Translate

Senin, 20 Januari 2014

Cerpen




Seragam Kuning 
Oleh : Ajeng Restiyani


Udara malam terasa begitu kering, menyengat paru-paru yang sudah penuh asap rokok ini. Aku merenung memandangi kelam malam di desa terpencil ini. Desa yang merupakan salah satu dari sekian ratus desa yang tersebar di Kabupaten Lebak. Rambulan tak punya keberanian menampakan cahayanya di kelemahan malam ini. Sepi menambah hawa mencekam. Hujan tadi sore menyisakan bau tanah yang khas. Remang cahaya lampu minyak menambah perwajahan desa ini, korban keserakahan para penguasa. Aku semakin gelisah, gubuk reyot yang tengah menampung segumpal daging-daging bernyawa itu terlihat tersiksa dengan usianya yang semakin tua, peninggalan mertuaku. Aku terduduk di dipan yang sudah mengeras ini, mata ini tak kunjung terpejam, ia berkeliaran memandang langit-langit gubuk yang penuh dengan sarang laba-laba, setiap sudutnya dipenuhi rayap, kotoran, kumuh, gersang, dan ah,entah harus bagaimana lagi aku harus mendeskripsikannya. Namanya juga gubuk! sampai suatu ketika isteriku berkata dengan ketegarannya,”Kang ini rumah, bukan gubuk”. Sebenarnya aku tak tega mengatakan secara terang-terangan bahwa ini gubuk di depan isteriku. Akhirnya, aku bungkam dalam hati, ini memang rumah, tapi rumah,yang tidak layak! Pertentangan hatiku semakin menjadi-jadi. Namun, seperti biasa isteriku, Lilis, selalu tahu apa yang aku pikirkan,”Akang, seharusnya kita bersyukur dengan keadaan kita sekarang, kita masih punya tempat tinggal walaupun dikatakan tidak layak,”isteriku berkata sambil memandangi mataku penuh kelembutan namun tersirat penegasan dalam kata-kata dan sorot matanya.“Akang, kita teh harus rumasa”katanya kemudian sambil tersenyum getir.    Aku terus merenungi perkataan isteriku itu dengan merenungkannya bersama semilir angin yang berhembus di celah-celah bilik rumah ini.
Rumah? Ya, aku harus membiasakan bahwa ini rumahku. Rumah permulaan untuk aku, isteriku dan anak-anakku. Rumah permulaan ? aku yakin, pasti akan ada rumah impian. Aku mencoba berdamai dengan keadaan ini, mencintai, menyayangi, menjadi Ahli Syukur. Aku tersenyum ringan bersama deru napas isteriku yang tertidur dengan cantiknya. Aku memandanginya, bersyukur dianugerahkan seorang isteri yang shalihah lagi jelita. Tiba-tiba matanya memicing, lalu menggeliat tampak kebingungan dalam rautnya,”Ada apa Akang? Akang haus atau mau makan? mau Neng ambilkan?”perhatiannya mulai meluncur bertubi-tubi. Aku menyentuh punggung tangannya lembut, “Memang masih ada persediaan Neng?” isteriku tertegun,”Tinggal satu gelas beras lagi Kang, tapi tenanaon Kang. Besok kita ngutang aja”katanya ketika hendak beranjak.aku mencegahnya,”Akang tidak lapar, satu gelas beras itu buat besok aja”. Isteriku mengangguk patuh lalu terduduk sambil memintal-mintal baju lusuhnya. “aya naon Neng?”tanyaku sambil mengangkat dagunya. Isteriku menarik napas panjang, “Si Aceng Kang, anak kita” ucapnya sendu, “Neng kasian sama seragam sekolahnya”, lanjutnya menghela napas panjang. “Muhun Neng, Akang lagi berusaha ngumpulin uang buat beli yang baru, memang Aceng minta di belikan Neng?”, Isteriku menggelang cepat, “Tidak Kang, Aceng tidak minta di belikan”ia menarik napas panjang,”Hanya saja seragamnya sudah se..perti ka..in lap”katanya terbata-bata, air mata mulai menetes,”kancingnya tinggal tersisa dua, warnanya menguning. Neng tak tega dia jadi bahan olokan teman-temannya”isteriku mulai terisak-isak. Kepalaku berdenyut hebat, baru saja aku mencoba berdamai dengan keadaan rumahku, datang lagi masalah. Dan ini mengenaskan. Allah, adilkah hidup ini? aku mengumpat dalam hati. Aku mencoba menenangkan isteriku walaupun aku sendiri diambang gelisah ”Tenang Neng, semua akan baik-baik saja. Kita usaha dan berdo’a terus semoga hidup kita bisa berubah jadi lebih baik”aku berbicara seperti menasehati diriku sendiri.
Isteriku mengangguk lantas berbaring dengan lemahnya, Aku menyelimutinya dengan kain alakadarnya,”Sudah larut malam, tidurlah Kang,”pinta isteriku. Aku menurut walau mata ini tak kunjung terpejam sampai Shubuh menjelang.
            Keesokan harinya aku bergegas pergi ke pasar, mengadu nasib dengan berjualan buah-buahan milik tetanggaku, Pak Otong.
            “Terimakasih pak atas bantuannya”kataku tersenyum.
            “Sama-sama Mat, jangan banyak ngeluh yah, Abah juga dulu sama sepertimu”ucapnya sambil menepuk-nepuk pundakku. Pak Otong selalu menyebut dirinya dengan sebutan Abah. Abah berarti bapak dalam Bahasa Sunda.
            “Maksud Abah?”aku mulai membiasakan memanggilnya Abah.
            Abah Otong mengusap janggutnya yang memutih, menghela napas panjang seperti mengingat-ingat yang terjadi di masa lalunya. “Abah mulai dari nol Mat, tidak langsung seperti ini” katanya mulai membuka dimensi waktu yang lalu.
            Aku mulai tertarik mendengarkannya,”lantas Bah?”aku tak sabar.
            Abah menatapku sebentar kemudian melemparkan pandangannya ke ufuk timur, menenggelamkan lukanya.”Abah kerja dari gang ke gang, kampung ke kampung, desa ke desa, kota ke kota, pulau ke pulau”katanya datar, namun cukup membuatku terkejut, dibalik kemegahannya kini, Abah menyimpan cerita yang dalam.
            “Kenapa Mat? Kamu tak percaya?”Abah seperti menelisik keraguan mataku,”bahkan aku pernah kerja dari satu negara ke negara lain”mata Abah mengenang. Aku semakin tersentak kaget, takjub “benarkah Bah?”
            Abah mengangguk,”Tapi, bukan jalan-jalan Mat”aku tak mengerti,”Terus ngapain Bah?”tanyaku penasaran.
            “Jadi…Jadi TKI”
            “TKI?”
            “Iya Mat, kenapa? Tak percaya lagi?”
“Mamat.. Mamat percaya kok Bah”kataku cepat walau masih terbesit keraguan.
            “Mat, jangan lihat Abah yang sekarang, tapi lihat Abah di masa lalu. Maka, kamu akan berfikir untuk bisa menjadi Abah yang sekarang”
            Aku tertegun mencerna kata-katanya. Diam.
            “Yasudah, ke pasar sana, jaga buah-buahan Abah. Jangan lalai. Ingat isteri dan anakmu di rumah”katanya kemudian sambil melenggang pergi.
            “A…Abah…..”panggilku
            “Sudah nanti saja, aku teruskan ceritaku saat kau telah sukses. Cari uang sana, matahari sudah mulai naik”ucapnya setengah berteriak.
            Aku menghela napas,”baiklah”.
            Sepanjang perjalanan menuju pasar aku merenungkan perkataan Abah Otong tadi, apa benar Abah pernah miskin sepertiku? Apa benar Abah pernah hidup susah seperti kebanyakan warga desa disini? Rasanya hanya Abah satu-satunya warga yang kelihatan hidup berkecukupan. Ah, sudahlah. Setiap orang punya masalalu. Matahari terus beranjak naik, aku terus mengayuh sepedah tuaku kearah kota ke Pasar Rangkasbitung.
            Peluh keringat bercucuran membasahi bajuku, “buaah…buuah..enak segar dan sehat..”aku terus menjajakan daganganku pada orang-orang yang lalu lalang di pasar. “ada jeruk, apel, salak, anggur, lengkeng, manga, jeung sajabana, dan lain-lain” kataku kemudian.
            “Ayo Akang, Teteh, Emak, Abah, buahnya masih segar. Baru di petik dari kebun desa”tak henti-hentinya aku berteriak.
            iye salak saberahaan hargana Mat? Berapa harganya?”Tanya seseorang di depanku. “Aih, ja maneh Sarmin, murah min sapuluh rebu sakilo”
            “Bungkus Mat, tilu kilo”
            “Sip Min, antosan nyah”pintaku sambil menimbang buah salak.
            “Kamu dagang sekarang Mat?”Tanya Sarmin sambil memilih buah yang akan ditimbang. “Muhun Min, sementara”
            “Masih nunggu kerjaan yang di pabrik itu Mat?”
            Aku mengangguk, “Semoga lolos, supaya bisa mencukupi kebutuhan keluargaku” kataku sambil menyerahkan kantong pelastik yang berisi buah salak.
            Sarmin menyerahkan sejumlah uang,”ini Mat, aku do’akan semoga dagangannya laris. Sing penting mah kudu leken, yang penting harus rajin”
            Aku mengangguk pasti tersenyum, “Hatur nuhun Min”
            Sawangsulna, sama-sama”jawabnya sambil berlalu.
“Bapak……..”panggil suara anak kecil yang cempreng.
“Aceng?”
“Aceng dapat nilai seratus dari ibu gulu, katanya Aceng pintel”celotehnya cadel sambil duduk di pangkuanku.
“Wah, coba bapak lihat.”pintaku menyambut antusiasnya.
“Ini pak, tapi pak kata bu gulu…”ucap Aceng menggantungkan kalimatnya.”Kenapa Aceng?”tanyaku penasaran.
“Kata bu gulu, baju aceng bukan warna putih lagi, katanya harus diganti”Aceng menunduk sambil melihat baju seragam yang dikenakannya.
Aku menelan ludah,”Nanti bapak belikan yang baru yah, Aceng pakai dulu yang ini”kataku hambar, perih.
Benelan pak? Asiik, Aceng punya baju balu..bajuuuu balu..”katanya bahagia sambil berlari ke dalam rumah,”ibu………. Bapak mau beliin Aceng baju balu, asik asik”
Aku tersenyum melihat tingkahnya, aku terlanjur membuat janji dengan anakku, “Neng…”panggilku.
“iya Kang?”isteriku menghampiri dari arah dapur, ia tengah membuat pisang goreng untuk dijajakan di sekolah esde.
“Ini ada uang buat beli beras, cukup untuk seliter atau dua liter”aku menyodorkan uang hasil daganganku tadi pagi. “Akang mau pergi sebentar”
“Akang mau kemana?”Tanya isteriku sambil mengambil uang ditanganku.
“Kesana, cuma sebentar”jawabku menyembunyikan tujuanku.
“Yaudah, hati-hati Kang”isteriku mencium tanganku.
Aku mengangguk,”Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”.
Aku menyusuri jalan kecil, becek, bau kecomberan, lalat berkeliaran dimana-mana, ah! Desa kumuh yang tak terjamah walikota. Bocah-bocah ingusan berlari-lari tanpa baju, perut buncit, para Emaknya kemanakah itu. Oh mungkin sedang mencangkul. Sebab, para suaminya sudah lama merantau ke Ibu Kota. Tidak pulang-pulang. Mungkin saja para Emak mulai banyak yang menjanda. Aku menggelang-gelang, tak mungkin aku lakukan semua itu pada isteri dan anakku. Pergi ke Ibu Kota lantas tak pulang lagi. Aku bergidik membayangkan mereka tak makan. Ya Allah..aku terus berdzikir,mengusir pikiran-pikiran busuk itu.
Toko Engkoh tampak ramai dari kejauhan, aku berjalan kearahnya. “Punten Koh, ada yang perlu saya kerjakan?”tanyaku hati-hati, Engkoh yang sedang mengawasi pegawainya mengangkuti barang-barang dari truk ke dalam gudang. “Eh kau Mat, kau butuh kerjaan?”tanyanya mengepulkan asap daun kaung.
Aku mengangguk,”Iya Koh, hasil jualan tadi di pasar cuma cukup buat beli beras tanpa lauk”kataku jujur.
“Oh,  jadi kau butuh lauk?”
Aku menggelang,”Tidak Koh, ada yang lebih penting dari itu, makan tanpa lauk pun tak mengapa Koh”
“Baiklah, angkutlah barang-barang itu ke dalam gudang, susun dengan rapi. Nanti siang kau akan dapat upah dan jatah makan siang”katanya tersenyum.
“Terimakasih Koh”kataku sumringah. Baiknya Engkoh. Beliau memang terkenal dengan kedermawanannya. Hanya saja sebagian orang memandangnya sebelah mata, karena Engkoh keturunan Tionghoa. Non Muslim. Ah, ini ‘kan negara majemuk, seharusnya toleransi yang kita junjung, asalkan tidak mengganggu prinsip dan ibadah masing-masing bukan?
Peluh keringat tak aku hiraukan, asalkan anakku tak lagi dikucilkan, tak lagi mengenakan seragam kuning,”Kreok, Kreok”bunyi perutku menagih minta di isi. Aku tak pedulikan, barang-barang hampir beres tertata di gudang. Itu artinya sesuap nasi dan upah akan segera aku dapat.
“Mamat…”
“Iya Koh?”
“Ini upahmu, hanya segini yah. Kalau kau mau esok bisa kembali lagi kesini. Ambil nasimu di dapurku dan kau boleh pulang”katanya sopan.
“Terimakasih banyak Koh”kataku mengangguk.
Aku terima uang itu, Alhamdulillah.walaupun belum cukup untuk beli seragam aku harus tetap bersyukur. Nasi kotak yang aku dapat berisi lauk tempe, tahu dan kacang panjang. Aku sisihkan.untuk isteriku dan anakku di rumah. Setidaknya mereka bisa makan dengan lauk hari ini, tidak melulu dengan garam.
Aku kembali menyusuri jalan, kembali ke rumah mengambil sesuatu yang mungkin bisa aku jual. Dan ah itu dia, di rak kayu itu ada sepatu kesayangannku, hadiah dari kawan lamaku, yang aku gunakan saat melamar Lilis. Aku harus menjualnya. Demi anakku, agar tak memakai seragam kuning lagi.
“Sepatu butut gini, mau dijual lima puluh rebu Mat?”Tanya Kasmin, tetanggaku.
“Ini masih baru Kang, karak abdi pake dua kali. Baru dipakai dua kali”aku membela.
Kasmin mengerutkan dahinya,”tilu puluh rebu”
“Tambahin atuh Kang”kataku putus asa, “ini terbuat dari kulit’
“Gak bisa Mat, jual ke yang lain saja”
“Baiklah Kang, tilu puluh rebu.”
Akhirnya, sepatu itu lepas dariku. Aku harus ikhlas. Aku kembali menghitung uang dan ah cukup untuk membeli seragam walau dengan merek yang tidak terlalu terkenal.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
“Neng, Aceng mana?”tanyaku sambil menyembunyikan pelastik yang di dalamnya terdapat seragam untuknya.
“Ada Kang, lagi ngerjain PR, Akang dari mana saja?”Tanya isteriku khawatir.
Aku tak menjawabnya,aku bergegas menghampiri Aceng, “Bapak……….”panggilnya begitu melihatku.
“Aceng, bapak udah belikan seragam buat Aceng”kataku tersenyum.
“Benel?”matanya berbinar.
“Iya, ayo dicoba”aku sambil membantu mengenakan seragam di tubuh mungilnya. Seragam yang putih bersih. Tidak kuning lagi.
“Asik……asik”Aceng melonjak-lonjak gembira.
Ada rasa haru dalam dadaku, aku menoleh kesamping, isteriku tengah menghapus air matanya,”Terimakasih Kang”katanya kemudian sambil mengecup punggung tanganku tanda rasa hormat seorang isteri pada suaminya.
“Isteriku, kita masih punya mimpi. Tapi tidak sekedar bermimpi tapi mimpi-mimpi yang butuh suntikan aksi, engkau ada di belakangku, mendukungku, menyemangatiku dan mendo’akanku,Terimakasih”kataku sambil mengusap ubun-ubunnya.”Sekarang izinkan Akang mengubah nasib kita”
Isteriku menoleh,”Akang mau kemana?”ada keresahan dimatanya.
“Alhamdulillah, Akang lolos di Pabrik sepatu di Kota Bandung”kataku lega,penuh syukur.
“Akang mau tinggalkan Neng dan Aceng?”tanyanya dengan mata berembun.
Aku menggelang cepat,”Akang akan bawa kalian kesana, disana ada tempat tinggal semacam kontrakan, Aceng akan sekolah disana. Lusa kita berangkat. Neng mau?”
Isteriku mengangguk,”Tentu Kang”katanya sambil mengusap air matanya.
“Aceng akan kita sekolahkan sampai sarjana”tekadku pada diriku sendiri
“Aamiin, Insya Allah Kang”
Aceng yang merasa dirinya disebut kemudian menoleh,”Sal..jana?”
Aku dan isteriku mengangguk dan tersenyum, kemudian aku berbisik pada isteriku,”Kita sudah bermimpi Neng, maka jangan pernah remehkan mimpi kita”. Isteriku menggenggam erat tanganku,”Allah bersama kita Kang”.

Jakarta, November 2013
Bintang C-Pena

Tidak ada komentar:

Posting Komentar