Translate

Selasa, 21 Januari 2014

Tapi, kali ini senjaku tak boleh merana.



Senja Berbintang
Oleh : Ajeng Restiyani

Bagiku waktu selalu senja, menghempaskan  keringnya langit siang, meluapkan teriknya mentari berganti kesejukan senja dengan lembayungnya yang menawan. Langit jingga yang menggoda. Bagiku waktu selalu senja, saat semua rasa sakit ini kukemas dengan senyum penuh kekuatan. Dihadapanmu, waktu itu kutahu itu adalah bulan dipenghujung tahun. Mengantarkanmu ke kota Kembang dengan segala senyum yang kupunya, bertutur lembut pada angin, memohon agar tak pernah ada air mata yang memperlihatkan  kerapuhanku. Ini kisahku tak kunjung reda oleh luka kehilangan. Oh apakah Tuhan telah mengutukku untuk terus merapihkan kembali serpihan hati yang selalu terkoyak? Oh apakah aku tak pantas menerima kesejatian. Tak berhak mempertahankannya. Mengapa selalau ada yang merebut semua. Semuanya. 
“Apa yang kamu pikirkan?”suaranya memecah heningnya taman auditorium utama kampus.
Aku menoleh dan tersenyum lalu menggelang, “tidak ada”kataku lalu mentapnya. Yang kupikirkan adalah kata takut. Aku takut. Akhirnya hatiku yang menjawabnya.
 “Jaga diri kamu baik-baik, Kakak akan selalu menghubungi kamu”ucapnya yakin tanpa ragu. Aku hanya mengangguk. Perih. Benarkah? Kakak akan selalu begitu? Aku bertanya lewat tatapan mataku. Dia mengerti, hanya mengangguk. Mengacak jilbabku, “jangan cengeng bocah pemberontak!”katanya tertawa melihat  mataku mulai berkaca. Mulutku mengerucut, “Apa kau bilang! Bocah pemberontak? “ kataku berkacak pinggang.
"Dasar MABA gadungan!”aku menjulurkan lidah lantas berlari. Dia mengejarnya, “hei, hei mau kemana? Bus kakak sebentar lagi datang”katanya terus berteriak. Aku terhenti. Terhenyak. Lalu menoleh ke belakang. Menghampirinya dengan langkah berat,“ayo”kataku mengajaknya menuju halte. Sejenak kepalaku mendongak ke  langit. Duhai senja, mangapa kali ini waktu senjaku terasa sangat menyebalkan.
“Jangan lupa makan, yang teratur yah. Nanti magh kamu kambuh”ucapnya sambil menyejajarkan langkahnya dengan langkahku.
“Iya, bawel. Udah sono pergi!”kataku dengan nada sebal.
“Ngusir? Awas yah, kalau Kakak pulang gak akan dibawain oleh-oleh”katanya mengancam.
“Oleh-olehnya paling juga peuyeum Bandung”aku tertawa.
“Hahaha, enak tahu”dia tak kalah tergelaknya.
“Jangan nakal disana!”aku menatapnya tajam, ia mengerutkan dahinya, “Maksudnya?”
“Pura-pura gak tahu lagi! Cewek Bandung ‘kan cantik-cantik”akhirnya aku katakan juga. Ia diam. Diam saja. Aku jadi bingung dibuatnya, namun seketika itu tawanya meledak-ledak, “hahahahhaha, hahaha”.
“Kenapa sih, ada yang lucu?”tanyaku sebal dengan tingkahnya yang memang selalu menyebalkan.
Dia kembali diam, menarik lengan bajuku, “Heh bocah pemberontak, nama kamu tuh udah penuh  di sini”katanya menunjuk dadanya. Aku tersenyum. Tapi aku tersadar kembali, “gombal”.
Dia kembali menarik lengan bajuku,”Lihat mata Kakak, ada kebohongan kah di sini? Lihat Ja!”dia mengeraskan suaranya. Perlahan aku mengangkat daguku, menatap matanya. Kemudian menunduk lagi. Aku bingung kak.
“Ini buat kamu”dia menyerahkan suatu benda kepadaku. Aku menerimanya, “apa ini kak?”
Dia tersenyum penuh arti, “buka aja”
Aku membukanya perlahan,”Boneka panda kecil?”tanyaku
Dia menganguk, “suka ‘kan?”
Aku menghambuskan napas berat,”enggak”jawabku enteng
“Loh kenapa?”tanyanya
“Belinya di pasar loak sih”kataku sambil terus membolak-balikan boneka panda yang sebenarnya lucu itu.
Et dah ni bocah,”logat Betawinya mulai keluar lagi,”mahal tahu belinya”katanya sambil menjitak kepalaku.
Aku nyengir saja, “bercanda, hehhehe”
“Jadi… kamu suka?”
Aku menganguk pasti.
Bus itu pun menghampiri, dia menatapku lekat--wajahnya pucat pasi. “Kakak sakit?”
Dia menggelang,”Kakak cuma takut, takut kehilangan kamu dek”ucapnya bergetar namun ada nada ketulusan di sana.
Sekonyong-konyongnya aku menahan buliran air mata dengan terus mengajaknya tertawa, “ah lebai, korban FTV nih”aku mencoba tertawa, getir.
Dia tersenyum menatapku lebih lekat seakan ini pertemuan terakhir,”Kakak berangkat, do’akan supaya Kakak tenang selalu”katanya sambil menunjuk dada. Aku mengangguk lalu tersenyum ngilu. Perkataannya terkesan ganjil di sana, tapi aku coba menepisnya, “berangkatlah Kak”kataku sambil melepasnya ikhlas.
Satu semester telah aku lewati dengan segala kehampaan di Tanah Rantau. Ingin rasanya aku bilang: tak ada semangat. Ah, terlalu egois bila harus kukatakan itu pada Ibu dan Bapak yang telah bersusah payah membanting tulang untuk biaya kuliahku. Maka, dengan semangat menggelegak aku mulai menulis lagi, mencoba peruntungan bersaing di pasar penerbitan. Pasti selalu ada jalan. Aku mulai menyibukkan diri di kampus, aktif di beberapa organisasi---memulai dunia baru. Sudah beberapa waktu, dia tak mengunjungiku di taman, waktu yang terus bergulir, tak ada dia, tak ada ‘Kakak’ yang biasanya mengisi senjaku—mendengar cerita Senja. Ah kemana dia, lama sekali di kota Kembang itu, tak rindu ‘kah? Oh geer sekali aku ini. Terus dan terus waktu bergulir dengan sadisnya menggilas segala keindahan asam, manis, pahit dan segala rasa dunia perkuliahan. Kini aku tiba di penghujung pertanggung jawaban atas segala proses yang telah dijalani, esok hari aku akan mengikuti sidang—suatu ritme bersejarah dalam hidup. Semester delapan tepatnya aku menyelesaikan skripsiku dengan ngos-ngosan, bagai diburu waktu aku menyelesaikannya seperti kesetana, orang menyebutnya “autis sementara”, masa bodohlah orang mau kata apa, yang penting satu ambisiku: ingin cepat lulus dari kampus ini.
            “Istirahatlah sebentar, tubuhmu yang kurus itu semakin kurus”pinta Ibu lembut sambil mengusap kepalaku,”harusnya kau pulang untuk istirahat Nak,”Ibu mengangkat daguku seraya menatapku cemas. Aku menghela napas,”sidangku pekan depan Bu, satu minggu lagi.”
            “Ya, Ibu tahu Nak, kau pulang kemari untuk meminta do’a Ibu dan Bapakmu bukan?”tanya Ibu kembali mengelus rambutku. Aku mengangguk dan tersenyum, “benar Bu”
            “Tak perlu kau minta, Ibu dan Bapakmu selalu mendo’a untuk anak-anaknya,”nada bicaranya selalu lembut, “tapi Ibu khawatir dengan kesehatanmu, apakah teman-temanmu di Jakarta juga sama sepertimu?”
            “Maksud Ibu?”tanyaku kurang faham
            Ibu menarik napas panjang,”ingin cepat lulus segera” aku menoleh kearahnya menghela napas lalu kembali menatap layar laptop, “semua mahasiswa pasti ingin cepat lulus Bu, dan aku salah satunya”aku mencoba menjawab dengan nada yang meyakinkan.
            Ibu kembali tersenyum mafhum, “tapi alasan yang paling mendasar bukan itu ‘kan Nak?”katanya menebak, dan tebakannya memang selalu benar—tepat sasaran. Ah Ibu!
            “Apalagi Bu? Memang benar adanya, semester delapan ‘kan sudah waktunya lulus”aku mencoba berkelit.
            “Jangan kira Ibumu tak tahu, di Kampusmu paling cepat lulus itu semester sembilan”
Aku kembali memutar otak mencari alasan yang ideal, “aku tahu Bu, tapi aku ingin mencoba lulus secepat mungkin, apalagi yang aku tunggu Bu? Praktek mengajar sudah kujalani, SKSku sudah mencapai target, pengalamanku sudah lumayan, lantas apalagi Bu? Tak ada lagi.”
            “Dia?”
            “Siapa Bu?”
            “Orang yang selalu kau tunggu di waktu senja”akhirnya Ibu menyampaikan juga maksud pembicaraannya dari awal tadi.
            “Aku sudah melupakannya Bu, dia cuma masa laluku”pahit aku mengatakannya
            “Selepas itu kau tak buka hati lagi untuk lelaki lain”Ibu menerawang ke luar jendela,”Ibu khawatir Nak”
            Aku menutup laptopku, menunda pekerjaanku. Meraih tangan Ibu lembut, “tak ada yang perlu dikhawatirkan, aku tetap Senja yang dulu Bu—anak Ibu. Tidak akan berubah”
            Ibu mengelus pipiku, tersenyum lantas memelukku. Satu bulir air mataku jatuh dipundaknya.
Sidang skripsiku berjalan mulus, tanpa hambatan apa pun. Para dosen penguji, pembimbing, dan teman-temanku mengatakan bangga atas kualitaskun menyelesaikan skripsi dalam waktu singkat namun bermutu. Alhasil, bulan depan aku akan diwisuda bersama sebagian teman dan kakak kelasku yang lain. Ah leganya.
            “Giiiiilaaaa! Lo bener-bener gila Ja!”teriak Riki di telingaku.
            “Aku masih waras Ki,”jawabku datar sambil terus memandangi transkip nilaiku.    “Terserah dah apa lo kate, yang penting gua bangga punya temen kaya lo, gilaa skripsi gua aja kagak tau kapan jadinya, eh elo udah mau wisuda aja, otak lo emang macam Pak Habibie!”Riki terus berkoar mengguncang-guncangkan pundakku.
            “Ah lebai kamu,”aku tertawa melihat tingkahnya yang aneh dan memang selalu aneh.
            “Lo emang kaku mbabro, kagak pernah gua denger lo manggil diri lo dengan sebutan “gua”!”katanya geleng-geleng kepala,”tapi gua akui, otak lo encer banget kaya air terjun Cilember, hahaha”Riki tertawa terbahak-bahak tanpa memperdulikan sekelilingnya yang mulai memperhatikan tingkahnya, “Please, sekali aja lo turuti perintah gua”katanya setengah memohon.
            “Apa itu Ki?”
            “Lo ngomong sama gue tapi gak usah pake “aku” saya” atau nama lo,”
            “Ha?? Terus pakai apa?”tanyaku bingung
            “Pakai kata ganti “gue” atau “gua”jawabnya tersenyum jahil
            Aku mendengus, “Riki kita ini ma…”belum sempat aku menyelesaikan bicaraku, Riki langsung memotoongnya,”kita ini mahasiswa yang baik, kalau bicara harus sopan pakai Bahasa Indonesia yang baik dan benar supaya enak didengar” aku bengong, “kok kamu tahu aku bakal bicara seperti itu?” tanyaku bingung.
            “Iyelah, gua tahu, empat tahun lo suka ngulang-ngulang omongan lo yang itu, sampe gua hapal di luar kepala ni”katanya menunjuk jidatnya
            Aku tertawa, “ah kamu Rik, dasar!”
            Riki nyengir,”gue seneng bisa temenan sama lo”katanya serius sambil melihatku sejurus kemudian.
            “Iya Rik, aku juga senang, terimakasih yah. Aku do’akan supaya skripsimu cepat selesai”aku tersenyum dan menepuk bahunya.
            “Aamiin, thank’s ya Senja, lo emang spesial buat gue”katanya tanpa sadar
            Aku mengerutkan alis, “spesial?”
            “Eh eh maksudnya teman paling spesial”jawabnya gelagapan
            Aku manggut-mangut saja sekilas memperhatikan wajahnya yang mulai kemerahan seperti udang rebus. Aku mengangkat bahu,”entahlah!”
Aku memang selalu menyukai senja—dulu hingga kini, senja yang mempertemukan aku dengannya juga memisahkan. Kini senja mulai berwarna kembali setelah beberapa waktu yang lalu tak tampak—muram saja. Seminggu lagi aku wisuda tapi dia—yang biasanya datang saat senja seperti tiga tahun yang lalu—mendengar tak kunjung kelihatan sosoknya.Tapi hai tunggu dulu, itu dia—seperti biasa memakai baju putih bersih dengan wajah suci yang cemerlang, menghampiriku di Taman ini “Kak, aku besok diwisuda, pokoknya Kakak harus datang! Lagian Kakak kemana aja sih selama setahun belakangan ini, tidak pernah muncul!”aku merengut menatapnya lalu memalingkan muka menatap langit senja yang mulai membungkus petang.
Dia hanya tersenyum,”Kakak selalu ada di sini,”
“Bohong!”
“Benar Senja, Kakak selalu di dekat kamu, tapi kamu tak pernah menyadarinya”katanya menatapku lembut, “lihat itu, boneka panda yang dulu Kakak berikan selalu kamu bawa kemana-mana”
Aku memperhatikan boneka panda pemberiannya itu dalam genggamanku—tak mengerti,”apa hubungannya?”
“Kakak selalu ada bersamamu,”
“Kakak ini aneh, boneka ini benda mati! Sedangkan Kakak itu hidup”aku mulai kesal
Dia mengelus rambutku yang kusut,”duduklah, mari kita nikmati senja bersama”
Aku pun duduk, ingin sekali kusentuh jemarinya yang putih itu, menggenggamnya dan takkan melepaskannya barang semenit saja, ia amat berharga. Tapi kuurungkan niat itu, aku takut dia menepisnya, akhirnya aku hanya menatapnya—sepuasnya. “Kak, berjanjilah kepadaku”
“Apa itu sayang?”kini dia memanggilku dengan panggilan mesra, darahku berdesir.
“Datanglah ke acara wisudaku nanti, minggu depan”pintaku memohon,“kehadiran Kakak amat sangat berarti bagiku dan keluargaku”
“Kakak akan selalu bersamamu sayang, selalu”dia tak menjawab, selalu berkata demikian.
Aku kembali menerawang senja, “Kak?”
Dia menoleh, matanya yang sayu—aku selalu rindu. Sungguh!
“Mengapa Kakak selalu datang saat senja?”
“Karena kamu Senja dan menyukai senja”
“Iya, maksudku mengapa Kakak tak datang saat pagi, siang atau malam? Kakak juga tak pernah datang ke rumah atau kampus, selalu saja datang ke taman ini”aku seperti menghakiminya.
“Bagimu waktu selalu senja bukan? Kakak ingin hadir saat waktumu saja. Waktu yang kamu anggap itu waktu,”
“Terima Kasih Kak,”satu bulir air mata jatuh dipipiku.

Acara wisuda akan segera dimulai, aku masih menunggu seseorang. Kemana dia? Apakah dia lupa akan janjinya?batinku meratap sambil terus memandang boneka panda kecil dalam genggaman. Aku terus termenung diantara lalu lalang orang yang dipenuhi rasa haru dan bahagia. Sesekali aku melambaikan tangan kearah teman-temanku yang sibuk berfoto—padahal acara belum dimulai—mereka selalu begitu. Aku hanya geleng-geleng kepala. Sebuah tangan lembut menyentuh pundakku, “ayo Nak masuk, acara akan segera dimulai”Ibu menggamit tanganku.
            “Iya Ibu,”aku menghela napas berat,”tapi tunggulah sebentar, aku masih menunggu seseorang”pintaku memelas.
            Ibu mengerutkan dahinya, “siapa? Semua keluarga, sahabat dan teman-temanmu ada di sini, siapa yang kau tunggu Senja?”
            “Dia Bu”aku menjawabnya sendu hampir tak terdengar
            “MasyaAllah Nak, maksudmu Anwar?”Ibu bertanya tak percaya
            Aku mengangguk senang, “iya Bu, dia. Kak Anwar”mataku menerawang,”dia sudah berjanji akan datang di acara wisudaku hari ini,”aku menangkupkan tangan diwajahku,”tapi, kok dia tak kelihatan ya Bu, apa dia lupa?”sebersit kekecewaan menaungi mataku yang mulai menggenang.
            Ibu melihatku dengan wajah yang pucat, menarik pundakku—menatapku dalam, “dengar Nak, dengar Ibu,”katanya mulai terisak,”Anwar, tidak akan pernah datang kemari Nak, harus berapa kali Ibu katakan lagi kepadamu, dia sudah tenang dengan dunianya, jangan kau usik dia kalau memang kau mencintainya!”akhirnya pertahanan Ibu roboh, Ibu mengatakan kata-kata yang tak pernah ingin kudengar semenjak tiga tahun yang lalu. Kata-kata yang amat mengiris!
            Aku terduduk lemas, semua mata memandang kearahku dan aku tak peduli itu. Ibu merangkul pundakku—memelukku, menenangkanku dan berbisik,”ikhlaskan dia Nak, hidupmu harus kau lanjutkan, hari ini adalah harimu”
            “Tapi dia masih hidup Bu, masih! Kak Anwar selalu datang saat senja di taman itu, menemaniku—mendengarkan ceritaku tanpa lelah terus tersenyum padaku”aku mencoba mengingat kejadian-kejadian mistis itu selama empat tahun, “Bu, aku merasakan dia ada di dekatku selalu,”aku tergugu jatuh ke lantai. Dan benar saja sekilas kulihat dia ada dikerumunan orang--menatapku sayu seraya tersenyum, tetap memakai pakaian yang sama: baju putih bersih dengan wajah suci yang cemerlang. Aku ingin mengahampirinya tapi ia semakin jauh dan jauh melangkah. Meninggalkanku bersama para makhluk yang juga mengenakkan baju putih bersih. “Kakak…”panggilku lirih.
Rasaku seolah mati untuk empat tahun yang lalu—selama kuliah. Aku bekerja bagai robot, aku tak menikmati masa-masa kuliah yang kata orang menyenangkan itu. Aku terkungkung dalam imajinasiku sendiri dengan panorama senja—waktu yang amat kusukai. Kini, semua sudah berlalu, aku kembali “normal”, mengikhlaskan dia, Kak Anwarku yang kini ada dipangkuan Tuhan. Dan kini tanah yang aku pijaki adalah tempat terjadinya tragedi menyakitkan itu. Bus itu masih tergolek di jurang itu, tanpa bisa dievakuasi. Hanya korban-korbannya saja yang dapat dievakuasi ke atas dan lalu diotopsi—termasuk jasad Kak Anwar diantaranya. Kini aku ingat saat  melepas dia ke kota Kembang, dia mengatakan hal yang ganjil ketika itu, Kakak berangkat, do’akan supaya Kakak tenang selalu. Aku menggigil jika mengingatnya. Lalu beberapa jam kemuadian, Kak Rian—sahabatnya menelponku dan mengatakan hal yang tak pernah aku mau dengar itu, “Dengar Senja, Anwar sudah tiada. Kamu harus percaya itu” aku meronta, menyalahkan takdir, meyakinkan semua orang bahwa Kak Anwar masih hidup. Semenjak itu, kala senja aku melangkah ke taman—taman dekat dia dikuburkan. Dan dia selalu ada menemaniku dengan pakaian yang tetap sama: baju putih bersih dengan wajah suci yang cemerlang. Dan karena itu aku menganggap ia selalu hidup hingga orang mengatakan aku selalu berhalusinasi akut. Sepuluh tahun sudah kejadian itu berlalu, aku mencoba berdamai dengan kenyataan, dia memang selalu hidup—hidup dalam hati dan desiran darahku. Dia memang selalu bersamaku—karena boneka panda kecilnya selalu aku bawa. Dia hidup akan selalu hidup di hati orang-orang yang mencintainya. Aku menutup mataku, merasakan setiap angin senja yang menggelitiki kalbu, membuang semua pikiran negatif—menegaskan bahwa ini adalah hidupku yang sekarang. Hidup nyata tanpa halusinasi yang dianggap orang gila. Tiba-tiba seseorang dengan tangan kekar tapi lembut merangkulku dari belakang, “aku di sini sayang, akan selalu melindungimu”dia berbisik ditelingaku. Aku membuka mataku, menoleh kebelakang lantas melepaskan rangkulannya—menatapnya syahdu, “kau adalah hidupku, terimakasih sudah menjadi suami yang baik untukku dan Bapak bagi anak-anak kita”aku memeluknya, merangkul pundaknya. Riki tersenyum, “ayo kita pulang Senjaku”ajaknya.
Aku mengangguk tersenyum, “aku Senja Berbintang”
Riki mengerutkan alisnya,”Berbintang?”
“Bintang itu kamu, senja selalu menyimpan cahaya kemerahan membungkus petang jadi temaram, tapi senjaku awal permulaan hari.”
Riki tersenyum faham, “Senja dalam hidup kita tidak akan merana lagi, sebab ia telah memiliki bintang yang meneranginya saat malam menjelang bukan?”
Aku mengangguk lalu mengajaknya berjalan menembus senja masa lalu. Sementara itu, dari kejauhan aku melihat sosok dia, Kak Anwar terus menatapku lantas mengangguk. Aku tersenyum kearahnya lalu menunjukkan bahwa aku selalu menggenggam boneka panda kecil pemberiannya. Riki memperhatikanku,”ada apa?”
Aku tersenyum,”Kak Anwar sedang melihat kita”
Riki mengangguk-angguk,”tapi sayang aku tak bisa melihatnya, tolong sampaikan rasa terimakasihku padanya karena telah percaya menitipkanmu padaku,”
Aku terharu mendengarnya, “Kak Anwar mendengarnya kok”lantas aku melirik sosok dia—Kak Anwar yang tengah tersenyum lalu mulai menghilang. “Selamat jalan Kakak”aku berkata lirih.
Riki menggamitku, menggenggam tanganku erat—meyakinkan,”ayo kita pulang sayang, anak-anak kita sudah menunggu”
Aku tersenyum dan melangkah bersamanya menuju istana kecil kami.


Jakarta, 21 Januari 2014

Bintang C-Pena


           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar