Translate

Selasa, 21 Januari 2014

Tuhan, aku masih menemu tulisan usang ini !



Puisi dalam 455 hari sendu
Oleh : Ajeng Restiyani

Aku menarik napas panjang, sesak di dada begitu terasa. Untuk menghilangkan kegundahan aku segera meraih diary berwarna pink kesayanganku juga bolpoin dan segera menulis puisi disana entah puisi keberapa. Hampir semua halaman diary itu berisi puisi-puisi tentang seseorang yang dari dulu mengisi relungku. 

                                 Perih-perih harapan…
Aku mengadu pada bintang malam
Tentangnya tak mau menoleh sekejap
Memegang erat emosi jendela kamar
Sedang pipi penuh oleh si bening nanar
Aku menghakimi malam semakin temaram
Rahang cintaku hampir ambruk sedikit lagi
Lalu perih menetas meremas jiwa
Harapan sesak dalam ruang segi empat
Tinggal sisa sedikit lagi ketabahan dekap
Lantas harapan semakin menipis
Tersayat sembilu, perih berasa
Dalam raga kian hancur perlahan
Senada dengan perihku akan harap
Sedang tubuhku menyisa ringkih
Bersama perih-perih harapan…
@Rangkasbitung, 2 oktober 2011
Setelah menulis puisi,kututup diaryku dengan desahan kecewa dan meletakkannya kembali ke laci meja belajar. Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang dan sejenak menutup mata memutar ingatan ketika aku mengenal dia :
Dia yang kini mematahkan harapanku atau mungkin sekalian mematahkan hatiku.
Dia? Sebut saja namanya Tian. Nama lengkapnya Tian Ezula Mahendra. Aku mengenalnya ketika pertama kali aku memasuki sekolah menengah atas. kebetulan saat itu aku mendaftar di sekolah yang bernuansa agama atau di bawah naungan kementerian agama, Madrasah Aliyah negeri 1 (MAN 1).  Aku mulai mengikuti MABIS (Masa bimbingan siswa) atau MOS (Masa orientasi siswa) di sekolah itu dengan sepenuh hati.
Mabis di isi dengan materi-materi dan pengenalan sekolah, ketika itu Pak rafi salah satu guru MAN 1 menyampaikan materi yang berhubungan tentang keorganisasian. Kami larut di dalam materi yang di sampaikan. Ketika pada suatu ketika pak rafi membuka season tanya jawab untuk kami, ‘’silahkan ada yang di tanyakan?’’pak rafi menatap kami tersenyum. Saat itu Ruangan aula tempat kami hening sesaat sebelum akhirnya ada seseorang yang mengangkat tanganya hendak menanyakan.
               ‘’Ya silahkan’’ucap pak rafi ramah. Aku segera melihat siapa orang yang berani itu.
               ‘’Perkenalkan nama saya Tian Ezula Mahendra dari SMP.N 17, ijin bertanya’’ucap orang itu dengan lantang. Aku terbengong di buatnya, ‘’heh, kenapa?’’tegur aliza teman baruku.
               ‘’Eh, nggak kok, hehehe’’kataku gelagapan. Lalu orang yang bernama tian itu bertanya dengan pertanyaan yang sangat mengagumkan, aku merasa ada hal aneh dalam diriku, ‘’Alfi….’’syifa teman baruku yang duduk di bangku belakang memukulku pelan.  ‘’apa?’’kataku sambil membalikan badan kebelakang.
               ‘’Ganteng yah?’’tanyanya terenyum centil.
               ‘’Siapa?’’tanyaku pura-pura tidak tahu.
               ‘’Tian!’’jawab Aliza spontan sambil membalikan tubuhnya kebelakang.
               ‘’Iya tian, kata kamu ganteng gak?’’syifa sekali lagi bertanya.
               Aku mengedarkan pandanganku dan memperhatikan sosok tian, ‘’lumayan’’jawabku jujur.
               ‘’Ada feeling?’’syifa tersenyum genit.
               ‘’Ih Syifa, kamu tuh aneh-aneh aja. Kenal juga nggak’’cerocosku sambil kembali menghadapkan tubuhku ke depan.
               ‘’Cciiie..’’syifa dan aliza menggodaku.
               Kali ini aku tersenyum mengingat tingkah kedua teman baruku itu, atau sebut saja sahabat baruku karena memang merekalah yang selanjutnya menjadi sahabatku lalu di susul dengan beberapa sahabat lainnya atau kusebut dengan Bintang kejora.
Aku menarik napas panjang, pikiranku malam ini sepertinya di penuhi oleh kisah itu, yang pahit untuk di kenang. Pangeranku ‘’Tian Ezula Mahendra,’’ Pangeran? Ya, memang dahulu kusebut dia sebagai pangeran.  Kuharap dia Cinta sejati yang di kirim Tuhan untukku. Ah! pendek sekali jalan pikiran ini. bukannya cinta sejati itu nanti, nanti setelah jodoh itu datang. Entahlah, yang kutahu aku begitu mengagumi sosok Tian. Entah atas dasar dan alasan apa aku masih mengharapkan cintanya yang jelas bukan untukku. Namun, dahulu aku beropini bahwa dia pun menaruh rasa yang sama pada diriku. Nyatanya kini, opini dalam otakku itu berbalik seratus delapan puluh derajat. Faktanya, dia memilih gadis itu. sebut saja namanya Lana. Lana ? argumen yang seperti apa lagi yang harus aku lontarkan mengenai gadis itu, gadis yang beru saja aku dan tian kenal. Hey kalian tahu gadis itu adik kelasku di sekolah. Tapi dia hebat sangat hebat atau SUPER WOMAN, SUPER JUNIOR, SUPER GIRL de el el. mudah sekali mengalihkan perhatian Tian, tapi aku tak bisa menyalahkan gadis itu kalau dia pun terhipnotis oleh karismatiknya seorang Tian yang kutahu belakangan ini ternyata Tian seorang yang katanya Egois dan terlalu otoriter, entah itu benar atau tidaknya. Itu bukan urusanku lagi, pikirku dalam hati.
Dengan datangnya gadis itu atau Lana yang cantik jelita berakhir juga penantianku yang berakhir pada sepotong patah hati. Penantian satu tahun tiga bulan atau empat ratus lima puluh lima hari penuh dengan puisi-puisi hampir empat buku tulis. Kusebut sebagai ‘’PUISI DALAM 455 HARI SENDU’’. Dramatis sekali bukan? Atau malah mengenaskan. Dan puisi itu masih terpajang rapi dalam buku lusuh itu. bagaimana lagi harus kukatakan tentang puisi-puisi kesayanganku itu, sedang semua berobjek satu kajian yaitu TIAN. Jujur kukatakan pada semua yang mengagumi puisi-puisiku saat ini, puisi itu berawal dari sebuah  nama dari sebuah tema berakar pemilik warna biru. Ya biru adalah warna kesukaan Tian. Hadirnya tian membuatku selalu berimajinasi menumpahkan semua rasa dalam bentuk tulisan hingga sampai saat ini menulis puisi dan cerpen dan lain-lain adalah hobiku, walaupun sebenarnya itu hobi lama yang sempat tertunda.
Yang menjadi pertanyaanku kala malam, adalah dimana lagi aku harus mendapat insfirasi untuk puisi-puisi terbaruku sedang insfirasi yang bernaluri adalah sosok Tian. Tertatih, aku tak berhak menjadikan dia makhluk abstrak lagi dalam puisi-puisiku selanjutnya, sedangkan dia telah termiliki.
‘’huh’’aku menggerutu mengingat kekonyolanku itu, mengingat saat kuikuti tian kemana pun dia pergi, aku ingin tahu. Itu saja. Tapi semua kekonyolan itu tak berlaku lagi saat ini. dia bukan urusanku lagi!
Dan aku harus membohongi diriku, hatiku, orang lain, terlebih para sahabat. Mulut ini berkata dengan angkuhnya, ‘’aku udah lupain dia kok,udah gak inget lagi’’ucapku penuh kebohongan. teman-teman hanya menatapku datar entah apa yang ada di benak mereka setelah kuucapakan kata-kata tadi. Hanya aliza, sahabat terdekatku menodongku dengan berbagai pertanyaan yang menohok ulu hati.
Dia menggenggam tanganku,’’al, boleh kamu ngebohongin temen-temen yang lain. Tapi kamu gak bisa berbohong sama aku”ucap aliza suatu hari setelah aku memproklamirkan bahwa aku telah melupakan tian.
Aku mengerutkan kening, ‘’maksud kamu?’’
Dia tersenyum, ‘’kamu belum bisa ngelupain Tian kan? Kamu belum ikhlas kan dia udah di miliki gadis lain? Kamu belum rela kan dia udah jadian sama lana?’’aliza menghela nafas, ‘’jujur sama aku al!’’
Aku tertegun mendengar beberapa pertanyaan itu, aku harus jawab apa?! Ya memang faktanya itu aku belum bisa melupakan tian, aku belum ikhlas. Batinku semeraut.
               ‘’Kenapa kamu diem?’’
‘’Aku gak tau liz’’jawabku bebohong lagi.
Bulan oktober 2011, sepertinya bulan kehancuranku dalam masalah cinta. Bagaimana tidak, Tian yang kukira cinta sejatiku itu tepat bulan oktober itu meresmikan cintanya dengan lana, gadis yang sangat kubenci. Ingat! Aku takkan membencinya jika ia tak memulai. Sepertinya lana tahu kalau aku dahulu mencintai Tian. Lana menatapku penuh dengan tatapan yang menurutku pantas aku ludahi. Sadis!
Ini bukan sekedar masalah pribadi lagi, ini membawa kepada etika seorang adik tingkat kepada kakak tingkat. Walaupun adik tingkatlah yang memenangkan hatinya. Tapi ini bukan akhir segalanya aku masih menyediakan tempat untuk pangeranku yang baru.
Oktober, November, desember, adalah tiga bulan terakhir di tahun 2011. Dan tiga bulan itulah aku merasa tertatih. Terlebih bulan oktober. Tapi kuharap oktober tahun depan aku akan mendapatkan antonim dari oktober 2011. Artinya, aku ingin mendapatkan kebahagiaan.
Kau tahu? Oktober 2011 berlalu, kulalui dengan sejuta kehancuran dan kegalauan mendera menyisakan semua pekerjaanku terbengkalai. Terlebih nilai-nilaiku menurun drastis dari semestinya. Itulah akibat dari sebuah ketidak ikhlasan merelakan seseorang yang di cintai. Padahal, masih ada sepotong cinta di bulan November 2011. Tapi, tentu itu tidak membuatku merasa bahagia sekali.
Namanya Zafa, sebut saja dia sahabatku dari kelas X sampai sekarang ini kelas XI. Kami tidak pernah satu kelas. Sekarang aku kelas XI IPA dan dia kelas XI IPS.
Tapi yang namanya sahabat tak terpisah oleh jarak, waktu, kota, Negara, bahkan benua sekali pun. Kalau kita tetap menjaga komunikasi dan silahturahmi yang baik. Apalagi ini hanya terpisah kelas toh masih satu sekolah.
Aku dan zafa sering sekali bertukar pikiran atau sekedar curhat. Dan dia tahu keadaan hatiku yang saat ini sedang tidak beres. Dia hanya mencoba tersenyum. Tapi senyuman itu berbeda sekali. Bukan sekedar senyum dari sang sahabat tapi senyum dari orang yang menyimpan rasa padaku sedari dulu.
Suatu ketika zafa menatapku lekat, ada kedamaian disana namun ada juga sebersit kalimat yang menjadi bebannya selama ini yang ingin dia ucapkan padaku.
               ‘’Hm, Alfi senyum dong, jangan cemberut aja. Jelek tahu!’’zafa mengagetkanku saat aku sedang duduk sendiri di depan kelasku, memang saat itu aku hanya merengut. Zafa menghampiriku.
               ‘’Eh’’aku tersenyum spontan. Zafa kembali tersenyum, ‘’nah gitu dong, kalau gitu kan tambah manis’’. Aku hanya menanggapinya dengan senyum dikulum.
               Kulihat air muka Zafa yang tadi tersenyum kini berubah serius. ‘’al, aku tahu kamu masih sangat sedih’’ucapnya sambil duduk di samping kananku. Aku hanya diam.
               ‘’Aku juga sedih lihat kamu kaya gini, ayolah bangkit! Jangan kalah sama perasaan kamu itu atau mungkin kamu mau di perdaya oleh cinta. Cinta itu bukan hanya Tian al. alfi…’’dia tersenyum, lalu melanjutkan ucapannya. ‘’lihat aku’’pintanya lembut.
               Aku menoleh sejenak, aku menangkap ada yang aneh dari zafa. Dia hanya sahabatku tapi kini, mengapa dia sangat care lebih dari seorang sahabat, apa ada sesuatu lain?! Entahlah.
               ‘’Kamu gak pantes di giniin sama tian, emang apa sempurnanya dia sih, kamu udah tau kan sifat dia yang sebenarnya?’’zafa berusaha mempengaruhiku, tapi memang itu kenyataannya tian tidak sesempurna yang aku bayangkan, tapi kenapa hati ini selalu tertuju padanya. Atau memang hatiku yang mempermainkan semuanya? Aku tidak tahu.
               Aku menarik nafas panjang, ‘’iya tahu’’
               ‘’Terus kenapa kamu masih aja ngarepin dia, orang yang udah jelas-jelas gak ngarepin kamu!’’suara zafa mulai meninggi.
               ‘’Apa peduli kamu sih!’’jawabku ketus.
               ‘’Lho aku sangat peduli sama kamu al’’
               ‘’Tapi, peduli kamu itu terlalu berlebihan za!’’aku melontarkan unek-unekku selama ini.
               ‘’Aku pikir itu gak berlebihan , peduli terhadap orang yang kita sayangi’’jawaban zafa membuatku menoleh padanya,’’maksud kamu apa?’’
               ‘’Aku sayang sama kamu’’suara zafa merendah. Sontak aku keget, ‘’Sayang?’’. Zafa hanya mengangguk kecil dan menatap nanar taman yang ada di depan kelasku.
               Namun tiba-tiba aku tersadar dengan kata sayang itu, ‘’hm, iya sayang sebagai sahabat kan?’’aku yakin dengan ucapan zafa, dia hanya sayang sebagai sahabat.
               Zafa menggelang, dia kembali menatapku, ‘’Aku sayang sama kamu sebagai sahabatku juga  sayang kamu sebagai orang yang aku cintai.’’
               Aku terkesiap mendengar pengakuan zafa yang kuharap itu bohong.
               ‘’Kenapa? Kamu gak percaya?’’tanya zafa penuh selidik.
               ‘’Iya aku gak percaya, bagaimana bisa kamu sayang sama aku lebih dari seorang sahabat. Dan sejak kapan kamu punya perasaan itu?’’jawab dan tanyaku sekaligus.
               ‘’Sejak aku kenal kamu, sejak pertama aku masuk sekolah ini!’’
Mataku terbelalak, ‘’selama itu?’’tanyaku tak percaya.
               ‘’Iya, sama kan kaya sayang kamu ke tian selama itu juga’’zafa mendengus.
               ‘’Kenapa kamu gak jujur?’’aku menyesalkan.
               ‘’Untuk apa aku jujur, sedangkan saat itu kamu mencintai tian’’urainya.
               Aku hanya diam terpaku mencoba mencerna ucapan zafa yang kurasa aku tak bisa menerima kenyataan bahwa sahabatku sendiri yang mencintaiku dengan tulus.
               ‘’Tapi…’’belum selesai aku mengutarakan maksud dari hatiku, zafa sudah memotongnya,’’iya, aku tahu kamu gak punya perasaan lebih, dan aku memaklumi itu. kamu terlalu sempurna untukku’’katanya merendah.
               ‘’Bukan, maksud aku. Kenapa kamu berikan cinta itu buat aku, kenapa gak ke orang lain’’kataku kemudian.
               ‘’Kamu gak akan ngerti al, sekarang aku mau tanya Apa kamu juga sayang sama aku lebih dari sahabat?’’pertanyaan yang dari tadi sebenarnya ingin aku hindari.
               ‘’Maaf, untuk saat ini aku menutup hatiku untuk siapa pun!’’
               ‘’Kamu belum jawab pertanyaan aku Al?’’zafa medesak
               ‘’Oke, aku memang suka sama kamu. Tapi Cuma suka gak lebih za, Maafin aku’’jawabku jujur, aku memang menyukainya tapi tak untuk menyayanginya lebih dari sahabat.
               ‘’Iya gak apa-apa, aku udah cukup tenang udah ngungkapin semuanya”’katanya bijak sambil tersenyum. Lalu dia meneruskan ucapannya, ‘’dan aku yakin suatu saat kamu akan menaruh rasa yang sama’’ katanya kemudian dengan pasti.
               Aku hanya diam dan membiarkan dia terus berargumen tentang diriku nanti.
               ‘’Yaudah, aku balik dulu ke kelas ya, inget alfi jangan lupa makan ntar kamu sakit’’zafa berkata lembut sambil berlalu menyisakan aku yang hanya mengangguk kecil sekaligus di gelayuti beberapa kenyataan bahwa sahabatku telah membuka rahasia hatinya dan itu tentang diriku.
Semenjak zafa mengungkapkan perkara hatinya, dia seperti menghilang di telan bumi. Tak pernah kutemu lagi dia mengunjungi kelasku untuk sekedar ngobrol ngalor ngidul atau sekedar menyapa. Semua berbeda dia berubah dingin padaku. Dan inilah yang kubenci. Benci cinta!
Hanya di lain kesempatan kudapati dia sedang menatapku dari jauh lalu langsung memalingkan muka setelah tahu aku melihatnya. Ah entahlah aku benci dengan keadaan seperti ini. aku semakin benci dengan yang namanya cinta! Jatuh cinta! Aku tak hanya kehilangan cinta tapi aku juga kehilangan sahabatku. Mati rasa! Huh..aku Cuma bisa bersabar. Semoga ada balasan indah dari-Nya untuk kesabaranku ini.
Tak terasa kini tepat tanggal 1 januari 2012, itu artinya oktober, November dan desember 2011 telah berlalu. Bulan-bulan dimana penuh cobaan yang menguras emosi dan air mata. Dan sampai sekarang pun zafa seakan tak pernah terlihat lagi, satu pesan singkat pun tak kutemu lagi dari handphoneku. Atau mungkin dia telah melupakanku? Tak mengapa memang itu yang kuharapkan tapi ada satu yang tak ingin terjadi yaitu melupakan persahabatan kita. Aku tak ingin itu terjadi. Dan lagi-lagi aku menyalahkan gara-gara cinta! Ah picik memang diri ini selalu menyalahkan cinta, yang jelas-jelas cinta adalah anugrah dari Tuhan yang patut kita syukuri. Tapi, bagaimana jika cinta itu selalu membuat kita kecewa ? KECEWA!
Lelah memaknai semua itu, akhirnya aku menyadari bahwa selama ini aku salah. Aku salah dan sangat salah. Perasaan hati tak dapat di dustai kawan, siapa sangka jika orang yang kita duga mencintai kita tapi ternyata kenyataannya tidak, sebaliknya orang yang kita duga dia tidak mencintai kita  tapi teryata ia sangat mencintai kita. Itulah uniknya sebuah rasa, tak terjamah denhan jemari tapi dengan kata hati yang bernaluri. Ya itulah kisahku, Tian adalah tokoh yang begitu aku kagumi hingga seluruh hatiku begitu tertuju padanya namun nyatanya dia mematahkan hatiku. Itu  angin lalu, karena saat ini aku tak tertarik lagi padanya. Sulit memang melupakan segala tentang dirinya yang begitu berkarisma tapi, dengan keyakinan aku rasa kita mampu. Jangan menyiksa diri dan jangan memaksa orang lain tuk mencitai kita karena itu kan berdampak pada ketidakbahagiaan dalam hidup. Aku yakin Tian memang baik untukku tapi dia bukan yang terbaik untukku. Aku mencoba mengikhlakannya dan akhirnya aku bisa!
Dan tentang Zafa, aku harap dia kan berubah seperti dulu. Zafa yang periang dan selalu tersenyum. Dan kurasa aku mulai menyukainya, tapi tak untuk menyayanginya lebih dari sahabat.
Kurasa keputusanku bijak, takkan kubuka dulu hati ini untuk siapa pun. Mengapa? Karena aku tak mau kecewa lagi. Tibalah nanti kutemu yang terbaik atau jodohku, pangeran pilihan yang telah Allah kirimkan untukku. Karena kuyakin cinta sejati itu nanti.
Dalam hentakan waktu, hidupku seperti tercatat dalam puisi-puisi itu. keluh kesah atau galau semua terekam di balik kata- kata yang mungkin sampai berdarah-darah. Kau tahu? ada satu objek yang membuat puisi itu hidup, namun tidak dengan dunia nyata di kehidupanku.Objek itu seakan mati dalam hidupku. Bahkan, dalam mimpi pun tak kutemu lagi. Dan objek itu adalah seseorang yang dahulu sempat aku kagumi. Ia pemilik warna Biru. Sudahlah, itu masa yang amat kubenci. Kini aku kan melangkah meraih Bintang impianku.
Dan inilah tiga  puisi dari sekian banyak puisi yang kutulis dalam 455 hari sendu, yang kurasa puisi ini adalah saksi dimana saat aku tertatih dan batinku memar.





‘’455 hari sampai oktober sendu’’
Kala itu aku dan kau terpisah dalam ruang sendu, berakaslantai kaku.
Memandang lewat jendela terpisah gorden gelap.
Kau sedang menulis disana , mendengar setiap petuah.
Sedang aku memandangmu di balik tirai berdebu.
Kadang kutanya kawanmu lewat sejenak singgah di ruang senduku.
Tenang gendangku menyimak setiap kata tentangmu, bagai sajak indah aku tersenyum.
Lantas kusibak lembaran, menulis pergulatan aku dan dunia
Lalu kusimpan dibawah bantal senduku kala malam menyapa
Bintang-gemintang bercahaya, seolah beri harapan darimu
Malam temalam berlalu bertemu fajar dalam kabut  pagi.
Hatiku penuh sapaan senyum dan tatapan, entah untuk siapa..
Lalu sekedar sepatah kata dari aku dank au, lewat saja..
Berhari, berbulan, bertahun..
Sepenggal masa dalam lingkup kekaguman terpendam
Terhitung hentakan waktu, penuh senang, tangis, biasa saja..
Waktu kaku bertemu sekarana dalam sama-sama ruang sendu kita tempati
Dilemma sungguh menabung di kantung akhir keperihan
Akhir keperihanku saat kudengar kau bergamot dengannya
Dengannya, gadis baik, cantik dan menarik hatimu..
Sedang aku hanyadiam terpaku meratapi segala yang terjadi
tentang patahnya hati yang Selalu kujaga untuknya.
Membenamkan segala waktu penantian yang akan kuakhiri.
455 hari sampai oktober sendu.
@oktober

‘’Puisi penantian, semakin menua’’
Juli Agustus…
September oktober…
November desember …
Januari februari…
Maret april…
Mei juni…
Dan Juli Agustus…
September oktober, puisiku 455 hari sampai oktober sendu.
Masih bertabah setia dalam buku lusuh bagian ke empat
Penulis tetap tegar menumpah buih-buih kepiluan
Penantian tetap tma dalam kata yang aku dambakan
Penantian tua, puisinya juga menua melusuh berdebu.
Berabu kenangan menggapai yang din anti
Bintang-gemintang, bulan-rembulan
Saksi perjalanan lembar-lembar puisi
Puisi penantian itu, kini menua tak ada jawab, entah sampai kapan
Sampai mati bernama puisi penantian.
@021011

‘’Berkas-berkas lusuh’’
Berisi catatan sajak kesaksian penantian
Berkisah duka, suka. Atau biasa saja.
Berlembar, berbuku, berpena habis  sudah.
Di babat imajinasi dan objeknya itu kau!
Tapi, kini aku tak berhak menjadikan
Kau makhluk abstrak di sebait puisiku.
Bercak penaku pasti akan luntur di hapus orang
Yang telah memilikimu.
Tinggalah sudah berkas-berkas kertas
Lusuh, lecek dan aku abaikan.
Dan aku tak tahu siapa yang kan menjadi insfirasiku nanti,
Sedang kau telah enyah.
@061011
Yupz, itu tiga puisi dari sekian banyak puisi yang kutulis. Bagaimana sedih bukan? Mengenaskan ? atau malah biasa saja. Bagiku itu mengenaskan. Tapi itu hanya cerita tempo lalu tidak untuk hari ini dan seterusnya karena aku benar-benar telah melupakan dia, kisahnya, dan semua yang pahit. So, aku baru sadar jangan pernah takut akan cinta. Karena cinta adalah Anugrah terindah dari Allah SWT. Tapi berhati-hatilah dalam memberikan sebentuk hati atau cinta jangan sampai kamu kecewa dan menyesal.


#THE END

                                                                                                      Penulis :
Bintang C-Pena
Rangkasbitung, 1 januari 2012
@22:23 PM
                                                                                                           J                                                                                                                           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar