Seragam Kuning
Oleh : Ajeng Restiyani
Udara
malam terasa begitu kering, menyengat paru-paru yang sudah penuh asap rokok
ini. Aku merenung memandangi kelam malam di desa terpencil ini. Desa yang
merupakan salah satu dari sekian ratus desa yang tersebar di Kabupaten Lebak.
Rambulan tak punya keberanian menampakan cahayanya di kelemahan malam ini. Sepi
menambah hawa mencekam. Hujan tadi sore menyisakan bau tanah yang khas. Remang
cahaya lampu minyak menambah perwajahan desa ini, korban keserakahan para
penguasa. Aku semakin gelisah, gubuk reyot yang tengah menampung segumpal
daging-daging bernyawa itu terlihat tersiksa dengan usianya yang semakin tua,
peninggalan mertuaku. Aku terduduk di dipan yang sudah mengeras ini, mata ini
tak kunjung terpejam, ia berkeliaran memandang langit-langit gubuk yang penuh dengan
sarang laba-laba, setiap sudutnya dipenuhi rayap, kotoran, kumuh, gersang, dan ah,entah
harus bagaimana lagi aku harus mendeskripsikannya. Namanya juga gubuk! sampai
suatu ketika isteriku berkata dengan ketegarannya,”Kang ini rumah, bukan gubuk”.
Sebenarnya aku tak tega mengatakan secara terang-terangan bahwa ini gubuk di
depan isteriku. Akhirnya, aku bungkam dalam hati, ini memang rumah, tapi rumah,yang tidak layak! Pertentangan hatiku
semakin menjadi-jadi. Namun, seperti biasa isteriku, Lilis, selalu tahu apa
yang aku pikirkan,”Akang, seharusnya kita bersyukur dengan keadaan kita
sekarang, kita masih punya tempat tinggal walaupun dikatakan tidak
layak,”isteriku berkata sambil memandangi mataku penuh kelembutan namun
tersirat penegasan dalam kata-kata dan sorot matanya.“Akang, kita teh harus rumasa”katanya kemudian sambil tersenyum getir. Aku terus merenungi perkataan isteriku itu
dengan merenungkannya bersama semilir angin yang berhembus di celah-celah bilik rumah ini.
Rumah?
Ya, aku harus membiasakan bahwa ini rumahku. Rumah permulaan untuk aku,
isteriku dan anak-anakku. Rumah permulaan ? aku yakin, pasti akan ada rumah
impian. Aku mencoba berdamai dengan keadaan ini, mencintai, menyayangi, menjadi
Ahli Syukur. Aku tersenyum ringan bersama deru napas isteriku yang tertidur
dengan cantiknya. Aku memandanginya, bersyukur dianugerahkan seorang isteri
yang shalihah lagi jelita. Tiba-tiba matanya memicing, lalu menggeliat tampak
kebingungan dalam rautnya,”Ada apa Akang? Akang haus atau mau makan? mau Neng
ambilkan?”perhatiannya mulai meluncur bertubi-tubi. Aku menyentuh punggung
tangannya lembut, “Memang masih ada persediaan Neng?” isteriku tertegun,”Tinggal
satu gelas beras lagi Kang, tapi tenanaon
Kang. Besok kita ngutang aja”katanya ketika hendak beranjak.aku
mencegahnya,”Akang tidak lapar, satu gelas beras itu buat besok aja”. Isteriku
mengangguk patuh lalu terduduk sambil memintal-mintal baju lusuhnya. “aya naon Neng?”tanyaku sambil mengangkat
dagunya. Isteriku menarik napas panjang, “Si Aceng Kang, anak kita” ucapnya
sendu, “Neng kasian sama seragam sekolahnya”, lanjutnya menghela napas panjang.
“Muhun Neng, Akang lagi berusaha
ngumpulin uang buat beli yang baru, memang Aceng minta di belikan Neng?”,
Isteriku menggelang cepat, “Tidak Kang, Aceng tidak minta di belikan”ia menarik
napas panjang,”Hanya saja seragamnya sudah se..perti ka..in lap”katanya
terbata-bata, air mata mulai menetes,”kancingnya tinggal tersisa dua, warnanya
menguning. Neng tak tega dia jadi bahan olokan teman-temannya”isteriku mulai
terisak-isak. Kepalaku berdenyut hebat, baru saja aku mencoba berdamai dengan
keadaan rumahku, datang lagi masalah. Dan ini mengenaskan. Allah, adilkah hidup ini? aku mengumpat dalam hati. Aku mencoba menenangkan
isteriku walaupun aku sendiri diambang gelisah ”Tenang Neng, semua akan
baik-baik saja. Kita usaha dan berdo’a terus semoga hidup kita bisa berubah
jadi lebih baik”aku berbicara seperti menasehati diriku sendiri.
Isteriku
mengangguk lantas berbaring dengan lemahnya, Aku menyelimutinya dengan kain
alakadarnya,”Sudah larut malam, tidurlah Kang,”pinta isteriku. Aku menurut
walau mata ini tak kunjung terpejam sampai Shubuh menjelang.
Keesokan harinya aku bergegas pergi
ke pasar, mengadu nasib dengan berjualan buah-buahan milik tetanggaku, Pak
Otong.
“Terimakasih pak atas bantuannya”kataku
tersenyum.
“Sama-sama Mat, jangan banyak ngeluh
yah, Abah juga dulu sama sepertimu”ucapnya sambil menepuk-nepuk pundakku. Pak
Otong selalu menyebut dirinya dengan sebutan Abah. Abah berarti bapak dalam
Bahasa Sunda.
“Maksud Abah?”aku mulai membiasakan
memanggilnya Abah.
Abah Otong mengusap janggutnya yang
memutih, menghela napas panjang seperti mengingat-ingat yang terjadi di masa
lalunya. “Abah mulai dari nol Mat, tidak langsung seperti ini” katanya mulai
membuka dimensi waktu yang lalu.
Aku mulai tertarik
mendengarkannya,”lantas Bah?”aku tak sabar.
Abah menatapku sebentar kemudian
melemparkan pandangannya ke ufuk timur, menenggelamkan lukanya.”Abah kerja dari
gang ke gang, kampung ke kampung, desa ke desa, kota ke kota, pulau ke
pulau”katanya datar, namun cukup membuatku terkejut, dibalik kemegahannya kini,
Abah menyimpan cerita yang dalam.
“Kenapa Mat? Kamu tak percaya?”Abah
seperti menelisik keraguan mataku,”bahkan aku pernah kerja dari satu negara ke
negara lain”mata Abah mengenang. Aku semakin tersentak kaget, takjub “benarkah
Bah?”
Abah mengangguk,”Tapi, bukan
jalan-jalan Mat”aku tak mengerti,”Terus ngapain Bah?”tanyaku penasaran.
“Jadi…Jadi TKI”
“TKI?”
“Iya Mat, kenapa? Tak percaya lagi?”
“Mamat..
Mamat percaya kok Bah”kataku cepat walau masih terbesit keraguan.
“Mat, jangan lihat Abah yang
sekarang, tapi lihat Abah di masa lalu. Maka, kamu akan berfikir untuk bisa
menjadi Abah yang sekarang”
Aku tertegun mencerna kata-katanya.
Diam.
“Yasudah, ke pasar sana, jaga
buah-buahan Abah. Jangan lalai. Ingat isteri dan anakmu di rumah”katanya
kemudian sambil melenggang pergi.
“A…Abah…..”panggilku
“Sudah nanti saja, aku teruskan
ceritaku saat kau telah sukses. Cari uang sana, matahari sudah mulai
naik”ucapnya setengah berteriak.
Aku menghela napas,”baiklah”.
Sepanjang perjalanan menuju pasar
aku merenungkan perkataan Abah Otong tadi, apa benar Abah pernah miskin
sepertiku? Apa benar Abah pernah hidup susah seperti kebanyakan warga desa
disini? Rasanya hanya Abah satu-satunya warga yang kelihatan hidup
berkecukupan. Ah, sudahlah. Setiap orang punya masalalu. Matahari terus beranjak
naik, aku terus mengayuh sepedah tuaku kearah kota ke Pasar Rangkasbitung.
Peluh keringat bercucuran membasahi
bajuku, “buaah…buuah..enak segar dan sehat..”aku terus menjajakan daganganku
pada orang-orang yang lalu lalang di pasar. “ada jeruk, apel, salak, anggur,
lengkeng, manga, jeung sajabana, dan lain-lain” kataku
kemudian.
“Ayo Akang, Teteh, Emak, Abah,
buahnya masih segar. Baru di petik dari kebun desa”tak henti-hentinya aku
berteriak.
“iye
salak saberahaan hargana Mat?
Berapa harganya?”Tanya seseorang di depanku. “Aih, ja maneh Sarmin, murah min sapuluh rebu sakilo”
“Bungkus Mat, tilu kilo”
“Sip Min, antosan nyah”pintaku sambil menimbang buah salak.
“Kamu dagang sekarang Mat?”Tanya
Sarmin sambil memilih buah yang akan ditimbang. “Muhun Min, sementara”
“Masih nunggu kerjaan yang di pabrik
itu Mat?”
Aku mengangguk, “Semoga lolos,
supaya bisa mencukupi kebutuhan keluargaku” kataku sambil menyerahkan kantong
pelastik yang berisi buah salak.
Sarmin menyerahkan sejumlah uang,”ini
Mat, aku do’akan semoga dagangannya laris. Sing
penting mah kudu leken, yang penting harus rajin”
Aku mengangguk pasti tersenyum, “Hatur nuhun Min”
“Sawangsulna,
sama-sama”jawabnya sambil berlalu.
…
“Bapak……..”panggil
suara anak kecil yang cempreng.
“Aceng?”
“Aceng
dapat nilai seratus dari ibu gulu,
katanya Aceng pintel”celotehnya cadel
sambil duduk di pangkuanku.
“Wah,
coba bapak lihat.”pintaku menyambut antusiasnya.
“Ini
pak, tapi pak kata bu gulu…”ucap Aceng menggantungkan kalimatnya.”Kenapa Aceng?”tanyaku
penasaran.
“Kata
bu gulu, baju aceng bukan warna putih lagi, katanya harus diganti”Aceng
menunduk sambil melihat baju seragam yang dikenakannya.
Aku
menelan ludah,”Nanti bapak belikan yang baru yah, Aceng pakai dulu yang ini”kataku
hambar, perih.
“Benelan pak? Asiik, Aceng punya baju
balu..bajuuuu balu..”katanya bahagia sambil berlari ke dalam rumah,”ibu……….
Bapak mau beliin Aceng baju balu, asik asik”
Aku
tersenyum melihat tingkahnya, aku terlanjur membuat janji dengan anakku, “Neng…”panggilku.
“iya
Kang?”isteriku menghampiri dari arah dapur, ia tengah membuat pisang goreng
untuk dijajakan di sekolah esde.
“Ini
ada uang buat beli beras, cukup untuk seliter atau dua liter”aku menyodorkan
uang hasil daganganku tadi pagi. “Akang mau pergi sebentar”
“Akang
mau kemana?”Tanya isteriku sambil mengambil uang ditanganku.
“Kesana,
cuma sebentar”jawabku menyembunyikan tujuanku.
“Yaudah,
hati-hati Kang”isteriku mencium tanganku.
Aku
mengangguk,”Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”.
…
Aku
menyusuri jalan kecil, becek, bau kecomberan, lalat berkeliaran dimana-mana,
ah! Desa kumuh yang tak terjamah walikota. Bocah-bocah ingusan berlari-lari
tanpa baju, perut buncit, para Emaknya kemanakah itu. Oh mungkin sedang
mencangkul. Sebab, para suaminya sudah lama merantau ke Ibu Kota. Tidak
pulang-pulang. Mungkin saja para Emak mulai banyak yang menjanda. Aku
menggelang-gelang, tak mungkin aku lakukan semua itu pada isteri dan anakku.
Pergi ke Ibu Kota lantas tak pulang lagi. Aku bergidik membayangkan mereka tak
makan. Ya Allah..aku terus berdzikir,mengusir pikiran-pikiran busuk itu.
Toko
Engkoh tampak ramai dari kejauhan, aku berjalan kearahnya. “Punten Koh, ada yang perlu saya
kerjakan?”tanyaku hati-hati, Engkoh yang sedang mengawasi pegawainya mengangkuti
barang-barang dari truk ke dalam gudang. “Eh kau Mat, kau butuh
kerjaan?”tanyanya mengepulkan asap daun kaung.
Aku
mengangguk,”Iya Koh, hasil jualan tadi di pasar cuma cukup buat beli beras
tanpa lauk”kataku jujur.
“Oh, jadi kau butuh lauk?”
Aku
menggelang,”Tidak Koh, ada yang lebih penting dari itu, makan tanpa lauk pun
tak mengapa Koh”
“Baiklah,
angkutlah barang-barang itu ke dalam gudang, susun dengan rapi. Nanti siang kau
akan dapat upah dan jatah makan siang”katanya tersenyum.
“Terimakasih
Koh”kataku sumringah. Baiknya Engkoh. Beliau memang terkenal dengan
kedermawanannya. Hanya saja sebagian orang memandangnya sebelah mata, karena
Engkoh keturunan Tionghoa. Non Muslim. Ah, ini ‘kan negara majemuk, seharusnya
toleransi yang kita junjung, asalkan tidak mengganggu prinsip dan ibadah
masing-masing bukan?
Peluh
keringat tak aku hiraukan, asalkan anakku tak lagi dikucilkan, tak lagi
mengenakan seragam kuning,”Kreok, Kreok”bunyi perutku menagih minta di isi. Aku
tak pedulikan, barang-barang hampir beres tertata di gudang. Itu artinya sesuap
nasi dan upah akan segera aku dapat.
“Mamat…”
“Iya
Koh?”
“Ini
upahmu, hanya segini yah. Kalau kau mau esok bisa kembali lagi kesini. Ambil
nasimu di dapurku dan kau boleh pulang”katanya sopan.
“Terimakasih
banyak Koh”kataku mengangguk.
Aku
terima uang itu, Alhamdulillah.walaupun belum cukup untuk beli seragam aku
harus tetap bersyukur. Nasi kotak yang aku dapat berisi lauk tempe, tahu dan
kacang panjang. Aku sisihkan.untuk isteriku dan anakku di rumah. Setidaknya
mereka bisa makan dengan lauk hari ini, tidak melulu dengan garam.
Aku
kembali menyusuri jalan, kembali ke rumah mengambil sesuatu yang mungkin bisa
aku jual. Dan ah itu dia, di rak kayu itu ada sepatu kesayangannku, hadiah dari
kawan lamaku, yang aku gunakan saat melamar Lilis. Aku harus menjualnya. Demi
anakku, agar tak memakai seragam kuning lagi.
“Sepatu
butut gini, mau dijual lima puluh rebu Mat?”Tanya Kasmin, tetanggaku.
“Ini
masih baru Kang, karak abdi pake dua
kali. Baru dipakai dua kali”aku membela.
Kasmin
mengerutkan dahinya,”tilu puluh rebu”
“Tambahin atuh Kang”kataku putus asa, “ini
terbuat dari kulit’
“Gak
bisa Mat, jual ke yang lain saja”
“Baiklah
Kang, tilu puluh rebu.”
Akhirnya,
sepatu itu lepas dariku. Aku harus ikhlas. Aku kembali menghitung uang dan ah
cukup untuk membeli seragam walau dengan merek yang tidak terlalu terkenal.
…
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
“Neng,
Aceng mana?”tanyaku sambil menyembunyikan pelastik yang di dalamnya terdapat
seragam untuknya.
“Ada
Kang, lagi ngerjain PR, Akang dari mana saja?”Tanya isteriku khawatir.
Aku
tak menjawabnya,aku bergegas menghampiri Aceng, “Bapak……….”panggilnya begitu
melihatku.
“Aceng,
bapak udah belikan seragam buat Aceng”kataku tersenyum.
“Benel?”matanya
berbinar.
“Iya,
ayo dicoba”aku sambil membantu mengenakan seragam di tubuh mungilnya. Seragam
yang putih bersih. Tidak kuning lagi.
“Asik……asik”Aceng
melonjak-lonjak gembira.
Ada
rasa haru dalam dadaku, aku menoleh kesamping, isteriku tengah menghapus air
matanya,”Terimakasih Kang”katanya kemudian sambil mengecup punggung tanganku
tanda rasa hormat seorang isteri pada suaminya.
“Isteriku,
kita masih punya mimpi. Tapi tidak sekedar bermimpi tapi mimpi-mimpi yang butuh
suntikan aksi, engkau ada di belakangku, mendukungku, menyemangatiku dan
mendo’akanku,Terimakasih”kataku sambil mengusap ubun-ubunnya.”Sekarang izinkan
Akang mengubah nasib kita”
Isteriku
menoleh,”Akang mau kemana?”ada keresahan dimatanya.
“Alhamdulillah,
Akang lolos di Pabrik sepatu di Kota Bandung”kataku lega,penuh syukur.
“Akang
mau tinggalkan Neng dan Aceng?”tanyanya dengan mata berembun.
Aku
menggelang cepat,”Akang akan bawa kalian kesana, disana ada tempat tinggal
semacam kontrakan, Aceng akan sekolah disana. Lusa kita berangkat. Neng mau?”
Isteriku
mengangguk,”Tentu Kang”katanya sambil mengusap air matanya.
“Aceng
akan kita sekolahkan sampai sarjana”tekadku pada diriku sendiri
“Aamiin,
Insya Allah Kang”
Aceng
yang merasa dirinya disebut kemudian menoleh,”Sal..jana?”
Aku
dan isteriku mengangguk dan tersenyum, kemudian aku berbisik pada
isteriku,”Kita sudah bermimpi Neng, maka jangan pernah remehkan mimpi kita”.
Isteriku menggenggam erat tanganku,”Allah bersama kita Kang”.
Jakarta, November 2013
Bintang C-Pena
Tidak ada komentar:
Posting Komentar