Pelangi
Cinta
Oleh
: Ajeng Restiyani
Malam
ini, langit tak berbintang lagi. Hanya bulan yang selalu setia di
peraduannya memberi sedikit cahaya di
gelapnya langit jagat raya. Sunyi dan sepi senyap mungkin cocok untuk keadaan
malam ini, sesekali suara jangkrik atau binatang kecil memecah kesunyian, Sedikit
meramaikan suasana yang mencekam. Aku sendiri duduk termenung di halaman
belakang rumahku menatap kosong kedepan kebun biotik kepunyaan ayahku. Sambil
sesekali menoleh ke arah kolam renang yang tenang.
Entah
berapa lama aku duduk disini, halaman belakang rumahku yang sejuk ini memang
tempat favoritku kala suntuk. Duduk sendiri sambil bertopang dagu menatap
langit hitam. Aku tersenyum menatap bulan yang terang, Namun senyumku pudar
saat tak kutemukan bintang disana. Tapi aku yakin dia ada dan selalu bercahaya
walau tak terlihat. seperti Pelangi sahabatku, sekaligus orang yang kukagumi
sedari dulu. Tapi, aku belum juga punya nyali untuk menyingkap semuanya.
Kuambil
gitar yang dari tadi kubiarkan tergeletak di meja samping kursi tempat aku
duduk. Dengan malas kupetik beberapa senar tanpa aku bernyanyi. Pikirku
melayang entah ke negeri mana aku sadar. Tiba-tiba handphoneku berdering bunyi standar nada dering mengagetkanku dan
membuat aku kembali sadar ke dunia nyata.
1 Pesan baru
..Pelangi J
Aku
tersenyum saat membaca layar LCD handponeku.
Segera kubuka SMS dari pelangi.
Malem Al, J lg apa?? Lg mikirin aku yah.! Hehehe. Oh ia! Aku pnya
tmn bru loh Cantik bgt, eits gak kalah cantik
dri aku lho.. hhee :D bsk aku kenlin sama kamu. Ok…!
Aku
tersenyum tipis membaca pesan singkat dari pelangi. Segera kutekan tombol Reply dan mulai mengetikan sesuatu.
Malem jga plangi :p.. ko tau sih klo
aku lgi mikirin kamu. Hehe XD. Ook…!
Setelah
mengetikan beberapa buah kata langsung ku tekan send. Tak lama kemudian handphoneku berdering lagi.
See you. J
Aku
geleng-geleng kepala, Pelangi kamu memang
gak pernah berubah selalu membuat aku tersenyum,batinku.
….
Sudah
dua puluh menit lebih seperempat aku duduk di taman komplek, tapi orang yang
kutunggu belum juga menampakan batang hidungnya. Dimana pelangi? Kesal juga
menunggu sendiri disini. Tapi kuputuskan untuk menunggunya. Tak bisa kupungkiri
aku memang merindukannya. Sudah hampir
satu bulan aku tak bertemu dengannya semenjak lulus SMA. Kebetulan kami tidak
satu universitas, jadi, aku dan pelangi tak punya banyak waktu untuk sekedar
curhat seperti kebiasaan kami dulu.
Aku
memandang sekeliling taman, terbayang kenangan waktu kecil dengan pelangi. Ya,
pelangi. Dia sahabat kecilku sampai sekarang. Pelangi yang ceria, samangat,
penuh tawa. Tapi entah mengapa aku selalu menganggap ia lemah dan rapuh. Mungkin karena tubuhnya yang
mungil juga wajahnya yang putih pucat. Semenjak SMP aku telah menaruh hati
padanya bukan hanya sekedar sebagai sahabat tapi sebagai first love pada sahabatku
sendiri.
Aku
kembali melirik jam di tanganku. Sudah setengah jam ternyata, tapi kenapa
pelangi belum datang juga. Aku menoleh kanan kiri tiba-tiba mataku menangkap dua gadis kurus
disana. Yang satu memakai baju pink dengan celana jeans standar itu pasti
pelangi gadis kecilku, dia terlihat melambaikan tangan ke arahku. Aku tersenyum
dan membalas lambaian tangannya. Dan satu lagi gadis di sebelah pelangi dia
memakai baju berwarna biru muda dengan celana jeans. Itu pasti teman baru pelangi
yang ingin ia kenalkan padaku.
“Aldi….!’’panggil
pelangi menghampiriku
Aku
tersenyum manis ke arahnya, ’Telat!’’ kataku pura-pura marah.
Pelangi
tersenyum manja,‘’maaf ya aldi, tadi di kampus masih ada kelas’’
‘’Maaf!!!
Ada syaratnya donk…’’candaku
‘’Iya,iya
aku traktir ice cream nanti’’ucap pelangi
cemberut
Aku
tertawa geli,‘’bercanda!’’sanggahku sambil mengangkat jari telunjuk dan jari
tengah membentuk hurup V
“Huuuh,
dasar kamu’’pelangi memukul lembut perutku
Aku
hanya tertawa.
‘’Oh
iya Al, ini teman baruku di kampus namanya Jasmine’’kata pelangi sambil
menunjuk gadis di sampingnya itu.
‘’Jes,
ini Aldi sahabat kecilku. Yang sering aku ceritakan itu lho!’’ ucap Pelangi
pada Jasmine sambil mata mengerling nakal.
Aku
sedikit curiga.‘’hai, aku Aldi’’kataku sambil mengulurkan tangan ke arahnya
Jasmine
menyambut uluran tanganku, ‘’hai aldi, aku Jasmine teman satu fakultas Pelangi’’katanya.
‘’Oh
iya aku udah tau kok’’ucapku ramah
Jasmine
tampak menatapku lekat penuh arti dan tanda tanya besar.’’hm, kenapa? Ada yang
aneh sama penampilan aku atau ada noda di mukaku?’’tanyaku yang membuat jasmine
tergagap dan sadar
‘’Oh
nggak kok, gak apa-apa!’’elaknya
Aku
mengangguk-angguk sambil membulatkan bibirku, ‘’oh’’
Tiba-tiba
pelangi tetawa geli. ‘’hahahaha, biasa jes si aldi orangnya emang kaya gitu
kegeeran tingkat tinggi!’’
Mataku
melotot, ‘’yee..biarin kali!’’aku menjulurkan lidah
Pelangi
membalasnya dengan hal yang sama menjulurkan lidah ke arahku membuat aku
semakin gemas.
Kulihat
Jasmine hanya tersenyum dikulum.
….
Aku
melangkah keluar, menuju halaman belakang rumahku. Seperti biasa duduk sambil
menatap langit yang semakin kelam. Kuraih agenda kecilku yang ada di kantung
celana. dan sedikit mencoret-coret isinya. Bercerita tentang hari-hariku, kisah
cintaku yang kian hari semakin menusuk.
22 Juli 2011…
Dear diary…
HM,, aku bingung ry! Sama perasaanku sendiri. Apa salah aku
memendam perasaan sama sahabatku sendiri yaitu PELANGI. Ngga kan? Siapa bissa
tebak coba perasaan seseorang. Hhh… semoga
gak ada yang tau tentang semua inii….
Love you pelangi…
‘’Pelangi cinta’’
‘’Pelangi
cinta’’ kalimat itu kutuliskan terakhir sebelum kututup agenda. Aku menghela nafas panjang sambil meletakan
agendaku di meja samping. Tanpa kumasukan lagi ke sakuku. Tiba-tiba kantuk
menyerangku, sampai akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Tanpa sadar
agendaku masih ada di atas meja.
Buggh… aku
menjatuhkan tubuhku di atas ranjang kamar tidur. Fuih! Hari ini benar-benar
melelahkan. Badanku serasa remuk mengingat aktivitas hari ini yang lumayan
padat.
Mataku
berat menggantung, kantuk mendera ‘’huam…’’aku menguap dan bersiap untuk
memejamkan mata. Namun tiba-tiba handphoneku
berdering mengeluarkan sebuah lagu kesukaanku dari band papan atas.
Kau terindah…. Kan selalu terindah aku bisa
apa tuk memilikimu
Kau
terindah… kan selalu terindah harus bagaiamana ku mengungkapkannnya
Kau
pemilik hatiku…
Kubiarkan
saja, sampai berdering dua kali. ah!
Siapa sih, aku mendengus kesal. Terpaksa kuraih handphoneku dan melihat layar LCD.
Aku mengerutkan alis, nomor baru. Segera kutekan tombol warna hijau.
Terdengar suara salam di seberang sana, ‘’assalamualaikum…’’salamnya
‘’Waalaikumsalam’’jawabku
‘’Mmm,
maaf ini nomor Aldi bukan?’’tanyanya
‘’Iya,
siapa ni?’’jawab dan tanyaku ketus
‘’Oh
iya, ini aku jasmine al. masih ingetkan temen satu fakultas pelangi sahabat
kamu’’tuturnya
‘’Oh
iya,iya!’’jawabku tak peduli
‘’Al,
maaf yah aku ganggu, aku dapat nomor kamu dari handphone pelangi!’’jujur jasmine
‘’Gak
ganggu kok’’jawabku mulai sadar dari kantukku. Tapi pelangi tau kan?’’tanyaku
‘’Enggak
Al, maaf yah. Soalnya ada hal yang aku mau omongin sama kamu tentang
pelangi!’’nada suara Jasmine berubah serius.
Aku
langsung terkesiap begitu mendengar nama pelang di sebut, ‘’Pelangi?’’
‘’Iya
pelangi, kita bisa ketemu gak lusa nanti tapi tanpa pelangi!’’pintanya
Aku
berpikir sejenak, ada apa sebenarnya, ada
apa dengan kamu Pelangi, batinku khawatir
‘’Al…kamu
denger suara aku kan?’’tanya jasmine memastikan
‘’Eh
iya,iya, masih kok’’jawabku gelagapan.’’ok bisa, dimana?’’aku menanyakan tempat
nanti aku bertemu dengan jasmine.
‘’Di
Kafe Melati gimana?’’Jasmine meminta persetujuanku.
‘’oh!ok”aku
setuju
‘’Yaudah
ya Al, Assalamualaikum’’Jasmine mengakhiri telponnya
‘’Waalaikumsalam’’
Aku
menarik nafas panjang, dengan segelumit pertanyaan bergelayut di pikiranku hingga
mataku tak bisa terpejam sampai shubuh menjelang. Pelangi ada apa denganmu, hatiku perih.’’semoga jasmine gak membawa
kabar buruk’’hiburku. Kemudian kudengar samar-samar gema adzan berkumandang.
Segera kutunaikan shalat shubuh agar hatiku sedikit lebih tenang. Setelah aku
melakukan shalat shubuh, aku merebahkan tubuhku di tempat tidurku, tiba-tiba
kantuk menyerangku, mataku semakin mengatup dan tertidur pulas.
…
Aku
terjaga saat pintu kamarku di ketuk. ‘’Aldi bangun… ada tamu!’’teriak mama dari
luar.
Aku
mengucek-ucek mata, Tamu?? ‘’siapa ma?’’tanyaku dengan suara parau
‘’Sudah,
kamu keluar aja. Tapi mandi dulu ya’’ ucap mama, ‘’Baunya sampai kecium sampai
ke sini lho,’’celoteh mamaku tertawa sambil melangkah meninggalkan kamar.
Aku
hanya tersenyum mendengar celotehan mama. Lalu aku segera mandi.
…
‘’Pagi
Aldi….’’sapa seseorang ketika aku keluar rumah menuju halaman belakang untuk
menemui tamu yang dimaksud mama.
‘’Pelangi!’’pekikku
tertahan saat melihat siapa yang datang dan itu Pelangi!!! Aku menatapnya
sesaat, memastikan aku tidak mimpi dan ini benar. Tapi, ada apa Pelangi ini
kemari.
‘’Aldi, hey.. are you okay?’’tanya pelangi melambaikan tangannya tepat
di depan wajahku.
‘’Eh, iya. kenapa ngi!’’aku
gelagapan.
Pelangi terkekeh,‘’Aldi…Aldi pagi-pagi
udah ngelamun! Tumben jam segini baru bangun, bergadang yah?’’todongnya.
Pelangi
andai kamu tahu, aku kesiangan begini gara-gara mikirin kamu.
Cecar batinku
‘’Iya nih, semalem ada pertandingan
sepak bola. Jadilah aku bergadang.
Biasalah
anak cowok,’’ jawabku berbohong.
Pelangi mengangguk-angguk,’’oh iya al, aku bawa nasi goreng kesukaan
kamu!’’beri tahu Pelangi
sambil menunjukan kotak tempat makan yang ada
di atas meja. ‘’tapi ini spesial bikinan aku lho, maaf deh kalo gak enak,
hehe..’’
‘’Iya gak apa-apa, mana cepetan
lapeeer nih…’’aku berlagak memegang perut kelaparan,
bagiku
rasa bukan masalah asal pelangi udah mau berbaik hati memasakkan nasi goreng
spesial untuku.
‘’Iya,iya. ini buat sahabat
terbaiku!’’ucap pelangi sambil menyodorkan sepiring nasi goreng untuku.
Tak apalah jika kamu masih anggap aku
hanya sebagai sahabat terbaik.
Aku menghela nafas panjang.
‘’Enak gak Al?’’tanya Pelangi ragu di
sela-sela kunyahanku. Aku menyipitkan mataku membuat pelangi semakin gelisah.
‘’iih, aldi gimana?’’pelangi merajuk
Aku mengangguk lalu mengangkat ibu
jariku tanda top markotop. ‘’enak, makasih yah!’’aku melanjutkan kunyahanku.
Pelangi tersenyum, aku melihatnya bernafas lega penuh kemenangan.
‘’Kamu gak ngampus Al?’’tanya pelangi
sambil terus sibuk mengunyah.
‘’Nanti siang, kamu sendiri?’’tanyaku
balik. ‘’hari ini gak ada jadwal, lagi free nih!’’jawabnya sekenanya.
‘’Mmm, kalo gitu kita jalan yuk, eh
maksudnya sepedahan kaya dulu, hehe..’’aku buru-buru meralat ucapanku yang
sebenarnya itu tujuanku.
‘’Wah boleh tuh, kapan?’’tanya pelangi
sambil meletakan piringnya yang kini sudah kosong.
‘’Nanti sore, setelah aku pulang dari
kampus.’’
‘’Oke deh!’’
…
Setelah
puas berkeliling sekitar taman kota, aku dan pelangi kembali mengembalikan
sepeda sewaan ke agen peminjaman di sekitar pelataran taman kota. Agen ini
sengaja di buka untuk sekedar membuka jasa peminjaman untuk berolahraga sepeda
atau sekedar jalan-jalan sore. Setelah mengembalikan sepeda, kami beranjak ke
tempat duduk untuk sekedar istirahat sejenak.
‘’Minum Ngi’’kataku menyodorkan
sebotol air mineral.
‘’Makasih ya Al’’ucapnya sambil
membuka tutup botol lalu meminumnya.
Aku hanya mengangguk mengiyakan. Aku
sedikit curi-curi pandang ke arahnya. Sesekali ia menyeka keringat dinginnya. Wajahnya pucat sekali, aku mulai
khawatir.
‘’Ngi..!’’ucapku sambil menyentuh telapak
tangannya yang dingin. Dia menoleh kaget, ‘’apa Al?’’tanyanya bingung yang
melihat perubahan air mukaku khawatir.
‘’Pulang aja yuk!’’ajakku.‘’di sini
udaranya mulai dingin’’lanjutku.
Pelangi tampak bingung, ‘’hey, aku gak
sakit!’’ujarnya sambil tersenyum.
Aku menghela nafas, ‘’maksud aku, takut
nanti sakit.’’
‘’Hm, yaudah deh yuk!’’ajaknya tanda setuju.
Aku mengambil tempat parkir motor
ninjaku tak jauh dari tempat aku dan pelangi duduk. Setelah menstater motor aku mengajaknya untuk
naik dan mengantarkannya pulang. Di sepanjang perjalanan semua membisu, aku
jadi kikuk sendiri. Aku menatap pelangi lewat kaca spion, dia tampak menerawang
entah memikirkan apa. Aku jadi tak enak hati.
‘’Pelangi,
kamu kenapa?’’tanyaku setengah berteriak
‘’Ngga kok’.’’jawabnya singkat tanpa
ekspresi. Aku makin keki di buatnya.
…
Motorku
berhenti di depan sebuah rumah bercat hijau cerah. ‘’udah nyampe ngi!’’tegurku
lembut
‘’Makasih ya al’’ucap pelangi
seraya merapihkan rambut sebahunya.
Aku mengangguk tersenyum.
kudapati mata indah pelangi menatapku lekat, membuat aku bingung. Kenapa dia gak masuk, kenapa masih di sini.
Aku gak biasa di tatap kaya gini. Batinku berbisik. ‘’Pelangi, hey..!’’aku
melambaikan tangan di depan wajahnya. Pelangi hanya tersenyum dan terus menatapku seperti ada sesuatu.
‘’Pelangi, aku pulang dulu yah.’’aku
meminta izin. Pelangi hanya mengangguk. Aku jadi semakin bingung. Baru saja aku
akan tancap gas ketika tiba-tiba tangan pelangi menahan pergelangan tanganku.
Aku mematikan mesin. ‘’iya?’’tanyaku aneh.
Pelangi tersenyum, ‘’maaf!’’katanya.
ia menghela nafas,’’ aldi hati-hati yah, salam buat papa dan mama kamu.’’
Aku tersenyum sambil mengangguk. Lalu
kembali menyelah motor. ‘’duluan yah’’kataku sambil menancap gas. Pelangi menatap kepergianku dengan semu, aku
bisa melihatnya jelas lewat kaca spion motorku. Ada apa ini!
…
Malam
ini, aku hanya duduk santai di paviliun rumah sambil menikmati segelas teh.
Otakku masih berputar mengenang kejadian bersepeda kemarin. Hati dag dig dug itu sudah biasa mungkin
sangat terbiasa dengan kondisi ‘’PANAS DINGIN’’ terlalu berlebihan memang
itulah CINTA. kata orang cinta itu buta
tak bisa melihat siapa yang kita kagumi, siapa pun dia. Seperti aku mencintai
sahabatku sendiri. Memang tak ada yang salah dan tak ada yang bisa di salahkan.
Otakku
masih terus mencerna mengingat sesuatu, oh! Ya. Jasmine! Besok kami ada janji.
Tapi tunggu! Ini masalah pelangi. Ah. semoga semua baik-baik saja. Pikirku
kemudian.
…
Aku
mencari seseorang dari segerombolan orang di kafe ini, aku sudah tak sabar
ingin segera tahu apa yang sebenarnya terjadi. dan akhirnya aku menemukan dia.
‘’Assalamu’alaikum!’’salamku
‘’Hai jes!’’sapaku kemudian ketika
sampai di mejanya.
‘’Wa’alaikumsalam Al’’jawabnya kaget
Lalu dia menyuruhku untuk duduk,
‘’duduk al’’pintanya. Aku pun duduk, ‘’terima kasih’’
‘’Udah lama?’’tanyaku basa-basi menutupi rasa penasaranku akan berita
yang akan jasmine ceritakan.
“Enggak kok’’jawabnya sambil
tersenyum. Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis.
‘’Mau pesen apa al?’’tanya jasmine ketika
seorang waiter datang.
‘’Jus jeruk aja!’’jawabku singkat.
‘’Jus jeruk sama lemon tea ya
mbak!’’pinta jasmine. Waiter segera
mencatatnya dan berlalu.
‘’ada apa jes?’’tanyaku tanpa basa-basi
lagi.
Jasmine diam, menatap kosong ke arahku.
Aku jadi heran dan sedikit sebal ‘’hey’’kataku
‘’Ets. Maaf’’katanya gugup.
‘’So, jadi apa?’’tanyaku sekali lagi
Aku bia melihatnya jelas, air muka Jasmine
berubah serius.
‘’Aldi, kamu harus tau ini..’’kata
jasmine seraya mengambil selembar kertas resmi di dalam tasnya lalu
menyerahkannya tepat di atas telapak tanganku.
Aku jadi bingung, ‘’apa
ini?’’kataku tak mengerti
Jasmine menarik nafas panjang
mencoba menenangkan dirinya sendiri, ‘’Baca aja!’’perintahnya
Aku pun langsung membukanya
perlahan, dari kop suratnya sepertinya dari rumah sakit. Aku mulai membacanya
dengan teliti. Namun nihil isinya hanya sekedar pemberitahuan pemeriksaan.
Jasmine yang melihat raut wajahku yang tak mengerti, langsung mengambil secarik
kertas kecil lalu memberikannya kepadaku. Baru saja aku akan membacanya waiter datang membawa pesanan kami.
‘’Terima kasih!’’ucap jasmine dengan
nada lembut pada sang waiter ramah
itu.
Aku kembali membaca sebaris kalimat,
seketika itu darahku serasa berhenti, nafasku sesak, mataku panas,
kerongkonganku mendadak kering. Lemas aku menatap Jasmine mencari secuil
kebohongan di sana. Namun tak kutemukan. Aku menatapnya sekali lagi meminta
penjelasan, mata jasmine mulai berkaca-kaca dan mengiyakan.
‘’Aldi, maafin aku. Aku baru bisa
cerita sekarang..’’ucap jasmine dengan nada menyesal.
Aku
menatapnya tajam, ‘’Kenapa? Kenapa gak dari dulu jes!!’’aku benar-benar lepas
kendali.
Jasmine menunduk, ‘’aku gak boleh
cerita sama pelangi’’jawabannya meluncur begitu saja membuat hatiku semakin
sakit.
‘’Dia gak mau liat kamu sedih karena
nanti kamu bakal mikirin dia terus’’tambah jasmine masih menunduk. Jasmnine
menyentuh telapak tanganku, ‘’aldi aku mohon, kamu jangan bilang sama pelangi
kalau aku yang ngasih tau kamu!’’katanya memohon.
Aku terdiam, masih menatap nanar
isi surat dari rumah sakit itu. Ya Allah jangan biarkan pelangi menanggung
sakitnya sendiri. Jangan biarkan dia melawan penyakitnya sendiri. Beri ia
kekuatan. Sungguh! Aku tak bisa melihatnya terluka walau hanya luka kecil. Luka
kecil??? Hey, ini bukan luka kecil. Ini sangat besar.
Aku menghela nafas lalu menutup surat
itu. ‘’iya jes, aku janji!’’kata-kataku mungkin cukup membuat jasmine merasa
tenang.
Jasmine tersenyum lalu menyeka air
matanya. Sungguh sebenarnya aku pun tak kuasa menahan kepiluan. Aku mencoba tenang mencairkan suasana, ‘’dari
kapan pelangi seperti ini?’’tanyaku nyaris tak terdengar.
‘’Menurut info dari rumah sakit tiga bulan
yang lalu’’jawaban jasmine membuat aku terkesiap.
TIGA BULAN YANG LALU?? Kenapa bisa pelangi menyembunyikan
kesakitannya di depanku. Menutupi penyakit kanker otak stadium akhir. Ya Allah…
aku makin terpukul dan merasa bersalah.
‘’Dia membutuhkan kamu Al!’’ucap
jasmine lembut.
Aku mencoba tersenyum, ‘’Pasti!’’aku
menjawabnya jujur dari nurani.
…
PELANGI…
aku berteriak dalam hati di keheningan malam. Jam menunjukan pukul 02.00
pikirku kacau. Kuseret kaki ke arah
kamar mandi mengambil air wudhu untuk shalat tahajud mungkin bisa sedikit
menenangkan hatiku yang mulai tidak beres ini.
Segera
kutunaikan shalat tahajud, di akhiri dengan do’a kepedihanku :
‘’Ya Allah… aku tak mampu
melihatnya terjatuh lebih dalam lagi ke ufuk kesakitan yang dia derita. Yang
pelangi alami. Beri aku dan pelangi kekuatan menghadapi segala rintangan dalam
hidup. Sungguh, aku tak akan pernah bisa tersenyum di atas tetesan tangisnya.
Ya Allah sembuhkan pelangi dari penyakitnya. Amin…’’ aku mengusap wajahku
pelan.
Aku
terus terpekur di atas sajadah, melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an penenang
jiwa hingga shubuh menjelang.
…
Aku
menguucek-ucek mataku pelan handponeku terus bergetar. Kulihat jam di dinding
pukul 07.00. kutekan tombol hijau dan terdengar suara panik di sana.
‘’Assalamu’alaikum aldi! Al pelangi
masuk rumah sakit harapan bunda. Cepat kesini.!’’jasmine berbicara dengan cepat
dan panik.
‘’Hah? Pe la ngi …. ?’’aku terbata,
jasmine masih terdengar panik, ‘’iya al, dia masuk rumah sakit.’’penjelasan
jasmine membuat aku melempar selimut yang ada di atas kakiku. Tanpa basa-basi
aku langsung berlari ke kamar mandi tanpa berlama, kukenakan baju seadanya.
Kuraih handphone dan kunci motor yang ada di atas meja dan langsung mencari
mama dan papaku untuk meminta izin sambil memberitahukan keadaan pelangi.
Setelah itu aku langsung ke tempat parkir menyelah motor dan langsung tancap
gas di atas kecepatan seratus.
PELANGI PELANGI DAN PELANGI
sepanjang jalan aku memikirkan nama itu. Perjalanan ke rumah sakit ini sungguh
lama dirasa. Ah aku benci!
Sesampainya
di sana aku langsung menanyakan kamar pelangi ke petugas rumah sakit, setelah
tahu aku berlari sekuat tenaga dan…
Semua
orang yang ada di depan ke kamar pelangi tertunduk sambil sesenggukan. Di sana
ku dapati keluarga pelangi sambil mencoba menahan isak. ayah pelangi merangkul bunda pelangi sambil
mencoba menegarkan. Jasmine tertunduk sambil mengelap air matanya dengan tisu
yang ia pegang. juga teman-teman pelangi yang aku tidak tahu nama-namanya.
Mungkin teman satu universitasnya. Dan terakhir aku laki-laki yang sedari tadi
mematung menatap segerombol orang yang bertaburan air mata.
‘’Aldi!’’suara parau bunda
pelangi membuyarkan kebisuanku. Dia memberi kode memintaku untuk mendekat.
Semua orang menatapku tek terkecuali jasmine.
‘’Kamu sudah tau?’’tanya bunda
sambil mengelus pundakku pelan. Aku mengangguk lemah. Ayah pelangi mencoba menjelaskan
tentang kondisi pelangi dan memberi aku ketegaran jika harus kehilangannya, tak
kuasa kumenahan tangis yang tersimpan di hati yang mulai remuk.
‘’Om dan Tante terpaksa menyembunyikan
semua ini, Pelangi gak mau lihat kamu sedih’’Ayah menjelaskan. ‘’Pelangi sayang
sekali sama kamu’’tambah Bunda sambil terus menahan tangis. Aku menunduk seolah
mencari kekuatan, tapi nihil. Kekuatanku ada di dalam ruangan itu, orang yang
sedang terbaring lemah. Semua orang menatapku terlebih jasmine seolah memberi
semangat dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Aku tersenyum tipis
dan meminta izin untuk masuk ke kamar dimana Pelangi di rawat.
Ruangan
ini serasa mencekam, mencengkram separuh jiwa yang sedang melawan maut
terbaring kaku tanpa sadar aku ada di sini untuknya. Aku melangkah gontai ke
arahnya. Diam terpaku menatap gadisku melukis kesedihan menuai kasakitan.
Tuhan, andai saja aku bisa sedikit mengambil rasa sakitnya itu. Kuhela nafas
panjang-panjang dan mulai duduk di sampingnya. Lama kupandang wajah pucat
pelangi. Menggengam tangannya yang mulai mengecil. Mengusap rambutnya yang
mulai rontok. Pedih kudapati kenyataan pahit ini. Dia bukan pelangi yang ceria
lagi, tidak serewel dulu, tapi satu yang tak pernah hilang darinya yaitu
semangatnya untuk terus hidup.
Tangannya
tiba-tiba bergerak di bawah genggaman tanganku. Aku tersentak dan mengucap
syukur. Matanya mendelik ke arahku. Aku tersenyum lembut.
‘’Al..aldi!’’panggilnya dengan suara kecil tapi masih cukup terdengar. Aku
menatapnya, ‘’iya pelangi?’’aku menjawab sambil terus tersenyum menenangkan
hatinya.
‘’Aku kenapa? Kok bisa ada di sini?’’tanyanya
penuh selidik. Aku mencoba tenang, ‘’tadi shubuh kamu pingsan!’’
‘’Aldi… kamu udah tau semuanya tentang
kondisi aku yah?’’tanyanya lagi dengan suara yang mulai jelas. Dia menatap ke arah
jendela, ‘’Maafin aku, aku gak jujur. Aku gak mau liat sahabatku sedih. Cuma
itu aja!’’katanya.
‘’Sudahlah, yang penting kamu cepet
sembuh yah.’’kataku seolah semua tidak ada apa-apa.
Pelangi tersenyum, lalu mencoba untuk
bangun dan duduk. Aku membantunya dengan setulus hati. Biarlah hatiku memar
asal dirinya tak tergores.
Pelangi lalu menjulurkan tangannya
ke arah meja lalu mengambil sebuah buku kecil. Seperti agenda. Tapi tunggu itu
seperti punyaku. Aku melongo. ‘’ini memang punya kamu’’kata-kata pelangi
membuatku kaget tapi lidahku kelu seakan tak bisa berbicara. Di agenda itu
semua tentangnya. Kenapa bisa ada di tangan pelangi. Apa mamaku yang
memberikannya.
‘’Waktu aku ke rumah kamu, bawain
nasi goreng itu. aku nemu buku ini di belakang rumah kamu!’’katanya
menjelaskan, ia menghela nafas, ‘’maaf ya aku udah baca semuanya’’penjelasan
pelangi membuat wajahku seperti udang rebus. Bukan karena marah tapi menahan
malu dan kegelian. Mungkin semuanya sudah terungkap dan pelangi berhak tahu.
Aku mencoba tenang, ‘’jadi, kamu udah
tau semuanya?’’tanyaku penuh selidik.
Pelangi mengangguk dan tersenyum. Aku
memberanikan diri bertanya, ‘’jadi….?’’
Wajah pelangi yang semula ceria,
kudapati gurat kesedihan kembali mewarnai wajah pucatnya. ‘’maaf al, aku gak
bisa’’kata-kata yang begitu menohok jantungku. ‘’kenapa?’’aku meminta
penjelasan. ‘’kamu gak suka sama aku ngi?’’aku masih bertanya.
‘’Bukan! aku suka sama kamu Al, aku juga
sayang sama kamu lebih dari sahabat, ya seperti kamu!’’jawaban pelangi
membuatku tersenyum. ‘’tapi umurku udah gak lama lagi!’’pelangi meneruskan
jawabannya yang membuat aku terkulai.
Aku menatapnya tajam, menggenggam tangan
dinginnya. ‘’kamu gak boleh bilang gitu, hanya Allah yang tahu!’’aku
meyakinkan.
Pelangi melepaskan genggaman tanganku,
‘’aku tahu itu. dan aku tau apa yang terbaik buat kita’’
‘’Apa!’’tanyaku menunduk. Kulihat mata pelangi basah, ‘’apa pelangi?’’suaraku
mulai parau.
‘’Lupakan aku!’’jawaban pelangi cukup
membuatku down.
Aku menggelang, ‘’maaf aku gak
bisa!’’kataku tegas.
‘’Kamu harus bisa, ini yang terbaik
buat kamu. demi masa depan kamu al’’suara pelangi merendah.
‘’Terbaik?
Masa depan ? apa maksud kamu!’’aku masih menahan emosi,‘’Yang terbaik buat aku itu kamu, masa depan aku itu kamu!!’’
‘’Tapi sekarang situasinya beda al, yang
terbaik buat kamu itu adalah jasmine. Dia wanita pilihan buat kamu!’’suara
pelangi terdengar sendu. Berat kutahu dia mengucapkan kata-kata itu.
‘’Jasmine?’’aku belum mengerti.
‘’Iya jasmine, dia gadis yang tepat buat
kamu’’suara pelangi merendah. Belum sempat aku bicara tiba-tiba pintu luar ada
yang mengetuk.
‘’Assalamualaikum..’’salam seseorang,
jasmine ternyata. Jasmine sedikit tegang saat melihat raut wajahku dan pelangi
sedang tidak beres. ‘’eh maaf ya ganggu, yaudah aku keluar ya!’’tutur jasmine.
Nemun tiba-tiba pelangi melarangnya, ‘’jes kamu disini aja!’’pinta pelangi.
Jasmine sedikit bingung lalu akhirnya ia mengangguk juga.
Aku hanya diam, tak tau apa yang
harus di lakukan. Kulihat jasmine menggenggam lembut pergelangan tangan
pelangi, ‘’ngi gimana keadaan kamu sekarang?’’tanya jasmine.
‘’Aku gak apa-apa kok, udah
lumayan!’’jawab pelangi. Tapi aku yakin jawaban itu bertolak belakang dengan
keadaan sebenarnya. Jasmine tersenyum lega,’’hm..pasti gara-gara ada aldi
disini, iya kan? Ayo ngaku! Hehe’’jasmine mencoba mencairkan suasana.
Pelangi hanya tersenyum kulum melirik
ke arahku. Tentu saja aku kikuk di buatnya. Menit berselang semua membisu.
Ketika tiba-tiba pelangi berbicara, ‘’Jes aku mau tanya sesuatu sama kamu?’’
‘’Iya silahkan ngi?’’
‘’Kamu suka kan sama aldi?’’pertanyaan
jasmine membuat aku terkejut. ‘’aku minta kamu jawab jujur di depan aku dan
aldi, kamu gak keberatan kan?’’
Aku memberanikan diri bicara,‘’ngi apa
maksud kamu tanya kaya gitu sama jasmine?’’
‘’Nanti kamu juga tau Al!’’Pelangi menjawab
tenang.
Jasmine terdiam, sesaat ia
menatapku, ‘’aku gak tau ngi!’’jawab jasmine pelan.
‘’Jes, aku harap kamu jujur’’Pelangi
masih memaksa.
Jasmine menghela napas
panjang,’’iya, aku suka sama Aldi!’’ucap Jasmine pelan.
Hatiku bergejolak, kenapa bisa. Aku
masih bertanya-tanya.
Pelangi tersenyum, tapi aku tahu itu
senyum palsu.
Semua kembali membisu, jam di dinding
kembali berdetak saksi setiap ucapan yang terlontar.
‘’Aldi, Jasmine, kalian sahabat terbaik
yang pernah aku punya, aku pengin kita selalu bersama tapi itu gak mungkin buat
aku!’’mata pelangi mulai basah.
‘’Pelangi, kamu gak boleh gomong gitu!
Pasti kamu sembuh ngi!’’jasmine merangkul pelangi. Sedang aku tak bisa buat
apa-apa.
‘’Tapi kebersamaan itu mungkin buat kalian
berdua!’’tutur pelangi. Seketika itu jasmine melepaskan rangkulannya, ‘’maksud
kamu?’’tanya jamine.
Pelangi menarik tanganku dan tangan
jasmine lalu meletakkan di atas pangkuannya, ‘’aku punya satu permintaan buat
kalian?’’ucap pelangi tersenyum.
‘’APA?!’’aku dan Jasmine bertanya hampir
bersamaan. Jasmine terlihat bersemu merah.
Pelangi kembali tersenyum dan
menggamitkan tanganku dengan tangan jasmine, ‘’sebelum aku pergi…..’’pelangi
menggantungkan kalimatnya. Lalu Ia melanjutkan kaliamatnya, ‘’aku ingin kalian
selalu bersama walau tanpa aku!’’ucapan pelangi meluncur begitu saja.
Pelangi menghela nafas, air matanya
menetes di atas tanganku dan tangan jasmine, ‘’aku ingin kalian
bersatu’’kata-kata pelangi membuat aku terkejut.
‘’Pelangi, itu gak mungkin!’’kataku
seraya melepaskan tanganku.
‘’Iya pelangi, aldi sangat mencintai
kamu, kamu juga kan’’tambah pelangi membenarkan.
Wajah pelangi tiba-tiba terlihat pucat, ia
meringis kesakitan, ‘’Pelangi, Ngi kamu kenapa?’’aku langsung membantunya
berbaring. ‘’Jes cepat panggil dokter!’’pintaku. jasmine langsung berlari
keluar memanggil dokter. Beberapa menit kemudian dokter pun datang. ‘’sebaiknya
kalian tunggu di luar’’pinta dokter. Aku
dan jasmine melangkah keluar dengan penuh kecemasan.
Beberapa menit kemudian dokter
keluar, ‘’keluarga Pelangi..!’’panggil dokter.
Ayah dan bunda pelangi langsung datang,
‘’ada apa Dok? Apa yang terjadi sama Pelangi?’’tanya Bunda khaawatir.
Dokter menghela napas, ‘’kondisinya
memburuk, sekarang dia ingin bicara dengan Anda semua termasuk aldi dan
jasmine!’’jelas dokter.
Hatiku semakin bergetar merasakan
sesuatu buruk akan terjadi. ‘’silahkan masuk’’pinta dokter ramah.
‘’Al. Jes, ayo masuk!’’ajak ayah
pelangi. Kami pun masuk.
‘’Pelangi kamu kenapa nak, jangan
tinggalkan bunda’’bunda mendekap tubuh kecil pelangi sambil menangis. Sedang
ayah mencoba menguatkan bunda, ia memandang anaknya sedih.
‘’Bun…’’suara Pelangi sendu. ‘’iya apa
Nak?’’tanya Bunda masih menangis.
‘’Maafin Pelangi, pelangi udah gak kuat.
‘’
‘’Engga Ngi, kamu pasti kuat! Kamu bakal
sembuh’’hibur Bunda. Pelangi tersenyum,
‘’Ayah….’’ Kini ia memanggil Ayahnya. Ayahnya mendekat, ‘’iya Nak?’’
‘’Tolong jaga bunda untuk pelangi’’ucapan
pelangi membuat aku terkulai, kulihat jasmine menangis.
‘’Iya Pelangi, Ayah akan selalu menjaga
Bunda bersama kamu’’jawab Ayah mengelus lembut rambut anaknya.
‘’Aldi……’’
‘’Iya ngi?’’tak terasa aku
meneteskan air mata untuk gadis yang aku kagumi.
‘’Terima kasih udah mau jadi sahabat
setiaku, kamu akan selalu menjaga hatiku’’
Hatiku perih aku tak
menjawabnya, aku menggenggam tangannya erat. Sementara itu Ayah dan Bunda
menangis di belakangku.
‘’Jasmine,’’Pelangi meraih tangan
Jasmine. Jasmine terisak, ‘’Pelangi jangan tinggalin aku, aku mohon!’’tangisan
Jasmine pecah.
‘’Kamu gadis baik Jasmine, kamu mau
kan jaga Aldi buat aku?’’Pelangi memohon.
Jasmine menatapku, ‘’aku akan
menjaga Aldi!’’jawab Jasmine pasti.
Pelangi tersenyum mendengar
jawaban Jasmine. ‘’Aldi kamu adalah cinta sejati aku, tapi cinta sejati kamu
itu…..’’Pelangi mnggantungkan kalimatnya dan kembali menggamitkan tanganku
dengan tangan Jasmine. ‘’itu Jasmine!’’Pelangi meneruskan jawabannya.
‘’Aku ingin kalian bersatu’’ucap
pelangi.
Tak lama tangan pelangi terkulai
perlahan melepaskan genggaman tangannya.
‘’PELANGI…!’’teriak Jasmine. Sementara Pelangi
mengucap syahadat dan menghembuskan napas terakhirnya.
‘’PELANGI…!’’teriak Bunda menangis,
menangis dalam tangisan tertatih.
‘’Ini gak mungkin, ini gak
mungkin!’’aku berlari ke luar. Aku tak mampu menghadapi kenyataan ini,
‘’pelangi, gak ada yang bisa gantiin kamu’’aku berbicara sendiri. Aku tak mau
kembali ke dalam ruangan itu.
Sebulan kemudian………..
Tak
ada lagi semangat baru dalam hidupku, semua telah mati semenjak kematian
pelangi Aku seperti orang gila, oh aku memang gila! Aku tahu pelangi tak
mengharapkan aku seperti ini. Setiap sore aku ke taman komplek, tempat favorite
aku dan pelangi. Disini aku hanya melamun menunggu pelangi hadir di langit biru
dengan warna MJIKUHIBINIU. Sore ini aku kembali ke taman komplek, aku harap ada
kebahagiaan dan semangat baru. Aku menatap lurus ke jalan raya ketika tiba-tiba
jasmine menepuk pundakku. Aku terdiam. Dia tersenyum, ‘’aldi, pelangi memang
telah tiada, tapi apa kamu tahu? Dia tetap hidup di hati kita sebagai sosok
istimewa.’’ Aku menatapnya dan berkata,’’aku tahu, tapi aku gak bisa kehilangan
dia jes.” Jasmine menggenggam
tanganku,’’bukan hanya kamu yang kehilangan tapi aku juga, ayah dan bundanya,
kita semua!’’jelas jasmine. Aku merenung dalam buai angin senja, sementara itu
jasmine terus memberi semangat hidup yang semula hilang. Aku sedikit terhibur
walau pandanganku masih tetap kaku menatap jalan. Tak seperti biasanya langit
sore kali ini gelap, tak lama kemudian hujan turun. Jasmine mengajakku berteduh
ke tempat yang bisa bernaung dari hujan yang lumayan deras. Hujan berhenti
namun rintik-rintiknya masih terasa. Tiba-tiba mataku menangkap bayangan indah di
langit yang kini mulai berwarna biru cerah. Bayangan yang terlukis berwarna
merah,jingga,kuning,hijau.biru,nila dan ungu.Yah! itu Pelangi, tapi bukan
Pelangi cintaku, itu bayangan pantulan dari air yang menyebabkan warnanya
indah. ‘’lihat itu jes!’’kataku sambil menunjuk ke arah langit. Jasmine
tersenyum, ‘’iya aku tahu, pelangi sore yang selalu kamu tunggu kan dari
sebulan yang lalu?’’tebak jasmine. Aku mengangguk. Jasmine meneruskan
pembicaraannya, ‘’Pelangi yang kita kenal seperti pelangi di langit sana,
selalu memberikan warna di kehidupan kita. Dia selalu ceria menampakan warna
indah bagi yang melihatnya. Seperti pelangi itu’’tutur Jasmine sambil menunjuk
ke langit. Aku tersenyum bahagia sambil terus menatap langit. ‘’aldi, aku mohon
jangan hapus lagi senyum itu di wajah kamu yah’’kata jasmine ketika melihat aku
tersenyum lepas. Aku menatapnya. Jasmine balas menatapku dan berkata, ‘’karena
pelangi itu dan pelangi gadismu ingin melihat kamu bahagia aldi’’ucap jasmine
sambil menunjuk langit lalu menunjukku. Aku menghela nafas, ‘’aku akan
lanjutkan hidupku!’’kataku pasti. Jasmine tersenyum lega dan menggamit tanganku
melangkah pergi meninggalkan taman komplek. Dalam hati kecil aku berjanji akan
belajar mencintai jasmine demi pelangi cinta. Pelangi gadisku, pelangi yang
telah tiada, aku takkan melupakannya. Kan kurangkul semangatnya untuk semangat
hidupku yang baru bersama Jasmine.
Rangkasbitung,19
September 2011 19:55 PM
Bintang C-Pena
Tidak ada komentar:
Posting Komentar