli Agustus…
September oktober, puisiku 455 hari sampai
oktober sendu.
Masih bertabah setia dalam buku lusuh
bagian ke empat
Penulis tetap tegar menumpah buih-buih
kepiluan
Penantian tetap tma dalam kata yang aku
dambakan
Penantian tua, puisinya juga menua melusuh
berdebu.
Berabu kenangan menggapai yang din anti
Bintang-gemintang, bulan-rembulan
Saksi perjalanan lembar-lembar puisi
Puisi penantian itu, kini menua tak ada
jawab, entah sampai kapan
Sampai mati bernama puisi penantian.
@021011
‘’Berkas-berkas lusuh’’
Berisi catatan sajak kesaksian penantian
Berkisah duka, suka. Atau biasa saja.
Berlembar, berbuku, berpena habis sudah.
Di babat imajinasi dan objeknya itu kau!
Tapi, kini aku tak berhak menjadikan
Kau makhluk abstrak di sebait puisiku.
Bercak penaku pasti akan luntur di hapus
orang
Yang telah memilikimu.
Tinggalah sudah berkas-berkas kertas
Lusuh, lecek dan aku abaikan.
Dan aku tak tahu siapa yang kan menjadi
insfirasiku nanti,
Sedang kau telah enyah.
@061011
Yupz, itu
tiga puisi dari sekian banyak puisi yang kutulis. Bagaimana sedih bukan?
Mengenaskan ? atau malah biasa saja. Bagiku itu mengenaskan. Tapi itu hanya
cerita tempo lalu tidak untuk hari ini dan seterusnya karena aku benar-benar
telah melupakan dia, kisahnya, dan semua yang pahit. So, aku baru sadar jangan
pernah takut akan cinta. Karena cinta adalah Anugrah terindah dari Allah SWT.
Tapi berhati-hatilah dalam memberikan sebentuk hati atau cinta jangan sampai
kamu kecewa dan menyesal.
#THE END
Penulis :
Bintang
C-Pena
Rangkasbitung,
1 januari 2012
@22:23 PM
J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar