Senja Berbintang
Oleh
: Ajeng Restiyani
Bagiku
waktu selalu senja, menghempaskan
keringnya langit siang, meluapkan teriknya mentari berganti kesejukan
senja dengan lembayungnya yang menawan. Langit jingga yang menggoda. Bagiku
waktu selalu senja, saat semua rasa sakit ini kukemas dengan senyum penuh kekuatan.
Dihadapanmu, waktu itu kutahu itu adalah bulan dipenghujung tahun.
Mengantarkanmu ke kota Kembang dengan segala senyum yang kupunya, bertutur
lembut pada angin, memohon agar tak pernah ada air mata yang memperlihatkan kerapuhanku. Ini kisahku tak kunjung reda oleh
luka kehilangan. Oh apakah Tuhan telah mengutukku untuk terus merapihkan
kembali serpihan hati yang selalu terkoyak? Oh apakah aku tak pantas menerima
kesejatian. Tak berhak mempertahankannya. Mengapa selalau ada yang merebut semua.
Semuanya.
“Apa
yang kamu pikirkan?”suaranya memecah heningnya taman auditorium utama kampus.
Aku
menoleh dan tersenyum lalu menggelang, “tidak ada”kataku lalu mentapnya. Yang kupikirkan adalah kata takut. Aku
takut. Akhirnya hatiku yang menjawabnya.
“Jaga diri kamu baik-baik, Kakak akan selalu
menghubungi kamu”ucapnya yakin tanpa ragu. Aku hanya mengangguk. Perih. Benarkah? Kakak akan selalu begitu? Aku
bertanya lewat tatapan mataku. Dia mengerti, hanya mengangguk. Mengacak
jilbabku, “jangan cengeng bocah pemberontak!”katanya tertawa melihat mataku mulai berkaca. Mulutku mengerucut,
“Apa kau bilang! Bocah pemberontak? “ kataku berkacak pinggang.
"Dasar
MABA gadungan!”aku menjulurkan lidah lantas berlari. Dia mengejarnya, “hei, hei
mau kemana? Bus kakak sebentar lagi datang”katanya terus berteriak. Aku
terhenti. Terhenyak. Lalu menoleh ke belakang. Menghampirinya dengan langkah
berat,“ayo”kataku mengajaknya menuju halte. Sejenak kepalaku mendongak ke langit. Duhai
senja, mangapa kali ini waktu senjaku terasa sangat menyebalkan.
“Jangan
lupa makan, yang teratur yah. Nanti magh
kamu kambuh”ucapnya sambil menyejajarkan langkahnya dengan langkahku.
“Iya,
bawel. Udah sono pergi!”kataku dengan
nada sebal.
“Ngusir?
Awas yah, kalau Kakak pulang gak akan dibawain oleh-oleh”katanya mengancam.
“Oleh-olehnya
paling juga peuyeum Bandung”aku
tertawa.
“Hahaha,
enak tahu”dia tak kalah tergelaknya.
“Jangan
nakal disana!”aku menatapnya tajam, ia mengerutkan dahinya, “Maksudnya?”
“Pura-pura
gak tahu lagi! Cewek Bandung ‘kan cantik-cantik”akhirnya aku katakan juga. Ia
diam. Diam saja. Aku jadi bingung dibuatnya, namun seketika itu tawanya
meledak-ledak, “hahahahhaha, hahaha”.
“Kenapa
sih, ada yang lucu?”tanyaku sebal
dengan tingkahnya yang memang selalu menyebalkan.
Dia
kembali diam, menarik lengan bajuku, “Heh bocah pemberontak, nama kamu tuh udah penuh di sini”katanya menunjuk dadanya. Aku
tersenyum. Tapi aku tersadar kembali, “gombal”.
Dia
kembali menarik lengan bajuku,”Lihat mata Kakak, ada kebohongan kah di sini?
Lihat Ja!”dia mengeraskan suaranya. Perlahan aku mengangkat daguku, menatap
matanya. Kemudian menunduk lagi. Aku
bingung kak.
“Ini
buat kamu”dia menyerahkan suatu benda kepadaku. Aku menerimanya, “apa ini kak?”
Dia
tersenyum penuh arti, “buka aja”
Aku
membukanya perlahan,”Boneka panda kecil?”tanyaku
Dia
menganguk, “suka ‘kan?”
Aku
menghambuskan napas berat,”enggak”jawabku enteng
“Loh
kenapa?”tanyanya
“Belinya
di pasar loak sih”kataku sambil terus
membolak-balikan boneka panda yang sebenarnya lucu itu.
“Et dah ni bocah,”logat Betawinya mulai keluar lagi,”mahal tahu
belinya”katanya sambil menjitak kepalaku.
Aku
nyengir saja, “bercanda, hehhehe”
“Jadi…
kamu suka?”
Aku
menganguk pasti.
Bus
itu pun menghampiri, dia menatapku lekat--wajahnya pucat pasi. “Kakak sakit?”
Dia
menggelang,”Kakak cuma takut, takut kehilangan kamu dek”ucapnya bergetar namun
ada nada ketulusan di sana.
Sekonyong-konyongnya
aku menahan buliran air mata dengan terus mengajaknya tertawa, “ah lebai, korban
FTV nih”aku mencoba tertawa, getir.
Dia
tersenyum menatapku lebih lekat seakan ini pertemuan terakhir,”Kakak berangkat,
do’akan supaya Kakak tenang selalu”katanya sambil menunjuk dada. Aku mengangguk
lalu tersenyum ngilu. Perkataannya terkesan ganjil di sana, tapi aku coba
menepisnya, “berangkatlah Kak”kataku sambil melepasnya ikhlas.
…
Satu
semester telah aku lewati dengan segala kehampaan di Tanah Rantau. Ingin
rasanya aku bilang: tak ada semangat. Ah, terlalu egois bila harus kukatakan
itu pada Ibu dan Bapak yang telah bersusah payah membanting tulang untuk biaya
kuliahku. Maka, dengan semangat menggelegak aku mulai menulis lagi, mencoba
peruntungan bersaing di pasar penerbitan. Pasti selalu ada jalan. Aku mulai
menyibukkan diri di kampus, aktif di beberapa organisasi---memulai dunia baru.
Sudah beberapa waktu, dia tak mengunjungiku di taman, waktu yang terus
bergulir, tak ada dia, tak ada ‘Kakak’ yang biasanya mengisi senjaku—mendengar
cerita Senja. Ah kemana dia, lama sekali di kota Kembang itu, tak rindu ‘kah?
Oh geer sekali aku ini. Terus dan
terus waktu bergulir dengan sadisnya menggilas segala keindahan asam, manis,
pahit dan segala rasa dunia perkuliahan. Kini aku tiba di penghujung
pertanggung jawaban atas segala proses yang telah dijalani, esok hari aku akan
mengikuti sidang—suatu ritme bersejarah dalam hidup. Semester delapan tepatnya
aku menyelesaikan skripsiku dengan ngos-ngosan,
bagai diburu waktu aku menyelesaikannya seperti kesetana, orang menyebutnya
“autis sementara”, masa bodohlah orang mau kata apa, yang penting satu
ambisiku: ingin cepat lulus dari kampus ini.
“Istirahatlah sebentar, tubuhmu yang
kurus itu semakin kurus”pinta Ibu lembut sambil mengusap kepalaku,”harusnya kau
pulang untuk istirahat Nak,”Ibu mengangkat daguku seraya menatapku cemas. Aku
menghela napas,”sidangku pekan depan Bu, satu minggu lagi.”
“Ya, Ibu tahu Nak, kau pulang kemari
untuk meminta do’a Ibu dan Bapakmu bukan?”tanya Ibu kembali mengelus rambutku.
Aku mengangguk dan tersenyum, “benar Bu”
“Tak perlu kau minta, Ibu dan
Bapakmu selalu mendo’a untuk anak-anaknya,”nada bicaranya selalu lembut, “tapi
Ibu khawatir dengan kesehatanmu, apakah teman-temanmu di Jakarta juga sama
sepertimu?”
“Maksud Ibu?”tanyaku kurang faham
Ibu menarik napas panjang,”ingin
cepat lulus segera” aku menoleh kearahnya menghela napas lalu kembali menatap
layar laptop, “semua mahasiswa pasti ingin cepat lulus Bu, dan aku salah
satunya”aku mencoba menjawab dengan nada yang meyakinkan.
Ibu kembali tersenyum mafhum, “tapi
alasan yang paling mendasar bukan itu ‘kan Nak?”katanya menebak, dan tebakannya
memang selalu benar—tepat sasaran. Ah Ibu!
“Apalagi Bu? Memang benar adanya,
semester delapan ‘kan sudah waktunya lulus”aku mencoba berkelit.
“Jangan kira Ibumu tak tahu, di
Kampusmu paling cepat lulus itu semester sembilan”
Aku
kembali memutar otak mencari alasan yang ideal, “aku tahu Bu, tapi aku ingin
mencoba lulus secepat mungkin, apalagi yang aku tunggu Bu? Praktek mengajar
sudah kujalani, SKSku sudah mencapai target, pengalamanku sudah lumayan, lantas
apalagi Bu? Tak ada lagi.”
“Dia?”
“Siapa Bu?”
“Orang yang selalu kau tunggu di
waktu senja”akhirnya Ibu menyampaikan juga maksud pembicaraannya dari awal
tadi.
“Aku sudah melupakannya Bu, dia cuma
masa laluku”pahit aku mengatakannya
“Selepas itu kau tak buka hati lagi
untuk lelaki lain”Ibu menerawang ke luar jendela,”Ibu khawatir Nak”
Aku menutup laptopku, menunda
pekerjaanku. Meraih tangan Ibu lembut, “tak ada yang perlu dikhawatirkan, aku
tetap Senja yang dulu Bu—anak Ibu. Tidak akan berubah”
Ibu mengelus pipiku, tersenyum
lantas memelukku. Satu bulir air mataku jatuh dipundaknya.
…
Sidang
skripsiku berjalan mulus, tanpa hambatan apa pun. Para dosen penguji,
pembimbing, dan teman-temanku mengatakan bangga atas kualitaskun menyelesaikan
skripsi dalam waktu singkat namun bermutu. Alhasil, bulan depan aku akan
diwisuda bersama sebagian teman dan kakak kelasku yang lain. Ah leganya.
“Giiiiilaaaa! Lo bener-bener gila Ja!”teriak
Riki di telingaku.
“Aku masih waras Ki,”jawabku datar
sambil terus memandangi transkip nilaiku. “Terserah
dah apa lo kate, yang penting gua bangga punya temen kaya lo, gilaa skripsi
gua aja kagak tau kapan jadinya, eh
elo udah mau wisuda aja, otak lo emang macam Pak Habibie!”Riki terus berkoar
mengguncang-guncangkan pundakku.
“Ah lebai kamu,”aku tertawa melihat
tingkahnya yang aneh dan memang selalu aneh.
“Lo emang kaku mbabro, kagak pernah gua denger lo manggil diri lo dengan sebutan
“gua”!”katanya geleng-geleng kepala,”tapi gua akui, otak lo encer banget kaya
air terjun Cilember, hahaha”Riki tertawa terbahak-bahak tanpa memperdulikan
sekelilingnya yang mulai memperhatikan tingkahnya, “Please, sekali aja lo turuti perintah gua”katanya setengah memohon.
“Apa itu Ki?”
“Lo ngomong sama gue tapi gak usah
pake “aku” saya” atau nama lo,”
“Ha?? Terus pakai apa?”tanyaku
bingung
“Pakai kata ganti “gue” atau
“gua”jawabnya tersenyum jahil
Aku mendengus, “Riki kita ini
ma…”belum sempat aku menyelesaikan bicaraku, Riki langsung memotoongnya,”kita
ini mahasiswa yang baik, kalau bicara harus sopan pakai Bahasa Indonesia yang
baik dan benar supaya enak didengar” aku bengong, “kok kamu tahu aku bakal
bicara seperti itu?” tanyaku bingung.
“Iyelah, gua tahu, empat tahun lo
suka ngulang-ngulang omongan lo yang itu, sampe
gua hapal di luar kepala ni”katanya
menunjuk jidatnya
Aku tertawa, “ah kamu Rik, dasar!”
Riki nyengir,”gue seneng bisa
temenan sama lo”katanya serius sambil melihatku sejurus kemudian.
“Iya Rik, aku juga senang,
terimakasih yah. Aku do’akan supaya skripsimu cepat selesai”aku tersenyum dan
menepuk bahunya.
“Aamiin, thank’s ya Senja, lo emang spesial buat gue”katanya tanpa sadar
Aku mengerutkan alis, “spesial?”
“Eh eh maksudnya teman paling
spesial”jawabnya gelagapan
Aku manggut-mangut saja sekilas
memperhatikan wajahnya yang mulai kemerahan seperti udang rebus. Aku mengangkat
bahu,”entahlah!”
…
Aku
memang selalu menyukai senja—dulu hingga kini, senja yang mempertemukan aku
dengannya juga memisahkan. Kini senja mulai berwarna kembali setelah beberapa
waktu yang lalu tak tampak—muram saja. Seminggu lagi aku wisuda tapi dia—yang
biasanya datang saat senja seperti tiga tahun yang lalu—mendengar tak kunjung
kelihatan sosoknya.Tapi hai tunggu dulu, itu dia—seperti biasa memakai baju
putih bersih dengan wajah suci yang cemerlang, menghampiriku di Taman ini “Kak,
aku besok diwisuda, pokoknya Kakak harus datang! Lagian Kakak kemana aja sih
selama setahun belakangan ini, tidak pernah muncul!”aku merengut menatapnya
lalu memalingkan muka menatap langit senja yang mulai membungkus petang.
Dia
hanya tersenyum,”Kakak selalu ada di sini,”
“Bohong!”
“Benar
Senja, Kakak selalu di dekat kamu, tapi kamu tak pernah menyadarinya”katanya
menatapku lembut, “lihat itu, boneka panda yang dulu Kakak berikan selalu kamu
bawa kemana-mana”
Aku
memperhatikan boneka panda pemberiannya itu dalam genggamanku—tak mengerti,”apa
hubungannya?”
“Kakak
selalu ada bersamamu,”
“Kakak
ini aneh, boneka ini benda mati! Sedangkan Kakak itu hidup”aku mulai kesal
Dia
mengelus rambutku yang kusut,”duduklah, mari kita nikmati senja bersama”
Aku
pun duduk, ingin sekali kusentuh jemarinya yang putih itu, menggenggamnya dan
takkan melepaskannya barang semenit saja, ia amat berharga. Tapi kuurungkan
niat itu, aku takut dia menepisnya, akhirnya aku hanya menatapnya—sepuasnya.
“Kak, berjanjilah kepadaku”
“Apa
itu sayang?”kini dia memanggilku dengan panggilan mesra, darahku berdesir.
“Datanglah
ke acara wisudaku nanti, minggu depan”pintaku memohon,“kehadiran Kakak amat
sangat berarti bagiku dan keluargaku”
“Kakak
akan selalu bersamamu sayang, selalu”dia tak menjawab, selalu berkata demikian.
Aku
kembali menerawang senja, “Kak?”
Dia
menoleh, matanya yang sayu—aku selalu rindu. Sungguh!
“Mengapa
Kakak selalu datang saat senja?”
“Karena
kamu Senja dan menyukai senja”
“Iya,
maksudku mengapa Kakak tak datang saat pagi, siang atau malam? Kakak juga tak
pernah datang ke rumah atau kampus, selalu saja datang ke taman ini”aku seperti
menghakiminya.
“Bagimu
waktu selalu senja bukan? Kakak ingin hadir saat waktumu saja. Waktu yang kamu
anggap itu waktu,”
“Terima
Kasih Kak,”satu bulir air mata jatuh dipipiku.
…
Acara
wisuda akan segera dimulai, aku masih menunggu seseorang. Kemana dia? Apakah dia lupa akan janjinya?batinku meratap sambil
terus memandang boneka panda kecil dalam genggaman. Aku terus termenung
diantara lalu lalang orang yang dipenuhi rasa haru dan bahagia. Sesekali aku
melambaikan tangan kearah teman-temanku yang sibuk berfoto—padahal acara belum
dimulai—mereka selalu begitu. Aku hanya geleng-geleng kepala. Sebuah tangan
lembut menyentuh pundakku, “ayo Nak masuk, acara akan segera dimulai”Ibu
menggamit tanganku.
“Iya Ibu,”aku menghela napas
berat,”tapi tunggulah sebentar, aku masih menunggu seseorang”pintaku memelas.
Ibu mengerutkan dahinya, “siapa?
Semua keluarga, sahabat dan teman-temanmu ada di sini, siapa yang kau tunggu
Senja?”
“Dia Bu”aku menjawabnya sendu hampir
tak terdengar
“MasyaAllah Nak, maksudmu Anwar?”Ibu
bertanya tak percaya
Aku mengangguk senang, “iya Bu, dia.
Kak Anwar”mataku menerawang,”dia sudah berjanji akan datang di acara wisudaku
hari ini,”aku menangkupkan tangan diwajahku,”tapi, kok dia tak kelihatan ya Bu,
apa dia lupa?”sebersit kekecewaan menaungi mataku yang mulai menggenang.
Ibu melihatku dengan wajah yang
pucat, menarik pundakku—menatapku dalam, “dengar Nak, dengar Ibu,”katanya mulai
terisak,”Anwar, tidak akan pernah datang kemari Nak, harus berapa kali Ibu
katakan lagi kepadamu, dia sudah tenang dengan dunianya, jangan kau usik dia
kalau memang kau mencintainya!”akhirnya pertahanan Ibu roboh, Ibu mengatakan
kata-kata yang tak pernah ingin kudengar semenjak tiga tahun yang lalu.
Kata-kata yang amat mengiris!
Aku terduduk lemas, semua mata
memandang kearahku dan aku tak peduli itu. Ibu merangkul pundakku—memelukku,
menenangkanku dan berbisik,”ikhlaskan dia Nak, hidupmu harus kau lanjutkan,
hari ini adalah harimu”
“Tapi dia masih hidup Bu, masih! Kak
Anwar selalu datang saat senja di taman itu, menemaniku—mendengarkan ceritaku tanpa
lelah terus tersenyum padaku”aku mencoba mengingat kejadian-kejadian mistis itu
selama empat tahun, “Bu, aku merasakan dia ada di dekatku selalu,”aku tergugu
jatuh ke lantai. Dan benar saja sekilas kulihat dia ada dikerumunan orang--menatapku
sayu seraya tersenyum, tetap memakai pakaian yang sama: baju putih bersih
dengan wajah suci yang cemerlang. Aku ingin mengahampirinya tapi ia semakin
jauh dan jauh melangkah. Meninggalkanku bersama para makhluk yang juga
mengenakkan baju putih bersih. “Kakak…”panggilku lirih.
…
Rasaku
seolah mati untuk empat tahun yang lalu—selama kuliah. Aku bekerja bagai robot,
aku tak menikmati masa-masa kuliah yang kata orang menyenangkan itu. Aku
terkungkung dalam imajinasiku sendiri dengan panorama senja—waktu yang amat
kusukai. Kini, semua sudah berlalu, aku kembali “normal”, mengikhlaskan dia,
Kak Anwarku yang kini ada dipangkuan Tuhan. Dan kini tanah yang aku pijaki
adalah tempat terjadinya tragedi menyakitkan itu. Bus itu masih tergolek di
jurang itu, tanpa bisa dievakuasi. Hanya korban-korbannya saja yang dapat
dievakuasi ke atas dan lalu diotopsi—termasuk jasad Kak Anwar diantaranya. Kini
aku ingat saat melepas dia ke kota
Kembang, dia mengatakan hal yang ganjil ketika itu, Kakak berangkat, do’akan supaya Kakak tenang selalu. Aku menggigil
jika mengingatnya. Lalu beberapa jam kemuadian, Kak Rian—sahabatnya menelponku
dan mengatakan hal yang tak pernah aku mau dengar itu, “Dengar Senja, Anwar
sudah tiada. Kamu harus percaya itu” aku meronta, menyalahkan takdir,
meyakinkan semua orang bahwa Kak Anwar masih hidup. Semenjak itu, kala senja
aku melangkah ke taman—taman dekat dia dikuburkan. Dan dia selalu ada
menemaniku dengan pakaian yang tetap sama: baju putih bersih dengan wajah suci
yang cemerlang. Dan karena itu aku menganggap ia selalu hidup hingga orang
mengatakan aku selalu berhalusinasi akut. Sepuluh tahun sudah kejadian itu
berlalu, aku mencoba berdamai dengan kenyataan, dia memang selalu hidup—hidup
dalam hati dan desiran darahku. Dia memang selalu bersamaku—karena boneka panda
kecilnya selalu aku bawa. Dia hidup akan selalu hidup di hati orang-orang yang
mencintainya. Aku menutup mataku, merasakan setiap angin senja yang
menggelitiki kalbu, membuang semua pikiran negatif—menegaskan bahwa ini adalah
hidupku yang sekarang. Hidup nyata tanpa halusinasi yang dianggap orang gila.
Tiba-tiba seseorang dengan tangan kekar tapi lembut merangkulku dari belakang,
“aku di sini sayang, akan selalu melindungimu”dia berbisik ditelingaku. Aku
membuka mataku, menoleh kebelakang lantas melepaskan rangkulannya—menatapnya
syahdu, “kau adalah hidupku, terimakasih sudah menjadi suami yang baik untukku
dan Bapak bagi anak-anak kita”aku memeluknya, merangkul pundaknya. Riki
tersenyum, “ayo kita pulang Senjaku”ajaknya.
Aku
mengangguk tersenyum, “aku Senja Berbintang”
Riki
mengerutkan alisnya,”Berbintang?”
“Bintang
itu kamu, senja selalu menyimpan cahaya kemerahan membungkus petang jadi
temaram, tapi senjaku awal permulaan hari.”
Riki
tersenyum faham, “Senja dalam hidup kita tidak akan merana lagi, sebab ia telah
memiliki bintang yang meneranginya saat malam menjelang bukan?”
Aku
mengangguk lalu mengajaknya berjalan menembus senja masa lalu. Sementara itu,
dari kejauhan aku melihat sosok dia, Kak Anwar terus menatapku lantas
mengangguk. Aku tersenyum kearahnya lalu menunjukkan bahwa aku selalu
menggenggam boneka panda kecil pemberiannya. Riki memperhatikanku,”ada apa?”
Aku
tersenyum,”Kak Anwar sedang melihat kita”
Riki
mengangguk-angguk,”tapi sayang aku tak bisa melihatnya, tolong sampaikan rasa
terimakasihku padanya karena telah percaya menitipkanmu padaku,”
Aku
terharu mendengarnya, “Kak Anwar mendengarnya kok”lantas aku melirik sosok
dia—Kak Anwar yang tengah tersenyum lalu mulai menghilang. “Selamat jalan
Kakak”aku berkata lirih.
Riki
menggamitku, menggenggam tanganku erat—meyakinkan,”ayo kita pulang sayang,
anak-anak kita sudah menunggu”
Aku
tersenyum dan melangkah bersamanya menuju istana kecil kami.
Jakarta, 21 Januari 2014
Bintang C-Pena
Tidak ada komentar:
Posting Komentar