Translate

Selasa, 21 Januari 2014

Entah ide dari mana, mungkin dari senja yang ranum sahajanya



Pelangi Cinta
Oleh : Ajeng Restiyani

Malam ini, langit tak berbintang lagi. Hanya bulan yang selalu setia di peraduannya  memberi sedikit cahaya di gelapnya langit jagat raya. Sunyi dan sepi senyap mungkin cocok untuk keadaan malam ini, sesekali suara jangkrik atau binatang kecil memecah kesunyian, Sedikit meramaikan suasana yang mencekam. Aku sendiri duduk termenung di halaman belakang rumahku menatap kosong kedepan kebun biotik kepunyaan ayahku. Sambil sesekali menoleh ke arah kolam renang yang tenang. 
Entah berapa lama aku duduk disini, halaman belakang rumahku yang sejuk ini memang tempat favoritku kala suntuk. Duduk sendiri sambil bertopang dagu menatap langit hitam. Aku tersenyum menatap bulan yang terang, Namun senyumku pudar saat tak kutemukan bintang disana. Tapi aku yakin dia ada dan selalu bercahaya walau tak terlihat. seperti Pelangi sahabatku, sekaligus orang yang kukagumi sedari dulu. Tapi, aku belum juga punya nyali untuk menyingkap semuanya.
Kuambil gitar yang dari tadi kubiarkan tergeletak di meja samping kursi tempat aku duduk. Dengan malas kupetik beberapa senar tanpa aku bernyanyi. Pikirku melayang entah ke negeri mana aku sadar. Tiba-tiba handphoneku berdering bunyi standar nada dering mengagetkanku dan membuat aku kembali sadar ke dunia nyata.
1 Pesan baru                                                       
..Pelangi J
Aku tersenyum saat membaca layar LCD handponeku. Segera kubuka SMS dari pelangi.
Malem Al, J lg apa??  Lg mikirin aku yah.! Hehehe. Oh ia! Aku pnya tmn bru loh Cantik bgt, eits gak  kalah cantik dri aku lho.. hhee :D bsk aku kenlin sama kamu. Ok…!
Aku tersenyum tipis membaca pesan singkat dari pelangi. Segera kutekan tombol Reply dan mulai mengetikan sesuatu.
Malem jga plangi :p.. ko tau sih klo aku lgi mikirin kamu. Hehe XD. Ook…!
Setelah mengetikan beberapa buah kata langsung ku tekan send.  Tak lama kemudian  handphoneku berdering lagi.
See you. J
Aku geleng-geleng kepala, Pelangi kamu memang gak pernah berubah selalu membuat aku tersenyum,batinku.
….
Sudah dua puluh menit lebih seperempat aku duduk di taman komplek, tapi orang yang kutunggu belum juga menampakan batang hidungnya. Dimana pelangi? Kesal juga menunggu sendiri disini. Tapi kuputuskan untuk menunggunya. Tak bisa kupungkiri aku memang merindukannya.  Sudah hampir satu bulan aku tak bertemu dengannya semenjak lulus SMA. Kebetulan kami tidak satu universitas, jadi, aku dan pelangi tak punya banyak waktu untuk sekedar curhat seperti kebiasaan kami dulu.
Aku memandang sekeliling taman, terbayang kenangan waktu kecil dengan pelangi. Ya, pelangi. Dia sahabat kecilku sampai sekarang. Pelangi yang ceria, samangat, penuh tawa. Tapi entah mengapa aku selalu menganggap  ia lemah dan rapuh. Mungkin karena tubuhnya yang mungil juga wajahnya yang putih pucat. Semenjak SMP aku telah menaruh hati padanya bukan hanya sekedar sebagai sahabat tapi sebagai  first love pada sahabatku sendiri.
Aku kembali melirik jam di tanganku. Sudah setengah jam ternyata, tapi kenapa pelangi belum datang juga. Aku menoleh kanan kiri  tiba-tiba mataku menangkap dua gadis kurus disana. Yang satu memakai baju pink dengan celana jeans standar itu pasti pelangi gadis kecilku, dia terlihat melambaikan tangan ke arahku. Aku tersenyum dan membalas lambaian tangannya. Dan satu lagi gadis di sebelah pelangi dia memakai baju berwarna biru muda dengan celana jeans. Itu pasti teman baru pelangi yang ingin ia kenalkan padaku.
“Aldi….!’’panggil pelangi menghampiriku
Aku tersenyum manis ke arahnya, ’Telat!’’ kataku pura-pura marah.
Pelangi tersenyum manja,‘’maaf ya aldi, tadi di kampus masih ada kelas’’
‘’Maaf!!! Ada syaratnya donk…’’candaku
‘’Iya,iya aku traktir ice cream nanti’’ucap pelangi cemberut
Aku tertawa geli,‘’bercanda!’’sanggahku sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk hurup V
“Huuuh, dasar kamu’’pelangi memukul lembut perutku
Aku hanya tertawa.
‘’Oh iya Al, ini teman baruku di kampus namanya Jasmine’’kata pelangi sambil menunjuk gadis di sampingnya itu.
‘’Jes, ini Aldi sahabat kecilku. Yang sering aku ceritakan itu lho!’’ ucap Pelangi pada Jasmine sambil mata mengerling nakal.
Aku sedikit curiga.‘’hai, aku Aldi’’kataku sambil mengulurkan tangan ke arahnya
Jasmine menyambut uluran tanganku, ‘’hai aldi, aku Jasmine teman satu fakultas Pelangi’’katanya.
‘’Oh iya aku udah tau kok’’ucapku ramah
Jasmine tampak menatapku lekat penuh arti dan tanda tanya besar.’’hm, kenapa? Ada yang aneh sama penampilan aku atau ada noda di mukaku?’’tanyaku yang membuat jasmine tergagap dan sadar
‘’Oh nggak kok, gak apa-apa!’’elaknya
Aku mengangguk-angguk sambil membulatkan bibirku, ‘’oh’’
Tiba-tiba pelangi tetawa geli. ‘’hahahaha, biasa jes si aldi orangnya emang kaya gitu kegeeran tingkat tinggi!’’
Mataku melotot, ‘’yee..biarin kali!’’aku menjulurkan lidah
Pelangi membalasnya dengan hal yang sama menjulurkan lidah ke arahku membuat aku semakin gemas.
Kulihat Jasmine hanya tersenyum dikulum.
….
Aku melangkah keluar, menuju halaman belakang rumahku. Seperti biasa duduk sambil menatap langit yang semakin kelam. Kuraih agenda kecilku yang ada di kantung celana. dan sedikit mencoret-coret isinya. Bercerita tentang hari-hariku, kisah cintaku yang kian hari semakin menusuk.
22 Juli 2011…
Dear diary…
HM,, aku bingung ry! Sama perasaanku sendiri. Apa salah aku memendam perasaan sama sahabatku sendiri yaitu PELANGI. Ngga kan? Siapa bissa tebak coba perasaan seseorang.  Hhh… semoga gak ada yang tau tentang semua inii….
Love you pelangi…

‘’Pelangi cinta’’

‘’Pelangi cinta’’ kalimat itu kutuliskan terakhir sebelum kututup agenda.  Aku menghela nafas panjang sambil meletakan agendaku di meja samping. Tanpa kumasukan lagi ke sakuku. Tiba-tiba kantuk menyerangku, sampai akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Tanpa sadar agendaku masih ada di atas meja.

Buggh… aku menjatuhkan tubuhku di atas ranjang kamar tidur. Fuih! Hari ini benar-benar melelahkan. Badanku serasa remuk mengingat aktivitas hari ini yang lumayan padat.
Mataku berat menggantung, kantuk mendera ‘’huam…’’aku menguap dan bersiap untuk memejamkan mata. Namun tiba-tiba handphoneku berdering mengeluarkan sebuah lagu kesukaanku dari band papan atas.
 Kau terindah…. Kan selalu terindah aku bisa apa tuk memilikimu
Kau terindah… kan selalu terindah harus bagaiamana ku mengungkapkannnya
Kau pemilik hatiku…
Kubiarkan saja, sampai berdering dua kali. ah! Siapa sih, aku mendengus kesal. Terpaksa kuraih handphoneku dan melihat layar LCD.  Aku mengerutkan alis, nomor baru. Segera kutekan tombol warna hijau. Terdengar suara salam di seberang sana, ‘’assalamualaikum…’’salamnya
‘’Waalaikumsalam’’jawabku
‘’Mmm, maaf ini nomor Aldi bukan?’’tanyanya
‘’Iya, siapa ni?’’jawab dan tanyaku ketus
‘’Oh iya, ini aku jasmine al. masih ingetkan temen satu fakultas pelangi sahabat kamu’’tuturnya
‘’Oh iya,iya!’’jawabku tak peduli
‘’Al, maaf yah aku ganggu, aku dapat nomor kamu dari handphone pelangi!’’jujur jasmine
‘’Gak ganggu kok’’jawabku mulai sadar dari kantukku. Tapi pelangi tau kan?’’tanyaku
‘’Enggak Al, maaf yah. Soalnya ada hal yang aku mau omongin sama kamu tentang pelangi!’’nada suara Jasmine berubah serius.
Aku langsung terkesiap begitu mendengar nama pelang di sebut, ‘’Pelangi?’’
‘’Iya pelangi, kita bisa ketemu gak lusa nanti tapi tanpa  pelangi!’’pintanya
Aku berpikir sejenak, ada apa sebenarnya, ada apa dengan kamu Pelangi, batinku khawatir
‘’Al…kamu denger suara aku kan?’’tanya jasmine memastikan
‘’Eh iya,iya, masih kok’’jawabku gelagapan.’’ok bisa, dimana?’’aku menanyakan tempat nanti aku bertemu dengan jasmine.
‘’Di Kafe Melati gimana?’’Jasmine meminta persetujuanku.
‘’oh!ok”aku setuju
‘’Yaudah ya Al, Assalamualaikum’’Jasmine mengakhiri telponnya
‘’Waalaikumsalam’’
Aku menarik nafas panjang, dengan segelumit pertanyaan bergelayut di pikiranku hingga mataku tak bisa terpejam sampai shubuh menjelang. Pelangi ada apa denganmu, hatiku perih.’’semoga jasmine gak membawa kabar buruk’’hiburku. Kemudian kudengar samar-samar gema adzan berkumandang. Segera kutunaikan shalat shubuh agar hatiku sedikit lebih tenang. Setelah aku melakukan shalat shubuh, aku merebahkan tubuhku di tempat tidurku, tiba-tiba kantuk menyerangku, mataku semakin mengatup dan tertidur pulas.
Aku terjaga saat pintu kamarku di ketuk. ‘’Aldi bangun… ada tamu!’’teriak mama dari luar.
Aku mengucek-ucek mata, Tamu?? ‘’siapa ma?’’tanyaku dengan suara parau
‘’Sudah, kamu keluar aja. Tapi mandi dulu ya’’ ucap mama, ‘’Baunya sampai kecium sampai ke sini lho,’’celoteh mamaku tertawa sambil melangkah meninggalkan kamar.
Aku hanya tersenyum mendengar celotehan mama. Lalu aku segera mandi.
‘’Pagi Aldi….’’sapa seseorang ketika aku keluar rumah menuju halaman belakang untuk menemui tamu yang dimaksud mama.
‘’Pelangi!’’pekikku tertahan saat melihat siapa yang datang dan itu Pelangi!!! Aku menatapnya sesaat, memastikan aku tidak mimpi dan ini benar. Tapi, ada apa Pelangi ini kemari.
           ‘’Aldi, hey.. are you okay?’’tanya pelangi melambaikan tangannya tepat di depan wajahku.
           ‘’Eh, iya. kenapa ngi!’’aku gelagapan.
            Pelangi terkekeh,‘’Aldi…Aldi pagi-pagi udah ngelamun! Tumben jam segini baru bangun, bergadang yah?’’todongnya.
                 Pelangi andai kamu tahu, aku kesiangan begini gara-gara mikirin kamu. Cecar batinku
            ‘’Iya nih, semalem ada pertandingan sepak bola. Jadilah aku bergadang.
Biasalah anak cowok,’’ jawabku berbohong.
            Pelangi mengangguk-angguk,’’oh iya al, aku bawa nasi goreng kesukaan kamu!’’beri tahu Pelangi
 sambil menunjukan kotak tempat makan yang ada di atas meja. ‘’tapi ini spesial bikinan aku lho, maaf deh kalo gak enak, hehe..’’
         ‘’Iya gak apa-apa, mana cepetan lapeeer nih…’’aku berlagak memegang perut kelaparan,
bagiku rasa bukan masalah asal pelangi udah mau berbaik hati memasakkan nasi goreng spesial untuku.
          ‘’Iya,iya. ini buat sahabat terbaiku!’’ucap pelangi sambil menyodorkan sepiring nasi goreng untuku.
          Tak apalah jika kamu masih anggap aku hanya sebagai sahabat terbaik.
         Aku menghela nafas panjang.
       ‘’Enak gak Al?’’tanya Pelangi ragu di sela-sela kunyahanku. Aku menyipitkan mataku membuat pelangi semakin gelisah. ‘’iih, aldi gimana?’’pelangi merajuk
         Aku mengangguk lalu mengangkat ibu jariku tanda top markotop. ‘’enak, makasih yah!’’aku melanjutkan kunyahanku. Pelangi tersenyum, aku melihatnya bernafas lega penuh kemenangan.
          ‘’Kamu gak ngampus Al?’’tanya pelangi sambil terus sibuk mengunyah.
         ‘’Nanti siang, kamu sendiri?’’tanyaku balik. ‘’hari ini gak ada jadwal, lagi  free nih!’’jawabnya sekenanya.
        ‘’Mmm, kalo gitu kita jalan yuk, eh maksudnya sepedahan kaya dulu, hehe..’’aku buru-buru meralat ucapanku yang sebenarnya itu tujuanku.
       ‘’Wah boleh tuh, kapan?’’tanya pelangi sambil meletakan piringnya yang kini sudah kosong.
       ‘’Nanti sore, setelah aku pulang dari kampus.’’
       ‘’Oke deh!’’
Setelah puas berkeliling sekitar taman kota, aku dan pelangi kembali mengembalikan sepeda sewaan ke agen peminjaman di sekitar pelataran taman kota. Agen ini sengaja di buka untuk sekedar membuka jasa peminjaman untuk berolahraga sepeda atau sekedar jalan-jalan sore. Setelah mengembalikan sepeda, kami beranjak ke tempat duduk untuk sekedar istirahat sejenak.
            ‘’Minum Ngi’’kataku menyodorkan sebotol air mineral.
          ‘’Makasih ya Al’’ucapnya sambil membuka tutup botol lalu meminumnya.
           Aku hanya mengangguk mengiyakan. Aku sedikit curi-curi pandang ke arahnya. Sesekali ia menyeka keringat  dinginnya. Wajahnya pucat sekali, aku mulai khawatir.
     ‘’Ngi..!’’ucapku sambil menyentuh telapak tangannya yang dingin. Dia menoleh kaget, ‘’apa Al?’’tanyanya bingung yang melihat perubahan air mukaku khawatir.
    ‘’Pulang aja yuk!’’ajakku.‘’di sini udaranya mulai dingin’’lanjutku. 
     Pelangi tampak bingung, ‘’hey, aku gak sakit!’’ujarnya sambil tersenyum.
    Aku menghela nafas, ‘’maksud aku, takut nanti sakit.’’
   ‘’Hm, yaudah deh yuk!’’ajaknya tanda setuju.
             Aku mengambil tempat parkir motor ninjaku tak jauh dari tempat aku dan pelangi duduk.  Setelah menstater motor aku mengajaknya untuk naik dan mengantarkannya pulang. Di sepanjang perjalanan semua membisu, aku jadi kikuk sendiri. Aku menatap pelangi lewat kaca spion, dia tampak menerawang entah memikirkan apa. Aku jadi tak enak hati.
      ‘’Pelangi, kamu kenapa?’’tanyaku setengah berteriak
      ‘’Ngga kok’.’’jawabnya singkat tanpa ekspresi. Aku makin keki di buatnya.
Motorku berhenti di depan sebuah rumah bercat hijau cerah. ‘’udah nyampe ngi!’’tegurku lembut
              ‘’Makasih ya al’’ucap pelangi seraya merapihkan rambut sebahunya.
               Aku mengangguk tersenyum. kudapati mata indah pelangi menatapku lekat, membuat aku bingung. Kenapa dia gak masuk, kenapa masih di sini. Aku gak biasa di tatap kaya gini. Batinku berbisik. ‘’Pelangi, hey..!’’aku melambaikan tangan di depan wajahnya. Pelangi hanya tersenyum  dan terus menatapku seperti ada sesuatu.
          ‘’Pelangi, aku pulang dulu yah.’’aku meminta izin. Pelangi hanya mengangguk. Aku jadi semakin bingung. Baru saja aku akan tancap gas ketika tiba-tiba tangan pelangi menahan pergelangan tanganku. Aku mematikan mesin. ‘’iya?’’tanyaku aneh.
          Pelangi tersenyum, ‘’maaf!’’katanya. ia menghela nafas,’’ aldi hati-hati yah, salam buat papa dan mama kamu.’’
           Aku tersenyum sambil mengangguk. Lalu kembali menyelah motor. ‘’duluan yah’’kataku sambil menancap gas.  Pelangi menatap kepergianku dengan semu, aku bisa melihatnya jelas lewat kaca spion motorku. Ada apa ini!

Malam ini, aku hanya duduk santai di paviliun rumah sambil menikmati segelas teh. Otakku masih berputar mengenang kejadian bersepeda kemarin. Hati dag dig dug itu sudah biasa mungkin sangat terbiasa dengan kondisi ‘’PANAS DINGIN’’ terlalu berlebihan memang itulah CINTA. kata orang cinta  itu buta tak bisa melihat siapa yang kita kagumi, siapa pun dia. Seperti aku mencintai sahabatku sendiri. Memang tak ada yang salah dan tak ada yang bisa di salahkan.
Otakku masih terus mencerna mengingat sesuatu, oh! Ya. Jasmine! Besok kami ada janji. Tapi tunggu! Ini masalah pelangi. Ah. semoga semua baik-baik saja. Pikirku kemudian.
Aku mencari seseorang dari segerombolan orang di kafe ini, aku sudah tak sabar ingin segera tahu apa yang sebenarnya terjadi. dan akhirnya aku menemukan dia.
            ‘’Assalamu’alaikum!’’salamku
           ‘’Hai jes!’’sapaku kemudian ketika sampai di mejanya.
           ‘’Wa’alaikumsalam Al’’jawabnya kaget
            Lalu dia menyuruhku untuk duduk, ‘’duduk al’’pintanya. Aku pun duduk, ‘’terima kasih’’
        ‘’Udah lama?’’tanyaku basa-basi menutupi rasa penasaranku akan berita yang akan jasmine ceritakan.
         “Enggak kok’’jawabnya sambil tersenyum. Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis.
        ‘’Mau pesen apa al?’’tanya jasmine ketika seorang waiter datang.
       ‘’Jus jeruk aja!’’jawabku singkat.
       ‘’Jus jeruk sama lemon tea ya mbak!’’pinta jasmine. Waiter segera mencatatnya dan berlalu.
      ‘’ada apa jes?’’tanyaku tanpa basa-basi lagi.
         Jasmine diam, menatap kosong ke arahku. Aku jadi heran dan sedikit sebal ‘’hey’’kataku
      ‘’Ets. Maaf’’katanya gugup.
       ‘’So, jadi apa?’’tanyaku sekali lagi
          Aku bia melihatnya jelas, air muka Jasmine berubah serius.
         ‘’Aldi, kamu harus tau ini..’’kata jasmine seraya mengambil selembar kertas resmi di dalam tasnya lalu menyerahkannya tepat di atas telapak tanganku.
            Aku jadi bingung, ‘’apa ini?’’kataku tak mengerti
           Jasmine menarik nafas panjang mencoba menenangkan dirinya sendiri, ‘’Baca aja!’’perintahnya
           Aku pun langsung membukanya perlahan, dari kop suratnya sepertinya dari rumah sakit. Aku mulai membacanya dengan teliti. Namun nihil isinya hanya sekedar pemberitahuan pemeriksaan. Jasmine yang melihat raut wajahku yang tak mengerti, langsung mengambil secarik kertas kecil lalu memberikannya kepadaku. Baru saja aku akan membacanya waiter datang membawa pesanan kami.
         ‘’Terima kasih!’’ucap jasmine dengan nada lembut pada sang waiter ramah itu.
         Aku kembali membaca sebaris kalimat, seketika itu darahku serasa berhenti, nafasku sesak, mataku panas, kerongkonganku mendadak kering. Lemas aku menatap Jasmine mencari secuil kebohongan di sana. Namun tak kutemukan. Aku menatapnya sekali lagi meminta penjelasan, mata jasmine mulai berkaca-kaca dan mengiyakan.
        ‘’Aldi, maafin aku. Aku baru bisa cerita sekarang..’’ucap jasmine dengan nada menyesal.
Aku menatapnya tajam, ‘’Kenapa? Kenapa gak dari dulu jes!!’’aku benar-benar lepas kendali.
        Jasmine menunduk, ‘’aku gak boleh cerita sama pelangi’’jawabannya meluncur begitu saja membuat hatiku semakin sakit.
      ‘’Dia gak mau liat kamu sedih karena nanti kamu bakal mikirin dia terus’’tambah jasmine masih menunduk. Jasmnine menyentuh telapak tanganku, ‘’aldi aku mohon, kamu jangan bilang sama pelangi kalau aku yang ngasih tau kamu!’’katanya memohon.
             Aku terdiam, masih menatap nanar isi surat dari rumah sakit itu. Ya Allah jangan biarkan pelangi menanggung sakitnya sendiri. Jangan biarkan dia melawan penyakitnya sendiri. Beri ia kekuatan. Sungguh! Aku tak bisa melihatnya terluka walau hanya luka kecil. Luka kecil??? Hey, ini bukan luka kecil. Ini sangat besar.
         Aku menghela nafas lalu menutup surat itu. ‘’iya jes, aku janji!’’kata-kataku mungkin cukup membuat jasmine merasa tenang.
          Jasmine tersenyum lalu menyeka air matanya. Sungguh sebenarnya aku pun tak kuasa menahan kepiluan.  Aku mencoba tenang mencairkan suasana, ‘’dari kapan pelangi seperti ini?’’tanyaku nyaris tak terdengar.
     ‘’Menurut info dari rumah sakit tiga bulan yang lalu’’jawaban jasmine membuat aku terkesiap.
              TIGA BULAN YANG LALU??  Kenapa bisa pelangi menyembunyikan kesakitannya di depanku. Menutupi penyakit kanker otak stadium akhir. Ya Allah… aku makin terpukul dan merasa bersalah.
           ‘’Dia membutuhkan kamu Al!’’ucap jasmine lembut.
           Aku mencoba tersenyum, ‘’Pasti!’’aku menjawabnya jujur dari nurani.
PELANGI… aku berteriak dalam hati di keheningan malam. Jam menunjukan pukul 02.00 pikirku kacau. Kuseret  kaki ke arah kamar mandi mengambil air wudhu untuk shalat tahajud mungkin bisa sedikit menenangkan hatiku yang mulai tidak beres ini.
Segera kutunaikan shalat tahajud, di akhiri dengan do’a kepedihanku :
            ‘’Ya Allah… aku tak mampu melihatnya terjatuh lebih dalam lagi ke ufuk kesakitan yang dia derita. Yang pelangi alami. Beri aku dan pelangi kekuatan menghadapi segala rintangan dalam hidup. Sungguh, aku tak akan pernah bisa tersenyum di atas tetesan tangisnya. Ya Allah sembuhkan pelangi dari penyakitnya. Amin…’’ aku mengusap wajahku pelan.
Aku terus terpekur di atas sajadah, melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an penenang jiwa hingga shubuh menjelang.
Aku menguucek-ucek mataku pelan handponeku terus bergetar. Kulihat jam di dinding pukul 07.00. kutekan tombol hijau dan terdengar suara panik di sana.
            ‘’Assalamu’alaikum aldi! Al pelangi masuk rumah sakit harapan bunda. Cepat kesini.!’’jasmine berbicara dengan cepat dan panik.
          ‘’Hah? Pe la ngi …. ?’’aku terbata, jasmine masih terdengar panik, ‘’iya al, dia masuk rumah sakit.’’penjelasan jasmine membuat aku melempar selimut yang ada di atas kakiku. Tanpa basa-basi aku langsung berlari ke kamar mandi tanpa berlama, kukenakan baju seadanya. Kuraih handphone dan kunci motor yang ada di atas meja dan langsung mencari mama dan papaku untuk meminta izin sambil memberitahukan keadaan pelangi. Setelah itu aku langsung ke tempat parkir menyelah motor dan langsung tancap gas di atas kecepatan seratus.
           PELANGI PELANGI DAN PELANGI sepanjang jalan aku memikirkan nama itu. Perjalanan ke rumah sakit ini sungguh lama dirasa. Ah aku benci!

Sesampainya di sana aku langsung menanyakan kamar pelangi ke petugas rumah sakit, setelah tahu aku berlari sekuat tenaga dan…
Semua orang yang ada di depan ke kamar pelangi tertunduk sambil sesenggukan. Di sana ku dapati keluarga pelangi sambil mencoba menahan isak.  ayah pelangi merangkul bunda pelangi sambil mencoba menegarkan. Jasmine tertunduk sambil mengelap air matanya dengan tisu yang ia pegang. juga teman-teman pelangi yang aku tidak tahu nama-namanya. Mungkin teman satu universitasnya. Dan terakhir aku laki-laki yang sedari tadi mematung menatap segerombol orang yang bertaburan air mata.
                ‘’Aldi!’’suara parau bunda pelangi membuyarkan kebisuanku. Dia memberi kode memintaku untuk mendekat. Semua orang menatapku tek terkecuali jasmine.
               ‘’Kamu sudah tau?’’tanya bunda sambil mengelus pundakku pelan. Aku mengangguk lemah. Ayah pelangi mencoba menjelaskan tentang kondisi pelangi dan memberi aku ketegaran jika harus kehilangannya, tak kuasa kumenahan tangis yang tersimpan di hati yang mulai remuk.
         ‘’Om dan Tante terpaksa menyembunyikan semua ini, Pelangi gak mau lihat kamu sedih’’Ayah menjelaskan. ‘’Pelangi sayang sekali sama kamu’’tambah Bunda sambil terus menahan tangis. Aku menunduk seolah mencari kekuatan, tapi nihil. Kekuatanku ada di dalam ruangan itu, orang yang sedang terbaring lemah. Semua orang menatapku terlebih jasmine seolah memberi semangat dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Aku tersenyum tipis dan meminta izin untuk masuk ke kamar dimana Pelangi di rawat.

Ruangan ini serasa mencekam, mencengkram separuh jiwa yang sedang melawan maut terbaring kaku tanpa sadar aku ada di sini untuknya. Aku melangkah gontai ke arahnya. Diam terpaku menatap gadisku melukis kesedihan menuai kasakitan. Tuhan, andai saja aku bisa sedikit mengambil rasa sakitnya itu. Kuhela nafas panjang-panjang dan mulai duduk di sampingnya. Lama kupandang wajah pucat pelangi. Menggengam tangannya yang mulai mengecil. Mengusap rambutnya yang mulai rontok. Pedih kudapati kenyataan pahit ini. Dia bukan pelangi yang ceria lagi, tidak serewel dulu, tapi satu yang tak pernah hilang darinya yaitu semangatnya untuk terus hidup.
Tangannya tiba-tiba bergerak di bawah genggaman tanganku. Aku tersentak dan mengucap syukur. Matanya mendelik ke arahku. Aku tersenyum lembut. ‘’Al..aldi!’’panggilnya dengan suara kecil tapi masih cukup terdengar. Aku menatapnya, ‘’iya pelangi?’’aku menjawab sambil terus tersenyum menenangkan hatinya.
        ‘’Aku kenapa? Kok bisa ada di sini?’’tanyanya penuh selidik. Aku mencoba tenang, ‘’tadi shubuh kamu pingsan!’’
       ‘’Aldi… kamu udah tau semuanya tentang kondisi aku yah?’’tanyanya lagi dengan suara yang mulai jelas. Dia menatap ke arah jendela, ‘’Maafin aku, aku gak jujur. Aku gak mau liat sahabatku sedih. Cuma itu aja!’’katanya.
      ‘’Sudahlah, yang penting kamu cepet sembuh yah.’’kataku seolah semua tidak ada apa-apa.
          Pelangi tersenyum, lalu mencoba untuk bangun dan duduk. Aku membantunya dengan setulus hati. Biarlah hatiku memar asal dirinya tak tergores.
             Pelangi lalu menjulurkan tangannya ke arah meja lalu mengambil sebuah buku kecil. Seperti agenda. Tapi tunggu itu seperti punyaku. Aku melongo. ‘’ini memang punya kamu’’kata-kata pelangi membuatku kaget tapi lidahku kelu seakan tak bisa berbicara. Di agenda itu semua tentangnya. Kenapa bisa ada di tangan pelangi. Apa mamaku yang memberikannya.
          ‘’Waktu aku ke rumah kamu, bawain nasi goreng itu. aku nemu buku ini di belakang rumah kamu!’’katanya menjelaskan, ia menghela nafas, ‘’maaf ya aku udah baca semuanya’’penjelasan pelangi membuat wajahku seperti udang rebus. Bukan karena marah tapi menahan malu dan kegelian. Mungkin semuanya sudah terungkap dan pelangi berhak tahu.
         Aku mencoba tenang, ‘’jadi, kamu udah tau semuanya?’’tanyaku penuh selidik.
         Pelangi mengangguk dan tersenyum. Aku memberanikan diri bertanya, ‘’jadi….?’’
        Wajah pelangi yang semula ceria, kudapati gurat kesedihan kembali mewarnai wajah pucatnya. ‘’maaf al, aku gak bisa’’kata-kata yang begitu menohok jantungku. ‘’kenapa?’’aku meminta penjelasan. ‘’kamu gak suka sama aku ngi?’’aku masih bertanya.
       ‘’Bukan! aku suka sama kamu Al, aku juga sayang sama kamu lebih dari sahabat, ya seperti kamu!’’jawaban pelangi membuatku tersenyum. ‘’tapi umurku udah gak lama lagi!’’pelangi meneruskan jawabannya yang membuat aku terkulai.
       Aku menatapnya tajam, menggenggam tangan dinginnya. ‘’kamu gak boleh bilang gitu, hanya Allah yang tahu!’’aku meyakinkan.
     Pelangi melepaskan genggaman tanganku, ‘’aku tahu itu. dan aku tau apa yang terbaik buat kita’’
     ‘’Apa!’’tanyaku menunduk.  Kulihat mata pelangi basah, ‘’apa pelangi?’’suaraku mulai parau.
      ‘’Lupakan aku!’’jawaban pelangi cukup membuatku down.
       Aku menggelang, ‘’maaf aku gak bisa!’’kataku tegas.
        ‘’Kamu harus bisa, ini yang terbaik buat kamu. demi masa depan kamu al’’suara pelangi merendah.
       ‘’Terbaik? Masa depan ? apa maksud kamu!’’aku masih menahan emosi,‘’Yang terbaik buat  aku itu kamu, masa depan aku itu kamu!!’’
     ‘’Tapi sekarang situasinya beda al, yang terbaik buat kamu itu adalah jasmine. Dia wanita pilihan buat kamu!’’suara pelangi terdengar sendu. Berat kutahu dia mengucapkan kata-kata itu.
     ‘’Jasmine?’’aku belum mengerti.
     ‘’Iya jasmine, dia gadis yang tepat buat kamu’’suara pelangi merendah. Belum sempat aku bicara tiba-tiba pintu luar ada yang mengetuk.
      ‘’Assalamualaikum..’’salam seseorang, jasmine ternyata. Jasmine sedikit tegang saat melihat raut wajahku dan pelangi sedang tidak beres. ‘’eh maaf ya ganggu, yaudah aku keluar ya!’’tutur jasmine. Nemun tiba-tiba pelangi melarangnya, ‘’jes kamu disini aja!’’pinta pelangi. Jasmine sedikit bingung lalu akhirnya ia mengangguk juga.
          Aku hanya diam, tak tau apa yang harus di lakukan. Kulihat jasmine menggenggam lembut pergelangan tangan pelangi, ‘’ngi gimana keadaan kamu sekarang?’’tanya jasmine.
        ‘’Aku gak apa-apa kok, udah lumayan!’’jawab pelangi. Tapi aku yakin jawaban itu bertolak belakang dengan keadaan sebenarnya. Jasmine tersenyum lega,’’hm..pasti gara-gara ada aldi disini, iya kan? Ayo ngaku! Hehe’’jasmine mencoba mencairkan suasana.
          Pelangi hanya tersenyum kulum melirik ke arahku. Tentu saja aku kikuk di buatnya. Menit berselang semua membisu. Ketika tiba-tiba pelangi berbicara, ‘’Jes aku mau tanya sesuatu sama kamu?’’
        ‘’Iya silahkan ngi?’’
      ‘’Kamu suka kan sama aldi?’’pertanyaan jasmine membuat aku terkejut. ‘’aku minta kamu jawab jujur di depan aku dan aldi, kamu gak keberatan kan?’’
      Aku memberanikan diri bicara,‘’ngi apa maksud kamu tanya kaya gitu sama jasmine?’’
          ‘’Nanti kamu juga tau Al!’’Pelangi menjawab tenang.
            Jasmine terdiam, sesaat ia menatapku, ‘’aku gak tau ngi!’’jawab jasmine pelan.
           ‘’Jes, aku harap kamu jujur’’Pelangi masih memaksa.
           Jasmine menghela napas panjang,’’iya, aku suka sama Aldi!’’ucap Jasmine pelan.
           Hatiku bergejolak, kenapa bisa. Aku masih bertanya-tanya.
           Pelangi tersenyum, tapi aku tahu itu senyum palsu.
          Semua kembali membisu, jam di dinding kembali berdetak saksi setiap ucapan yang terlontar.
       ‘’Aldi, Jasmine, kalian sahabat terbaik yang pernah aku punya, aku pengin kita selalu bersama tapi itu gak mungkin buat aku!’’mata pelangi mulai basah.
        ‘’Pelangi, kamu gak boleh gomong gitu! Pasti kamu sembuh ngi!’’jasmine merangkul pelangi. Sedang aku tak bisa buat apa-apa.
     ‘’Tapi kebersamaan itu mungkin buat kalian berdua!’’tutur pelangi. Seketika itu jasmine melepaskan rangkulannya, ‘’maksud kamu?’’tanya jamine.
        Pelangi menarik tanganku dan tangan jasmine lalu meletakkan di atas pangkuannya, ‘’aku punya satu permintaan buat kalian?’’ucap pelangi tersenyum.
      ‘’APA?!’’aku dan Jasmine bertanya hampir bersamaan. Jasmine terlihat bersemu merah.
         Pelangi kembali tersenyum dan menggamitkan tanganku dengan tangan jasmine, ‘’sebelum aku pergi…..’’pelangi menggantungkan kalimatnya. Lalu Ia melanjutkan kaliamatnya, ‘’aku ingin kalian selalu bersama walau tanpa aku!’’ucapan pelangi meluncur begitu saja.
         Pelangi menghela nafas, air matanya menetes di atas tanganku dan tangan jasmine, ‘’aku ingin kalian bersatu’’kata-kata pelangi membuat aku terkejut.
        ‘’Pelangi, itu gak mungkin!’’kataku seraya melepaskan tanganku.
        ‘’Iya pelangi, aldi sangat mencintai kamu, kamu juga kan’’tambah pelangi membenarkan.
              Wajah pelangi tiba-tiba terlihat pucat, ia meringis kesakitan, ‘’Pelangi, Ngi kamu kenapa?’’aku langsung membantunya berbaring. ‘’Jes cepat panggil dokter!’’pintaku. jasmine langsung berlari keluar memanggil dokter. Beberapa menit kemudian dokter pun datang. ‘’sebaiknya kalian tunggu di luar’’pinta dokter.  Aku dan jasmine melangkah keluar dengan penuh kecemasan.
                Beberapa menit kemudian dokter keluar, ‘’keluarga Pelangi..!’’panggil dokter.
             Ayah dan bunda pelangi langsung datang, ‘’ada apa Dok? Apa yang terjadi sama Pelangi?’’tanya Bunda khaawatir.
         Dokter menghela napas, ‘’kondisinya memburuk, sekarang dia ingin bicara dengan Anda semua termasuk aldi dan jasmine!’’jelas dokter.
         Hatiku semakin bergetar merasakan sesuatu buruk akan terjadi. ‘’silahkan masuk’’pinta dokter ramah.
        ‘’Al. Jes, ayo masuk!’’ajak ayah pelangi. Kami pun masuk.
          ‘’Pelangi kamu kenapa nak, jangan tinggalkan bunda’’bunda mendekap tubuh kecil pelangi sambil menangis. Sedang ayah mencoba menguatkan bunda, ia memandang anaknya sedih.
      ‘’Bun…’’suara Pelangi sendu. ‘’iya apa Nak?’’tanya Bunda masih menangis.
      ‘’Maafin Pelangi, pelangi udah gak kuat. ‘’
      ‘’Engga Ngi, kamu pasti kuat! Kamu bakal sembuh’’hibur Bunda. Pelangi tersenyum,  ‘’Ayah….’’ Kini ia memanggil Ayahnya. Ayahnya mendekat, ‘’iya Nak?’’
      ‘’Tolong jaga bunda untuk pelangi’’ucapan pelangi membuat aku terkulai, kulihat jasmine menangis.
      ‘’Iya Pelangi, Ayah akan selalu menjaga Bunda bersama kamu’’jawab Ayah mengelus lembut rambut anaknya.
       ‘’Aldi……’’
            ‘’Iya ngi?’’tak terasa aku meneteskan air mata untuk gadis yang aku kagumi.
           ‘’Terima kasih udah mau jadi sahabat setiaku, kamu akan selalu menjaga hatiku’’
               Hatiku perih aku tak menjawabnya, aku menggenggam tangannya erat. Sementara itu Ayah dan Bunda menangis di belakangku.
            ‘’Jasmine,’’Pelangi meraih tangan Jasmine. Jasmine terisak, ‘’Pelangi jangan tinggalin aku, aku mohon!’’tangisan Jasmine pecah.
          ‘’Kamu gadis baik Jasmine, kamu mau kan jaga Aldi buat aku?’’Pelangi memohon.
              Jasmine menatapku, ‘’aku akan menjaga Aldi!’’jawab Jasmine pasti.
              Pelangi tersenyum mendengar jawaban Jasmine. ‘’Aldi kamu adalah cinta sejati aku, tapi cinta sejati kamu itu…..’’Pelangi mnggantungkan kalimatnya dan kembali menggamitkan tanganku dengan tangan Jasmine. ‘’itu Jasmine!’’Pelangi meneruskan jawabannya.
        ‘’Aku ingin kalian bersatu’’ucap pelangi.
          Tak lama tangan pelangi terkulai perlahan melepaskan genggaman tangannya.
      ‘’PELANGI…!’’teriak Jasmine. Sementara Pelangi mengucap syahadat dan menghembuskan napas terakhirnya.
         ‘’PELANGI…!’’teriak Bunda menangis, menangis dalam tangisan tertatih.
         ‘’Ini gak mungkin, ini gak mungkin!’’aku berlari ke luar. Aku tak mampu menghadapi kenyataan ini, ‘’pelangi, gak ada yang bisa gantiin kamu’’aku berbicara sendiri. Aku tak mau kembali ke dalam ruangan itu.

 Sebulan kemudian………..
Tak ada lagi semangat baru dalam hidupku, semua telah mati semenjak kematian pelangi Aku seperti orang gila, oh aku memang gila! Aku tahu pelangi tak mengharapkan aku seperti ini. Setiap sore aku ke taman komplek, tempat favorite aku dan pelangi. Disini aku hanya melamun menunggu pelangi hadir di langit biru dengan warna MJIKUHIBINIU. Sore ini aku kembali ke taman komplek, aku harap ada kebahagiaan dan semangat baru. Aku menatap lurus ke jalan raya ketika tiba-tiba jasmine menepuk pundakku. Aku terdiam. Dia tersenyum, ‘’aldi, pelangi memang telah tiada, tapi apa kamu tahu? Dia tetap hidup di hati kita sebagai sosok istimewa.’’ Aku menatapnya dan berkata,’’aku tahu, tapi aku gak bisa kehilangan dia jes.”  Jasmine menggenggam tanganku,’’bukan hanya kamu yang kehilangan tapi aku juga, ayah dan bundanya, kita semua!’’jelas jasmine. Aku merenung dalam buai angin senja, sementara itu jasmine terus memberi semangat hidup yang semula hilang. Aku sedikit terhibur walau pandanganku masih tetap kaku menatap jalan. Tak seperti biasanya langit sore kali ini gelap, tak lama kemudian hujan turun. Jasmine mengajakku berteduh ke tempat yang bisa bernaung dari hujan yang lumayan deras. Hujan berhenti namun rintik-rintiknya masih terasa. Tiba-tiba mataku menangkap bayangan indah di langit yang kini mulai berwarna biru cerah. Bayangan yang terlukis berwarna merah,jingga,kuning,hijau.biru,nila dan ungu.Yah! itu Pelangi, tapi bukan Pelangi cintaku, itu bayangan pantulan dari air yang menyebabkan warnanya indah. ‘’lihat itu jes!’’kataku sambil menunjuk ke arah langit. Jasmine tersenyum, ‘’iya aku tahu, pelangi sore yang selalu kamu tunggu kan dari sebulan yang lalu?’’tebak jasmine. Aku mengangguk. Jasmine meneruskan pembicaraannya, ‘’Pelangi yang kita kenal seperti pelangi di langit sana, selalu memberikan warna di kehidupan kita. Dia selalu ceria menampakan warna indah bagi yang melihatnya. Seperti pelangi itu’’tutur Jasmine sambil menunjuk ke langit. Aku tersenyum bahagia sambil terus menatap langit. ‘’aldi, aku mohon jangan hapus lagi senyum itu di wajah kamu yah’’kata jasmine ketika melihat aku tersenyum lepas. Aku menatapnya. Jasmine balas menatapku dan berkata, ‘’karena pelangi itu dan pelangi gadismu ingin melihat kamu bahagia aldi’’ucap jasmine sambil menunjuk langit lalu menunjukku. Aku menghela nafas, ‘’aku akan lanjutkan hidupku!’’kataku pasti. Jasmine tersenyum lega dan menggamit tanganku melangkah pergi meninggalkan taman komplek. Dalam hati kecil aku berjanji akan belajar mencintai jasmine demi pelangi cinta. Pelangi gadisku, pelangi yang telah tiada, aku takkan melupakannya. Kan kurangkul semangatnya untuk semangat hidupku yang baru bersama Jasmine.
                                                                                                                                              Rangkasbitung,19 September 2011 19:55 PM
                                                                                                       Bintang C-Pena

Tidak ada komentar:

Posting Komentar