Dongeng Kehidupan
Oleh : Ajeng Restiyani
Aku
buatkan perahu kertas
Agar
kanda berlayar ke laut lepas
Menyibak
dunia dengan kanvas
Lalu
kembali dengan senyum tuntas
Tanpa
harus mengeluh lemas
Karena
kanda punya tekad realitas
Untuk
menata mimpi jadi berkibar bebas
Teruslah
berlayar dengan perahu kertas
Jadikan
lukisanmu sebagai peta dalam kanvas
Berlayarlah
terus, jauh dari daratan luas
Agar
bisa kubuatkan dongeng kehidupan seorang pelukis
Dan
‘kan kuceritakan pada dunia tentang mimpi seorang pemimpi
Serta
dongeng dari seorang penggapai mimpi.
@030912
Jejak Mimpi
Oleh : Ajeng Restiyani
Layung
senja terus merona
Menuai
gores mimpi senjakala
Suaraku
beriringan dengan arakan awan
Melukiskan
beribu mimpi masa depan
Bahkan
burung ikut bernyanyi
Membuat
asa makin meninggi
Jejak
hidup akan dimulai
Dengan
perahu kertas, aku ‘kan berlayar bebas
Jauh
menjauhi daratan menuju laut lepas
Dan
kembali dengan senyum tuntas
Gores-gores
mimpi yang jadi saksi
Pertarungan
jiwa dan dinamika
Biar
aku tertimpa reruntuhan cahaya
Asal
mimpiku jadi nyata
Bukan
sekedar mimpi sang pemimpi.
@161212
Ranah Berdawai
Oleh : Ajeng Restiyani
Barisan
obor kami bergerak dari napas ketertinggalan
Darah
kami bergaram, menyeduh asin kerikil kehidupan
Kami
masih belia, tapi goresan mimpi tak terlawan
Asa
kami berekspresi tanpa ragu, sebab kami bukan tawanan
Berselempang
bara kami meracik rentetan budaya
‘Kan
jadi identitas nilai lokal bernilai citra
Ranah
kami tiada tara berkarya
Terus
memamah seni berdinamika
Kami
bukan plagiat, tapi kami mencipta
Dari
pencak silat sampai debus
‘Kan
jadi bekal untuk hidup lepas
Dari
dog-dog lojor sampai angklung
Berekspresi
sampai tuntas
Tari-tarian
sampai adat istiadat, Tiada terkikis..
Katanya,
kami sang jawara
Main
golok, kasar dan seram
Tidaklah
jua seperti itu, kami tetap berdawai
Santun
dan bermoral, karena jua itulah
Nilai-nilai
lokal Ranah kami ‘kan mendunia.
@Banten,020413
Ketika engkau rindu
Oleh : Ajeng Restiyani
Aku adalah keabadian kenanganmu,
dan engkau takkan bisa menawarnya jadi kesemuan
engkau adalah kesegalaan panoramaku walau sembilu aku adalah
lukamu
adalah luka-lukaku.
Ketika engkau beranjak dari ketertatihan jangan sangka aku penyembuhnya
Mungkin semua adalah ulah rindu yang menyayat akal dan naaluri
Ketika engkau rindu..
Jangan sulam aku jadi pertandamu
Jangan biarkan aku dan engkau memelihara harapan
Biarlah, potret-potret hari ‘kan membawa nama kita
Entah pada keabadian atau kesemuan
Ketika engkau rindu..
Aku bukan penawarnya,
Aku bukan pemberi harap-harap sendu
Aku bukan pertandamu
Tapi..
Aku adalah engkau yang merindu.
Ketika engkau rindu..
Kembalilah pada sujud dan tengadah pada-Nya
Melepas nafsu yang memerih setiap jengkal
Kembalilah kepada-Nya untuk rencana-Nya yang paling indah.
Allah
Oleh : Ajeng Restiyani
Allah..
Terimakasih atas nikmat-nikmat ini
Nikmat yang aku lalaikan
Nikmat yang lupa akan syukur dan sujud
Allah..
Aku ini hanya
kelemahan dari sekian kelemahan
Penuh luka dosa-dosa tak terhitung
Allah..
Pantaskah aku menjadi hamba-Mu?
Sedang Engkau adalah Tuhan dengan segala keMahaan-Mu
Allah..
Jangan biarkan syukur dan sujudku luntur kembali
Allah..
Syukurku pada-Mu atas kesempatan hidup kedua ini :’)
Keras !
Oleh : Ajeng Restiyani
Andaikan
kau tahu merindukanmu adalah kenikmatan yang membungkam
Merindukanmu
tanpa jeda, tanpa pandang, tanpa tatap dan tanpa usia
Di
nisanku dan nisanmu adalah keselarasan kita tercipta
Dari
Lembah
yang merana
Dari
Rusuk
yang terbagi
Dari
Kehilangan
jantungku
Kepada
engkau, kekasih dalam kisah yang tak pernah muncul
Menyusullah
pada lubang-lubang kepasrahan
Bahwa
Kapalku
tenggelam pada kelelahan air matamu
Bahwa
Tanganku
terkepal pada jasad-jasad yang terhakimi
Bahwa
Aku
bercumbu denganmu
Tanpa
suara
Tanpa
desah
Tanpa
usia. Kita adalah mati !!
Di
batang-batang jarak
Yang
diperkosa waktu
Terkutuk
!
Ah iya,
kisah kita sudah senja
Lantas
mengantuk
Pulas
Dalam
Rembulan
yang kejam, tak memancar
Biar aku
berlari, membunuh matamu
Agar kita
buta
Lalu mati
Ah !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar